Jejak Ulama Cianjur di Pentas Dunia: KH. Rd. Abdullah bin Nuh (1905–1987)

Pegiat Student Rihlah Indonesia
·waktu baca 13 menit
Tulisan dari Tatang Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

KH. Rd. Abdullah bin Nuh adalah sosok ulama sekaligus pejuang yang memiliki kharismatik di mata Dunia Islam. Tapak sujudnya bertebaran di Indonesia maupun di dunia internasional. Cita-cita luhurnya dan seluruh hidupnya ia dedikasikan untuk mempersatukan umat Islam lintas madzhab.
“Anda saudaraku, karena kita sama-sama menyembah Tuhan yang satu. Mengikuti Rasul yang satu. Menghadap kiblat yang satu. Dan terkadang kita berkumpul di sebuah padang yang luas, yaitu Padang Arafah. Sama-sama lahir dari hidayah Allah. Menyusu serta menyerap syariat Nabi Muhammad Saw. Kita sama-sama bernaung di bawah langit kemanusiaan yang sempurna. Dan sama-sama berpijak di bumi kepahlawanan yang utama.” Itu merupakan cuplikan sebait prosa yang ditulis oleh seorang Ulama besar bernama KH. Abdullah bin Nuh. Selain merupakan guru para ulama, KH. Abdullah bin Nuh juga di kenal sebagai seorang ahli bahasa dan sastrawan, pendidik dan pejuang kemerdekaan. Sederet nama tokoh besar seperti Mohammad Natsir (Ketua Partai Islam Masyumi) dan KH. Wahid Hasyim (Ketua Nahdlatul Ulama) adalah sahabat-sahabat seperjuangannya.
A. Riwayat Hidup
Wilayah Cianjur, Sukabumi, dan Bogor pantas mendapat julukan sebagai wilayah kawah “Candra Dimuka” nya atau tempat dilahirkan para santri dan ulama-ulama besar Jawa Barat yang mempunyai kapasitas dan pengaruh di Indonesia dan Dunia (Sutopo & Misno, 2017). Cianjur sebuah kota di propinsi Jawa Barat dengan cuaca yang dingin layaknya sebuah kota di wilayah pegunungan, berbatasan dengan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi merupakan kota kelahiran seorang ulama besar yang juga berprofesi sebagai sastrawan, wartawan, pejuang, dan pendidikan yaitu Rd. Muhammad atau lebih dikenal dengan panggilan KH. Abdullah Bin Nuh yang sering dipanggil dengan ‘Mama’ sebuah panggilan hormat dan sayang dari keluarga besar kepada KH Abdullah Bin Nuh. Panggilan seperti ini biasanya berlaku pada seorang yang ahli dalam bidang agama dan dianggap sebagai tokoh agama terkemuka (Sutopo & Misno, 2017).
Abdullah bin Nuh adalah seorang ulama yang lahir di Cianjur, Jawa Barat pada tanggal 30 Juni 1905 Masehi, bertepatan dengan tahun 1324 Hijriah, dan wafat di Bogor pada tanggal 26 Oktober 1987 Masehi bertepatan dengan 1407 Hijriah, dalam usia 82 tahun (Mohammad Dkk, 2006).
Ayahnya bernama KH.Raden Muhammad Nuh, salah seorang ulama terkenal di kota Cianjur pada zamanya. Dan ibunya, Nyi Raden Hj Aisyah, seorang ibu rumah tangga yang taat menjalankan agama serta taat pada suami (Hamijaya, 2025)
Rd Mohamad Nuh bin Idris, ayah KH. Abdullah Bin Nuh lahir tahun 1879. Dikenal sebagai pendiri Madrasah Al I’anah Cianjur dan murid utama Syaikh Mukhtar Ath-Tharid Al Bughuri seorang guru besar di Masjidil Harom Makkah. Rd Mohamad Nuh bin Idris Wafat tahun 1966. Sedangkan Ibunya bernama Raden Aisyah binti Rd. Muhammad Sumintapura adalah seorang Wedana di Tasikmalaya di Zaman kolonial Belanda (Sutopo & Misno, 2017).
