Konten dari Pengguna

Jejak Juang Pahlawan Nasional Sukabumi, KH. Ahmad Sanusi (1888-1950)

Tatang Hidayat

Tatang Hidayat

Pegiat Student Rihlah Indonesia

·waktu baca 14 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tatang Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Photo KH. Ahmad Sanusi (1942) dimuat dalam Majalah Suara Asia diterbitkan Pemerintah Balatentara Jepang juga terdapat dalam lampiran buku Risalah Sidang BPUPKI PPKI (Sumber: Asep Mukhtar Mawardi dari Khazanah Arsip Nasional RI dalam Buku Biografi KH. Ahmad Sanusi karya Dr. Munandi Saleh, M. Si).
zoom-in-whitePerbesar
Photo KH. Ahmad Sanusi (1942) dimuat dalam Majalah Suara Asia diterbitkan Pemerintah Balatentara Jepang juga terdapat dalam lampiran buku Risalah Sidang BPUPKI PPKI (Sumber: Asep Mukhtar Mawardi dari Khazanah Arsip Nasional RI dalam Buku Biografi KH. Ahmad Sanusi karya Dr. Munandi Saleh, M. Si).

KH. Ahmad Sanusi adalah ulama besar asal Sukabumi yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga berjuang di garda depan untuk kemerdekaan Indonesia. Beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional atas jasa besarnya menyatukan dakwah dan perjuangan bangsa.

A. Sejarah Hidup & Kelahiran

Lahir pada 18 September 1888 di Cantayan, Sukabumi, Ahmad Sanusi tumbuh di lingkungan pesantren yang kental. Ayahnya, K.H. Abdurrahim, merupakan pendiri Pesantren Cantayan. Sejak kecil, Ahmad Sanusi dikenal cerdas dan memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi terhadap ilmu agama. Ahmad Sanusi dibesarkan di lingkungan keluarga yang Islami di pesantren Cantayan sampai usia 16 tahunan dan belajar tentang pengetahuan agama Islam langsung kepada orang tuanya (Saleh, 2026).

Dilihat dari silsilah keluarga, Ahmad Sanusi masih keturunan Syaikh Haji Abdul Muhyi Pamijahan seorang Waliyullah yang berada di daerah Pamijahan Tasikmalaya.

B. Proses Mencari Ilmu (1905 – 1910)

Setelah menginjak usia 16 tahun lebih pada tahun 1905, Ahmad Sanusi mulai belajar serius untuk mendalami pengetahuan agama Islam. Atas anjuran ayahnya untuk lebih mendalami pengetahuan agama Islam, menambah pengalaman dan memperluas pergaulan dengan masyarakat, beliau nyantri ke berbagai pesantren yang ada di Jawa Barat.

Adapun Pesantren yang pernah beliau kunjungi, diantaranya:

1. Pesantren Selajambe (Cisaat Sukabumi) Pimpinan Ajengan Soleh/Ajengan Anwar, lamanya nyantri lebih kurang sekitar dua bulanan;

2. Pesantren Sukamantri (Cisaat Sukabumi) Pimpinan Ajengan Muhammad Siddiq, lamanya nyantri lebih kurang sekitar dua bulanan;

3. Pesantren Sukaraja (Sukaraja Sukabumi) Pimpinan Ajengan Sulaeman/Ajengan Hafidz, lamanya nyantri lebih kurang sekitar tiga bulanan;

4. Pesantren Cilaku (Cianjur) untuk belajar ilmu Tasawwuf, lamanya nyantri lebih kurang sekitar tujuh bulanan;

5. Pesantren Gentur Warung Kondang (Cianjur) Pimpinan Ajengan Ahmad Syatibi dan Ajengan Qortobi lamanya nyantri lebih kurang sekitar enam bulanan;

6. Pesantren Ciajag (Cianjur), lamanya nyantri lebih kurang sekitar tiga bulanan;

7. Pesantren Bunikasih (Cianjur), lamanya nyantri lebih kurang sekitar tiga bulanan.

8. Pesantren Keresek Blubur Limbangan (Garut), lamanya nyantri lebih kurang sekitar tiga bulanan;

9. Pesantren Sumursari (Garut), lamanya nyantri lebih kurang sekitar tiga bulanan.

10. Pesantren Gudang (Tasikmalaya) Pimpinan K.H.R. Suja'i, lamanya nyantri lebih kurang sekitar sebelas bulanan;

Lamanya mesantren seluruhnya + hanya 4,3 tahun.