Dilihat dari silsilahnya, Abdullah bin Nuh termasuk turunan ningrat, suatu kelompok priyayi yang memiliki status sosial yang terhormat. Abdullah bin Nuh putra dari KH Raden Muhammad Nuh, putra Raden H, idris, putra dari Raden Arifin, putra dari Raden H. Soleh, putra dari Raden H. Muhyidin Natapraja, puna dari Raden Aria Wiratanudatar V (Dalem Muhyidin), putra dari Raden Aria Wiranudatar IV (Dalem Sabiruddin), putra dari Raden Aria Wiranudaar III (Dalem Astramanggala), putra dad Raden Aria Wiranudatar II (Dalem Wiramanggala), putra dari Raden Aria Wiratanudatar I (Dalem Cikundul) (Antonis & Tazkia, 2015).
B. Riwayat Pendidikan
Riwayat pendidikannya, dimulai dengan belajar agama Islam di Madrasah Al-I’anah, suatu lembaga pendidikan Islam yang didirikan oleh ayahnya sendiri KH. Rd. Muhammad Nuh bin Idris, di Cianjur (Rif’ah, 2014). Karena didukung oleh kesungguhan belajar dan kecerdasannya, sejak usia muda ia telah memperlihatkan kemampuannya dalam berbahasa Arab dengan orang tua dan keluarga di Iingkungan keluarganya sehari-hari, dan telah sanggup menghafal kitab aI-Fiah , yaitu kitab tentang gramatika bahasa Arab karangan Imam Malik, sambil disaksikan oleh gurunya sendiri (Ardi, 2017).
Setelah tamat dari Madrasah al-Ianah, ia melanjutkan studinya ke Madrasah Arabiyah yang bernama Syamailul Huda di Pekalongan, Jawa Tengah. Madrasah ini diasuh oleh seorang ulama yang berpandangan luas, yaitu Sayyid Muhammad bin Hasim bin Thahir al-Alawy ai-Hadad al-Hadrami, keturunan dari Hadramaut (Nata, 2005).
Dalam usia 17 tahun, Abdullah bin Nuh meninggalkan Pekalongan melanjutkan studinya di Surabaya, Jawa Timur. Di kota ini bersama gurunya ia mendirikan sekolah yang bernama Hadramaut School. Di lembaga pendidikan inilah ia melatih diri dalam berdiskusi, belajar berpidato, keterampilan berbahasa asing, seperi bahasa arab, Inggris, Jerman, Prancis, dan Belanda (Nata, 2005).
Dengan bekal bahasa Arab yang kuat, ia kemudian dikirim oleh gurunya ke Kairo, Mesir pada tahun 1929 untuk mendalami ajaran Islam. Bersama 15 orang temannya dari Surabaya, Abdullah bin Nuh menimba ilmu agama Islam kepada Syaikh Ahmad AI-Dirham, dan selanjutnya ia diterima belajar di Universitas AI-Azhar, Kairo. Setelah beberapa tahun ia belajar di Universitas tersebut, ia berhasil memperoleh gelar Syahadatul Alimiyyah sehingga ia berhak mengajar. Di Universitas ini ia banyak mendalami ilmu fiqih Mazhab Syafi'i, dan bidang studi lainnya (Nata, 2005).
C. Masa Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Setelah merasa memiliki bekal ilmu yang memadai, Abdullah bin Nuh mulai melibatkan dirinya dalam berbagai kegiatan di masyarakat. Menurut catatan sejarah, Abdullah bin Nuh termasuk salah seorang anggota Pembela Tanah Air (PETA), bahkan ia diangkat sebagai Daidanco atau Komandannya. Sehubungan dengan perannya ini, maka di sekitar tahun 45-an ia termasuk kader PETA yang aktif mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, melalui Barisan Hizbullah dan Badan Keamanan Rakyat (BKR) di kota Bogor dan Cianiur (Nata, 2005)..
Selanjutnya di tahun 1946, ketika Ibukota Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta dan negara dalam keadaan gawat, tegang dan penuh dengan pergolakan, Abdullah bin Nuh ikut pindah ke Yogyakarta. Di kota ini, ia ikut serta memelopori berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI) bersama-sama dengan tokoh-tokoh yang berkecimpung dalam bidang penerangan dan dakwah Islam. Dalam kaitan ini, Abdullah bin Nuh di percaya sebagai Kepala Bagian Siaran Khusus bahasa Arab (Nata, 2005). Selain itu, selama di Yogyakarta Abdullah bin Nuh juga berhasil men dirikan Sekolah Tinggi Islam (STI) yang selanjutnya berubah menjadi Universitas Islam Indonesia (UII).
Selanjutnya di tahun 1949, Abdullah bin Nuh yang saat itu berusia 44 tahun, pindah kembali ke Jakarta, seiring dengan pindahnya ibukota Republik Indonesia dari Yogyakarta ke Jakarta. Ketika di Jakarta ini ia aktif sebagai guru di sekolah-sekolah dan berdakwah di berbagai Majelis Ta'lim, sambil memimpin siaran bahasa Arab di Radio Republik Indonesia (RRI), dan berdakwah keliling di berbagai daerah yang meliputi Jakarta, Bogor, Cipanas, Cianjur, Bandung, Tasikmalaya, dan beberapa daerah Iainnya di Jawa Barat (Nata, 2005).
Selain itu, Abdullah bin Nuh juga berperan aktif dalam memelopori berdirinya Arabian Press Board (APB) serta menjadi dosen Program Sastra Arab di Universitas Indonesia. Bersamaan dengan itu ia juga bertindak sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Pembina. Melalui majaiah ini, Abdullah bin Nuh banyak mengemukakan gagasannya tentang Ukhuwah Islamiyah, terutama kepada para peserta Konferensi Islam Asia Afrika (KIM) yang dilaksanakan di Bandung (Nata, 2005).
Sehubungan dengan kiprahnya itu, K.H. Achmad Syaichu, mantan Ketua Sidang Konferensi Islam Asia Afrika mengatakan, bahwa KH. Raden Abdullah bin Nuh adalah seorang ulama besar dan tokoh terkemuka khususnya di Jawa Barat. la telah iktit serta menyukseskan berlangsung nya Konferensi Islam Asia Afrika (KIM) dengan peran sebagai juru penerang yang terampil dan dinamis. Peran lain yang dilakukan oleh Abdullah bin Nuh adalah dalam bidang pendidikan Islam, teologi, tasawuf, sejarah dan aktivitas kenegaraan lainnya (Nata, 2005).
D. Karya Tulis KH. Rd. Abdullah bin Nuh
Di tengah-tengah kesibukannya melakukan berbagai kegiatan sebagaimana tersebut di atas, Abdullah bin Nuh juga ternyata sebagai seorang penulis yang amat produktif. Berbagai karya ilmiah dalam berbagai bidang studi Islam telah berhasil ditulisnya, lebih 100 karya telah beliau tuliskan. Karya-karya ilmiah tersebut diantaranya.
1. Kitab Fi Dzilal al-Ka'bah ai-Bait al-Haram. Di dalam kitabnya, Abdullah bili Nuh mencoba menjelaskan peranan Ka'bah sebagai lambing pemersatu umat Islam, dan rumah pertama yang dibangun sebagai tempat perlindungan di bawah kalimah tauhid. Dengan ka'bah ini berbagai perbedaan mamab dan aliran yang terdapat di kalangan umat Islam dapat disatukan, sehingga tidak ada lagi sektarian dan fanatisme dalam ajaran Islam. Sikap yang demikian itu antara lain terlihat dalam pribadi Abdullah bin Nuh.
2. La Thaifiiyata fi al-Islam. Di dalam kitabnya ini, Abdullah bin Nuh mencoba menjelaskan tentang pentingnya ijtihad bagi seorang Muslim yang memiliki persyaratan. Menurutnya, ijtihad adalah merupakan penyebab timbulnya mazhab dalam Islam, dan mazhab ini (substansinya) sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Lebih lanjut Abdullah bin Nuh mengatakan dalam bukunya ini, bahwa berpegang pada mazhab adalah amat penting dengan ketentuan tetap menjadi keutuhan dan menjauhkan diri dari perpecahan.
3. Al-Alam al-Islamiy. Dalam bukunya ini Abdullah bin Nuh mencoba menjelaskan dunia Islam yang amat kaya dengan ilmu pengetahuan dan peradaban.
4. Terjemah Kitab al-Munqiz min al-Dialal (Terbebas dari Kesesatan) karya Imam al-Ghazali. Kitab ini menceritakan perjalanan batin Imam al Ghazali dari satu negeri ke negeri lain dalam rangka mencari kebenaran. Al-Ghazali telah mengalami keraguan dan ketidakyakinan terhadap kebenaran ilmu kalam, filsafat yang di dalamnya banyak pendapat yang saling bertentangan. Ia menginginkan kebenaran yang meyakinkan. Kebenaran yang demikian itu ia jumpai dalam tasawuf dengan menggunakan kendaraan fiqih. Hal ini tercermin dalam karyanya yang amat monumental, lhya Ulum Al-Din, yang memadukan antara fiqih dan tasawuf.