Setelah melanglangbuana ke berbagai pesantren, Pada tahun 1909, akhirnya Ahmad Sanusi kembali ke Sukabumi dan masuk ke Pesantren Babakan Selaawi Baros Sukabumi. Ketika nyantri di Babakan Selaawi Ahmad Sanusi bertemu dengan seorang gadis yang bernama Siti Djuwariyah putri Kiayi Haji Affandi dari Kebon Pedes, akhirnya beliau menikahi gadis tersebut (Saleh, 2026).

C. Masa Mukim di Mekkah (1910-1915)

Pada tahun 1910, setelah mengelilingi berbagai pesantren ternama di Tanah Sunda, Ahmad Sanusi beserta istri berangkat ke Makkah Al-Mukarramah. Perjalanan ini bukan sekadar untuk menunaikan ibadah haji, melainkan ikhtiar keilmuan (rihla 'ilmiyya) untuk mendalami tradisi intelektual Islam di pusat keilmuan Dunia (Saleh, 2021a).

Orang-orang yang ia kunjungi sewaktu di Makkah di antaranya :

1. Dari kalangan ulama:

a. Syeikh Saleh Bafadil

b. Syeikh Ali Al-Maliki

c. Syeikh Ali Ath-Thayyib

d. Syeikh Muhammad Junaedi

e. Syeikh Said Jamani

f. Syeikh Haji Abdullah Jawawi

g. Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi

h. Syeikh Haji R. Muh. Mukhtar bin Atharid al Bughuri

i. Dan lain-lain

2. Dari kalangan kaum pergerakan:

a. KH. Abdul Halim (Tokoh Pendiri PUI Majalengka)

b. Haji Abdul Muluk (Tokoh SI)

c. KH. Abdul Wahab Hasbullah (Tokoh Pendiri NU)

d. KH. Mas Mansyur (Tokoh Muhammadiyah)

3. Bergumul pula dengan pemikiran para tokoh Pan Islamisme Dunia diantaranya:

a. Jamaluddin Al Afghani

b. Muhammad Abdul

c. Sayyid Rasyid Ridho (Saleh, 2026)

D. Mengabdi di Pesantren Cantayan (1915-1921)

Pada tahun 1915, Ahmad Sanusi kembali ke kampung halamannya untuk membantu ayahnya mengajar di pesantren Cantayan. Gaya mengajar yang ia terapkan kepada santri dan jamaahnya berbeda dengan gaya mengajar Kiyai lain pada umumnya, sehingga materi yang disampaikan dapat diterima relative dengan mudah oleh santri dan jamaahnya, maka tidak heran dalam kurun waktu kurang lebih empat tahun sejak kepulangannya dari Mekkah, Ahmad Sanusi dengan cepat dikenal oleh masyarakat, sehingga mendapat julukan Ajengan Cantayan. Julukan ini diberikan oleh masyarakat yang pertama ditujukan kepada ayahnya, selanjutnya kepada Ahmad Sanusi (Saleh, 2026).

E. Mendirikan Pesantren Genteng (1921)

Ayahnya memberi saran kepada Ahmad Sanusi untuk mendirikan sebuah pesantren. Sesuai dengan saran ayahnya, maka pada tahun 1921, ia mendirikan sebuah pesantren di Kampung Genteng Babakansirna, Distrik Cibadak Afdeeling Sukabumi. Oleh sebab itu, Ahmad Sanusi mendapat julukan tambahan yaitu sebagai ajengan Genteng. Selain mendirikan pesantren di kampung Genteng babakan sirna, juga Ahmad Sanusi mendirikan majelis umum untuk pengajian masyarakat luas, diantaranya di Cikukulu Sukabumi, di Cipelang Gedeng Sukabumi dan di Cijengkol Cianjur (Saleh, 2026).

F. Pencerahan Keilmuan pada Masyarakat (1921-1927)

Dalam kurun waktu enam tahun memimpin pesantren genteng dan melakukan pencerahan keilmuan kepada masyarakat, maka buah pemikiran, gagasan dan sikapnya tersebut ia tulis ke dalam beberapa kitab sehingga Namanya tidak hanya di kenal di Sukabumi, akan tetapi dikenal pula sampai ke daerah lainnya seperti Cianjur, Bogor, Bandung, Priangan Tengah, Priangan Timur, Batavia, Banten dan lain-lain (Saleh, 2026).

G. Masa Tahanan dan Pengasingan/Internir (1927-1934)

Pada bulan Agustusu 1927 dekat Pesantren Genteng terjadi insiden pengrusakan dua jaringan kawat telepon yang menghubungkan Sukabumi, Bandung dan Bogor. Peristiwa ini djadikan sebagai bukti pemerintah Hindia Belanda untuk menangkap dan menahannya. Dengan alasan itulah beliau mendekam di Penjara Cianjur selama 9 (sembilan) bulan sampai bulan Meia 1928, terus dipindahkan ke Penjara Kota Sukabumi 6 (enam) bulan sampai November 1928. Selanjutnya sejak bulan November 1928 Ahmad Sanusi diasingkan atau dibuang ke Tanah Tinggi Senen Batavia Centrum hingga tahun 1934 (Saleh, 2026).

H. Masa Tahanan Kota (1934-1939)

Setelah menghabiskan masa pengasingan (internir) di Batavia Centrum sejak 1927, KH. Ahmad Sanusi akhirnya dibebaskan dari pembuangan luar daerah pada 3 Juli 1934 berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal B.C. de Jonge. Namun, kebebasannya bersifat terbatas. Beliau dipindahkan ke tanah kelahirannya dengan status tahanan kota (inwijkeling) di Sukabumi hingga tahun 1939 (Saleh, 2008)

Meski ruang gerak fisiknya diawasi ketat oleh dinas intelijen kolonial (PID) dan dilarang bepergian keluar dari batas wilayah kota, kurun waktu 1934–1939 justru menjadi salah satu fase paling produktif dan monumental dalam sejarah literasi serta perjuangan dakwah KH. Ahmad Sanusi (Saleh, 2008)

Berdirinya Pesantren Syamsul Ulum dan Pusat Pergerakan

Pembatasan ruang gerak tidak memadamkan ikhtiar dakwah beliau. Di lokasi pengawasannya di jalan De Vogelweg (kini kawasan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi), KH. Ahmad Sanusi mendirikan Pondok Pesantren Syamsul Ulum pada tahun 1934. Pesantren ini dengan cepat berkembang menjadi benteng pertahanan keilmuan dan pusat konsolidasi organisasi Al-Ittihadijatoel Islamijjah (AII) yang beliau dirikan. Para santri dan pemuda dari berbagai pelosok Jawa Barat datang berguru, menjadikan Gunungpuyuh sebagai poros intelektual Islam yang disegani (Saleh, 2009).

Puncak Produktivitas Tinta dan Karya

Masa tahanan kota dimanfaatkan KH. Ahmad Sanusi sebagai "sanggar pena". Di balik keterbatasan mobilitas, beliau melahirkan puluhan karya tulis ilmiah berbahasa Sunda Pegon dan Melayu-Arab yang sangat responsif terhadap kebutuhan umat:

1. Penyelesaian Tafsir Malja'at-Thalibin: Beliau melanjutkan penerbitan serial tafsir Malja'at-Thalibin fie Tafsieri Kalami Robbil 'aalamien (Dimulai sejak di Batavia dan berlanjut hingga jilid-jilid akhir di Sukabumi).

2. Kelahiran Tafsir Tamsiyyatul Muslimin: Beliau menulis dan menerbitkan serial tafsir Tamsiyyatoel-Moeslimien Fie Tafsieri Kalami Robbil-'Alamien yang dicetak oleh percetakan Al-Ittihad Sukabumi. Tafsir ini ditulis dengan gaya bahasa yang menyalakan semangat perubahan sosial dan keteguhan iman umat di tengah tekanan penjajah.

3. Masterpiece Raudhatul Irfan: Pembacaan dan penulisan mendalam pada periode ini menjadi cikal bakal matangnya penyusunan karya fenomenalnya, Tafsir Raudhatul Irfan fii Ma'rifatil Qur'an, sebuah tafsir lengkap 30 juz berbahasa Sunda yang kelak menjadi rujukan utama majelis taklim di Tatar Sunda (A.Rohmana, 2015).

4. Kitab-Kitab Fikih dan Social-Political Pamphlets: Puluhan risalah fikih praktis, tauhid, hingga panduan organisasi keislaman diterbitkan secara mandiri untuk disebarkan kepada jejaring santri dan anggota AII (Saleh, n.d.).