5. Mu'allimu al-Arabiyah (Guru Bahasa Arab). Buku ini berisi uraian tentang cara-cara mengajar bahasa Arab yang efektif. Buku ini amat berguna bagi para guru yang mengajar bahasa Arab.
6. AI-Lu'lu al-Mantsur. Buku ini berbicara tentang nilai-nilai luhur yang seharusnya berpengaruh di dalam kehidupan manusia, yang dalam hal ini adalah niIai-nilai ajaran Islam.
7. AI-Mustashfa'. Buku ini sama dengan judul buku yang ditulis oleh al Ghazali, yaitu tokoh yang sangat dikagumi dan sekaligus sangat memengaruhi pandangan pemikiran keagamaan Abdullah bin Nuh. Buku ini berbicara tentang kajian fiqih dalam Islam.
8. Jalan Bagi Ahli lbadah. Sesuai dengan judulnya, buku ini berbicara tentang keutamaan orang yang senatiasa beribadah kepada Allah Swt., yaitu mereka yang akan senantiasa memperoleh ketenangan jiwa serta senantiasa dekat dengan Allah dengan implikasinya berupa terciptanya keadaan moral dan akhlak yang mulia.
9. Ana Muslim Sunniyyun Syai'iyyun. Buku ini merefleksikan sikap yang tegas dan gamblang dari Abdullah bin Nuh sebagai seorang penganut paham sunni. Paham yang demikian itu sekaligus menunjukkan sikap yang dianut oleh al-Ghazali, dan banyak dianut oleh masyarakat Indonesia. Dengan buku tersebut akan hilang dugaan dan spekulasi masyarakat terhadap sikap keagamaan Abdullah bin Nuh.
10. Zakat Modem. Dari segi judulnya dapat diketahui, bahwa Abdullah bin Nuh ingin melakukan terobosan baru dalam memahami dan mengamalkan zakat dari keadaan yang tradisional kepada keadaan yang modern yang membawa misi perbaikan kehidupan sosial ekonomi masyarakat dan menghilangkan kesenjangan sosial.
11. Keutamaan Keluarga Rasulullah Saw. Melalui buku ini tampak Abdullah bin Nuh ingin memperkenalkan akhlak Rasulullah Saw dan sekaligus mengajak masyarakat agar meneladaninya.
12. Hadits-Hadis Mahdi. Buku ini kelihatannya ingin berbicara tentang hadis-hadis yang mengandung kontroversial, yaitu hadis-hadis tentang mahdi, yaitu hadis yang menceritakan kemungkinan datangnya al-mahdi menjelang hari kiamat tiba.
13. Islam dan Marxisme. Melalui buku ini Abdullah bin Nuh ingin mengatakan bahwa ajaran Marxisme tidak sejalan dengan ajaran Islam yang mendasari pada ajaran tauhid. Marxisme adalah ajaran tanpa Tuhan. Sedangkan ajaran Islam adalah ajaran yang dibangun dari kepercayaan kepada Allah. Buku ini menepis adanya paham komunisme yang pada saat itu tengah berupaya menggantikan ideologi Pancasila.
14. Sejarah Islam di Jawa Barat. Melalui buku ini, Abdullah bin Nuh ingin mengajak kepada masyarakat Jawa Barat, khususnya tentang sejarah masuknya Islam di Jawa Barat. Dengan pengetahuan tersebut, masyarakat akan tahu watak dan karakter ajaran Islam yang berkembang di Jawa Barat, serta cara-cara yang ditempuh para da'i dalam memasyarakatkan ajaran Islam tersebut.
15. Barayin Nuayyid Ahlu al-Sunnah wa al-Jama'ah. Buku ini berbicara tentang beberapa keterangan yang memperjelas ahlu al-Sunnah wa al-jama'ah. Dengan buku ini, Abdullah bin Nuh ingin menegaskan sekali lagi tentang sikap dan pandangannya tentang Ahlu Sunnah wa al-jama'ah sebagai paham yang mayoritas dianut masyarakat Indonesia.
16. Nushush fi al-Hibbah. Sesuai dengan judulnya buku ini berbicara tentang ketentuan yang berkaitan dengan penerapan hibah.
17. AI-Islam wa al-Syubhat aI-Ashriyah. Buku ini berbicara tentang pandangan Islam terhadap masalah syubhat yang berkembang di masyarakat.