Strategi Perjuangan Lewat Media Cetak

Guna menyiasati larangan berorasi di panggung politik terbuka, KH. Ahmad Sanusi memanfaatkan mesin cetak. Melalui percetakan Al-Ittihad di Sukabumi, beliau mengedarkan majalah, buletin, dan kitab-kitab murahan yang terjangkau oleh masyarakat awam. Gagasan-gagasan beliau tentang independensi ekonomi umat, keandalan madrasah, dan penolakan atas dominasi budaya penjajah menyebar luas melampaui tembok status tahanan kotanya (Saleh, 2021b).

Masa tahanan kota (1934–1939) membuktikan bahwa penjara wilayah tidak mampu memenjarakan pikiran KH. Ahmad Sanusi. Dari rumah tahanan di Gunungpuyuh itulah lahir karya-karya abadi dan fondasi pergerakan yang melatih ketahanan spiritual bangsa hingga beliau memimpin perjuangan kemerdekaan di era BPUPKI (Saleh, 2021b).

I. Menuju Indonesia Merdeka (1939-1945)

Masa antara tahun 1939 hingga 1945 menjadi fase penentu dalam perjalanan hidup KH. Ahmad Sanusi. Setelah status tahanan kotanya dicabut pada tahun 1939, dinamika politik global dan regional bergerak cepat: Perang Dunia II pecah, Hindia Belanda runtuh, dan pendudukan militer Jepang dimulai. Pada kurun waktu inilah kepemimpinan KH. Ahmad Sanusi bertransformasi dari seorang ulama-intelektual lokal menjadi negarawan dan tokoh pergerakan tingkat nasional .

Konsolidasi Organisasi dan Transisi Kekuasaan (1939–1942)

Setelah terbebas dari pembatasan mobilitas, KH. Ahmad Sanusi memperluas jejaring organisasi Al-Ittihadijatoel Islamijjah (AII) yang didirikannya. Beliau melakukan perlawanan struktural terhadap penetrasi kebudayaan Barat dan Kebijakan Keagamaan Pemerintah Kolonial.

Ketika bala tentara Jepang masuk pada awal tahun 1942 dan menumbangkan Belanda, KH. Ahmad Sanusi menyikapi perubahan geopolitik ini secara rasional dan diplomatis. Beliau memanfaatkan ruang gerak baru yang dibuka pemerintah pendudukan untuk memperkuat posisi umat Islam. AII kemudian dilebur ke dalam wadah persatuan organisasi Islam Jawa Barat, yaitu Persatuan Umat Islam Indonesia (PUII), di mana beliau memegang peran sentral sebagai figur pemersatu (Zuhri, 2021).

Memimpin Shumobu Priangan dan Mobilisasi Rakyat (1942–1945)

Pemerintah militer Jepang menyadari pengaruh besar KH. Ahmad Sanusi di kawasan Tatar Sunda. Beliau diangkat sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (Shumobu) Residensi Priangan yang berkedudukan di Bandung.

Kedudukan resmi ini digunakan KH. Ahmad Sanusi secara strategis untuk kepentingan perjuangan bangsa:

1. Perlindungan Umat dan Pesantren. Beliau membentengi lembaga-lembaga pesantren dari intervensi militer Jepang dan menolak kebijakan yang bertentangan dengan akidah Islam, seperti penghormatan membungkuk ke arah Tokyo (Seikerei).

2. Pengkaderan Pemuda. Beliau mendukung keterlibatan pemuda pesantren dalam militer bentukan Jepang, seperti Pembela Tanah Air (PETA) dan Heiho, sebagai sarana latihan perang persiapan kemerdekaan.

3. Perjuangan Literasi. Di tengah kelangkaan kertas dan krisis ekonomi zaman Jepang, beliau tetap menulis risalah-risalah keislaman dan kebangsaan untuk menjaga moral spiritual rakyat (Suryana, 2019).

Kiprah di BPUPKI: Merumuskan Pancasila dan Bentuk Negara (1945)

Puncak peran kebangsaan KH. Ahmad Sanusi terjadi ketika beliau ditunjuk sebagai salah satu anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang bersidang di Jakarta pada bulan Mei–Juli 1945.

Dalam sidang-sidang BPUPKI yang krusial dan dipenuhi perdebatan sengit mengenai dasar negara, KH. Ahmad Sanusi berdiri sebagai tokoh penengah (mediator) yang bijaksana.

Kompromi Bentuk Negara. Dalam perdebatan mengenai bentuk negara (antara Republik atau Kerajaan/Kesultanan), KH. Ahmad Sanusi menggagas konsep negara Imamah (Ridwan, 2018).

Fajar Kemerdekaan dan Pembentukan KNIP

Ketika Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, KH. Ahmad Sanusi langsung mengonsolidasikan seluruh santri, kiai, dan elemen PETA/Heiho di wilayah Sukabumi dan Priangan untuk mempertahankan kedaulatan RI. Beliau kemudian diangkat menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan dilantik sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) Pertama Republik Indonesia.

J. Perjuangan pada masa kemerdekaan (1945-1950)

Konsolidasi Pasca-Proklamasi dan Kepemimpinan di Bogor (1945–1946)

Pasca-pengumuman Proklamasi 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno menunjuk KH. Ahmad Sanusi sebagai Residen Bogor (meliputi wilayah Bogor, Sukabumi, dan Cianjur). Jabatan ini membawa amanat berat untuk menegakkan kedaulatan pemerintah RI yang baru lahir di Tatar Pasundan.

Penyatuan Laskar Rakyat: Beliau mengonsolidasikan berbagai elemen perjuangan, mulai dari laskar santri (Hizbullah dan Sabilillah), mantan tentara PETA, hingga kelompok pemuda ke dalam wadah Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Peristiwa Pertempuran Konvoi: Di bawah kepemimpinan dan pengaruh moral beliau, wilayah Sukabumi menjadi medan pertempuran sengit melawan tentara Sekutu (Inggris) dan NICA. Salah satu yang paling fenomenal adalah peristiwa Bojongkokosan (Desember 1945–Maret 1946), di mana jalur konvoi militer Sekutu berhasil diadang oleh laskar gabungan rakyat dan TKR (Hidayat et al., 2022).

Pengungsian, Gerilya Spiritual, dan Penjagaan Akidah Perjuangan (1946–1948)

Ketika Agresi Militer Belanda I (1947) membendung wilayah perkotaan di Jawa Barat, KH. Ahmad Sanusi menolak tunduk pada tekanan pemerintah kolonial. Beliau memilih menyingkir ke daerah pedalaman Sukabumi dan melanjutkan perjuangan secara gerilya.

Pusat Logistik dan Moral Santri: Pesantren Syamsul Ulum di Gunungpuyuh serta basis-basis PUI di pedalaman dijadikan markas taktis pergerakan, tempat perlindungan Pejuang Kemerdekaan, serta pusat perbekalan logistik bagi laskar gerilya.

Mempertahankan Keutuhan NKRI: Di tengah manuver Belanda mendirikan Negara Pasundan (state puppet) untuk memecah belah Republik, KH. Ahmad Sanusi dengan tegas menolak diajak bekerja sama. Beliau mengibarkan seruan bahwa kedaulatan Republik Indonesia adalah harga mati yang dilindungi hukum syariat (Darmawan, 2020).

Penggabungan PUI dan Penguatan Organisasi (1949–1950)

Memasuki masa akhir Revolusi Fisik setelah Pengakuan Kedaulatan (KMB 1949), KH. Ahmad Sanusi memfokuskan energinya untuk merajut kembali kekuatan umat Islam yang terfragmentasi akibat perang.

Deklarasi PUI (1952/Cikal Bakal 1949–1950): Beliau bersama sahabat seperjuangannya, KH. Abdul Halim (Majalengka), menggabungkan dua organisasi besar di Jawa Barat—Persatuan Umat Islam Indonesia (PUII) pimpinan KH. Ahmad Sanusi dan Perikatan Umat Islam (PUI) pimpinan KH. Abdul Halim—menjadi wadah tunggal Persatuan Umat Islam (PUI). Langkah ini diambil untuk memperkokoh benteng pendidikan, sosial, dan ekonomi Islam di Indonesia pasca-kemerdekaan.

Anggota DPR-RIS / DPA: Atas jasa-jasanya, beliau diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan DPR Republik Indonesia Serikat (RIS). Beliau terus mengawal transisi pemerintahan dari bentuk serikat menuju kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) (Dunia et al., 1950).

K. Karya Tulis KH. Ahmad Sanusi (1914 – 1950)

Pada tahun 1914 sampai dengan tahun1942, K.H. Ahmad Sanusi menulis kitab tidak kurang dari 126 judul kitab, pada tahun 1946, karya K.H. Ahmad Sanusi telah mencapai hampir 200 judul kitab, dan pada tahun 1950, sebelum Ia meninggal dunia berdasarkan pengakuan keluarganya hasil karyanya telah mencapai sekitar 480 judul kitab. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa K.H. Ahmad Sanusi adalah seorang penulis nusantara yang produktif (Saleh, 2019).