18. Ummah wahidah. Dengan buku ini, Abdullah bin Nuh mencoba mengemukakan gagasan dan pandangannya tentang cara-cara mempersatukan umat Islam. Hal yang demikian dipandang penting untuk menyatukan masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai latar belakang agama dan budaya serta lainnya yang amat beragam. Melalui buku tersebut, Abdullah bin Nuh ingin agar berbagai latar belakang perbedaan terse but tidak menyebabkan terjadinya perpecahan (Nata, 2005)
19. Bidang sejarah khususnya sejarah politik, Abdullah bin Nuh mempunyai karya yaitu: Ringkasan Sejarah Wali Songo, Sejarah Islam di Jawa Barat Hingga Zaman Keemasan Banten diterbitkan dan Al-Islâmu fî Indûnîsiyâ. Jika seorang ulama mampu menuliskan Islam sebagai ajaran adalah kewajaran seperti masalah fikih atau tauhid, namun untuk menuliskan sejarah yang mumpuni, dan memberikan koreksi kesalahan penafsiran atau interpretasi penulisan Sejarah Islam khususnya di Jawa Barat masih sangat langka. Ternyata Abdullah bin Nuh memiliki kemampuan dan perhatiannya terhadap penulisan ulang-reinterpretation dan rewrite Sejarah Islam (Khusniah, 2016).
E. Wafat dan cita-cita KH. Abdullah bin Nuh menyatukan umat Islam
Cita-cita besar Mama adalah mempersatukan seluruh umat Islam, sehingga tidak dapat di cerai berai oleh musuh-musuh Islam, seperti seruan yang pernah di tuliskan oleh KH. Abdullah bin Nuh “Bersatulah wahai kaum Muslimin sedunia. Dan jadikanlah kalian kekuatan tunggal menghadapi orang lain (musuh-musuh Islam)”.
Dalam upayanya mempersatukan umat Islam di dunia, ia seringkali mengadakan perjalanan ke luar negeri dan bersahabat dengan berbagai kalangan dan madzhab, juga selalu menyempatkan diri untuk menghadiri berbagai pertemuan Islam Internasional di beberapa Negara, antara lain Arab Saudi, Yordania, Irak, Iran, Australia, Bangkok, Singapura, Malaysia dll.
Pada suatu hari KH. Abdullah bin Nuh mengatakan bahwa ia sudah sangat merindukan berjumpa dengan al-Mahdi. Ketika ditanya, siapakah al-Mahdi itu ? (Man Huwa al-Mahdi), KH. Abdullah bin Nuh Menjawab “Nabi Muhammad Saw”, rupanya itulah isyarat bahwa beliau akan segera meninggalkan dunia yang fana ini. walau keinginannya untuk mengumpulkan para ulama se Nusantra tidak tercapai, tetapi pada hari beliau tutup usia 3 Rabiul Awal 1408 H (26 Oktober 1987) pukul 19.15 Wib di rumah kediamannya di Jalan. Cempaka 14 tidak sedikit ulama-ulama terkemuka yang datang melayat beliau. Rahimahullahu rahmatan waasi'atan.
Daftar Pustaka
Antonis, M. S., & Tazkia, T. (2015). KH. Abdullah bin Nuh Ulama Sederhana Kelas Dunia (Ulama, Tentara, Pendidik, Sejarawan, Sastrawan, Pemikir Ekonomi, Jurnalis). Tazkia Publishing.
Ardi, M. N. (2017). ABDULLAH BIN NUH : HIS STRUGGLE ON DA ’WAH THROUGH ISLAMIC EDUCATION. Wahana Akademika, 4(2), 145–158.
Hamijaya, N. A. (2025). KH. R. Muhammad Nuh bin Idris Pendiri Madrasah Al I’anah Cianjur (Ulama, Muqoddam Tijani, Advisuur SI dan Politisi Masjoemi. Pusbangter.
Khusniah, L. (2016). Abdullah bin Nuh dan Historiografi Islam di Indonesia (1905-1987 M). UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Mohammad Dkk, H. (2006). Tokoh - Tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20. Gema Insani Press.
Nata, A. (2005). Tokoh - Tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia. Raja Grafindo Persada.
Rif’ah, E. N. (2014). Women Under Sharia: Case Studies in the Implementation of Sharia-Influenced Regional Regulations (Perda Sharia) in Indonesia. Victoria University Australia.
Sutopo, & Misno. (2017). Kontribusi Abdullah bin Nuh dalam Pengembangan Pendidikan Islam di Cianjur. Al Murabbi, 4(1), 71–83.