Karya magnum opus beliau terfokus pada bidang tafsir Al-Qur'an lokal:

1. Tafsir Malja’ al-Tholibin. Karya tafsir Al-Qur'an berbahasa Sunda dengan aksara Pegon yang ditulis saat beliau berada dalam pengasingan.

2. Tafsir Raudhatul ‘Irfan fi Ma’rifatil Qur’an. Tafsir bergaya ringkas dan populer yang memudahkan masyarakat Pasundan memahami isi kandungan Al-Qur'an secara langsung.

3. Tafsir Taufiqur Rahman. Karya tafsir komprehensif lainnya yang mengkaji makna-makna hukum dan pembinaan moral masyarakat.

L. Wafatnya Sang Kiai

Perjuangan tanpa henti fisik dan pikiran sejak masa pergerakan nasional hingga perang kemerdekaan menguras stamina KH. Ahmad Sanusi. Pada 31 Juli 1950 / 15 Syawal 1369 H, KH. Ahmad Sanusi wafat di Sukabumi dalam usia 60 tahun dan dimakamkan di kompleks Pesantren Syamsul 'Ulum Gunungpuyuh, Sukabumi. Beliau meninggalkan warisan keilmuan yang melimpah berupa ratusan karya tulis, lembaga pendidikan yang kokoh, serta rekam jejak pengabdian utuh sebagai patriot bangsa dan Pahlawan Nasional Indonesia (Saleh, 2026).

Daftar Pustaka

A.Rohmana, J. (2015). Al-Qur’ān wa al-Isti‘mār: Radd al-Shaykh al-Ḥājj Ahmad Sanusi (1888-1950) ‘alá al-Isti‘mār min Khilāl Tafsīr Mal’ja’ al-Ṭālibīn. Studi Islamika, 22(2), 297–332.

Darmawan, W. (2020). Pemikiran Pendidikan KH. Ahmad Sanusi dan Relevansinya dengan Modernisasi Pesantren. Jurnal Edukasi Islam: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 9(1), 145–160. https://doi.org/10.30868/ei.v9i01.782

Dunia, E., Tahun, M., & Sanusi, A. K. H. A. (1950). Al-Adawiyah Karya K . H . Ahmad Sanusi and Word Economic Crisis in 1929 Nurman Kholis. 1–22. https://doi.org/10.31291/jlk.v16i1.490

Hidayat, R., Sunarya, Y., & Mulyana, A. (2022). Nationalism and Religious Reform: The Role of KH. Ahmad Sanusi in BPUPKI and Islamic Education Movement. Journal of Indonesian History and Education, 5(2), 89–104.

Ridwan, M. (2018). Epistemologi Pendidikan Islam KH. Ahmad Sanusi: Analisis Gerakan Al-Ittihadijatu Al-Islamijah (AII). Jurnal Pendidikan Islam, 7(1), 77–94.

Saleh, M. (n.d.). Pemikiran dan Gagasan KH. Ahmad Sanusi.

Saleh, M. (2008). Kyai Haji Ahmad Sanusi : Berjuang dari Pesantren Hingga Parlemen. Jurnal Sejarah Lontar, 5(2), 35–46.

Saleh, M. (2009). Kyai haji ahmad sanusi : sejarah hidup dan pemikirannya dalam memperjuangkan kepentingan agama, bangsa, negara dan masyarakat.

Saleh, M. (2019). KH . Ahmad Sanusi dan Karya-Karyanya : Khasanah Literasi Ilmu-Ilmu Ajaran Islam di Nusantara. Jurnal At-Tadbir, 29(2), 74–114.

Saleh, M. (2021a). Jaringan Ulama Sukabumi dan Cianjur dengan Ulama Hijaz dan Mesir.

Saleh, M. (2021b). Peranan Ulama dan Tokoh Islam Sukabumi dalam Memperjuangkan Kemerdekaan NKRI.

Saleh, M. (2026). KH. Ahmad Sanusi Sejarah Hidup, Pemikiran dan Perjuangan dalam Pergolakan Nasional. Mata Kata Inspirasi.

Suryana, A. (2019). Modernisasi Kurikulum Pesantren Perspektif KH. Ahmad Sanusi Sukabumi. Jurnal Taqaddum, 12(2), 165–180.

Zuhri, A. (2021). Purifikasi Akidah dan Pembentukan Karakter Mandiri dalam Pemikiran Pendidikan KH. Ahmad Sanusi. Jurnal Studi Agama Dan Masyarakat, 17(1), 33–48.