Kesalehan Literasi Digital sebagai Fondasi Peradaban

Fellow di Groningen Research Centre for Southeast Asia and ASEAN.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Tatang Muttaqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jakarta menjadi saksi perhelatan penting Gebyar Pendidikan Nonformal-Informal dan Perayaan Hari Aksara Internasional 2025 pada 25–26 September 2025, di Kompleks Kemendikdasmen, Jakarta. Perhelatan ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan komitmen seluruh pihak, mulai dari pemerintah, pemangku kepentingan pendidikan, mitra strategis, hingga masyarakat luas, dalam mempercepat penuntasan buta aksara sekaligus membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan.
Rangkaian acara Gebyar PNFI 2025 tersebut menghadirkan beraneka kegiatan. Di dalam ruangan, pengunjung dapat menikmati pameran interaktif karya warga belajar, pertunjukan seni, hingga gelar wicara yang menampilkan praktik baik literasi digital dari para penggiat pendidikan masyarakat. Di halaman gedung, terdapat pula pameran dan pertunjukan karya hasil belajar peserta didik PNFI, sebuah bukti nyata bahwa jalur pendidikan nonformal dan informal mampu melahirkan kreativitas sekaligus menumbuhkan kemandirian.
Lebih dari sekadar seremoni dan hiburan, kegiatan ini menjadi etalase inspirasi bahwa literasi bisa mengubah kehidupan. Dalam kesempatan tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah—melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus—memberikan apresiasi kepada kepala daerah dan para tokoh serta pegiat yang dinilai berkontribusi besar dalam menurunkan angka buta aksara. Penghargaan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan literasi adalah hasil kerja kolektif dan kolaboratif semua pihak.
Pada tahun ini, Hari Aksara Internasional mengangkat tajuk global Promoting Literacy in the Digital Era. Dalam konteks Indonesia, tema nasional yang diusung yaitu “Kesalehan Literasi Digital, Membangun Peradaban”. Tema ini lahir dari pemahaman bahwa literasi kini bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, melainkan juga kecakapan hidup dalam menggunakan teknologi secara cerdas, bijak, dan beretika. Literasi digital yang berkesalehan menjadi kunci untuk memastikan masyarakat tidak hanya cekatan dalam mengakses informasi, tetapi juga memiliki kemampuan dan kesadaran untuk memanfaatkannya demi kemaslahatan bersama dan tentunya kemajuan bangsa.
Kita patut bersyukur atas capaian pemberantasan buta aksara. Jika pada 2020 jumlah warga buta aksara masih mencapai sekitar 1,71% atau sekitar tiga juta orang, pada 2024 angka tersebut berhasil diturunkan menjadi 0,92% atau sekitar 1,6 juta orang. Dengan demikian, dalam lima tahun terakhir, lebih dari satu juta warga telah berhasil melek huruf. Fakta tersebut membuktikan adanya upaya yang serius dan konsistensi berbagai pihak. Meski demikian, pekerjaan rumah masih menanti, terutama di wilayah Papua yang masih menghadapi angka buta aksara cukup tinggi, yaitu di kisaran 16—50%. Inilah tantangan besar yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan kepedulian semua elemen bangsa.
Selanjutnya, untuk mempercepat penurunan angka buta aksara, pemerintah terus menyalurkan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) Keaksaraan. Pada 2025, bantuan ini ditargetkan menjangkau 35.000 penerima dengan besaran Rp600.000 per peserta. Dana tersebut tidak hanya digunakan untuk belajar membaca dan menulis dasar, tetapi juga untuk mengembangkan keterampilan hidup melalui program Keaksaraan Usaha Mandiri.
Pemerintah juga menyelenggarakan program Pendidikan Pemberdayaan Remaja dan Perempuan Dewasa. Di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, perempuan diberi kesempatan untuk mempelajari keterampilan hidup yang relevan dengan kebutuhan sehari-hari, sedangkan di Sanggar Kegiatan Belajar, remaja dan perempuan mengikuti program pemberdayaan yang berorientasi pada kemandirian ekonomi dan sosial.
Seiring dengan semangat digitalisasi, pemerintah juga meluncurkan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Nonformal yang awalnya hanya mencakup 59 lembaga dan kini berkembang menjadi lebih dari 120. Bahkan, ditargetkan 3.000 SPNF melaksanakan pembelajaran berbasis digital tahun ini, sehingga layanan pendidikan nonformal menjadi lebih inklusif, modern, dan sesuai tuntutan zaman. Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan nonformal bukan sekadar pilihan kedua, melainkan juga jalur penting dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul.
Peringatan Hari Aksara Internasional 2025 bukan hanya seremonial belaka, melainkan momentum refleksi kolektif. Menurut Dirjen Pendidikan Vokasi, PKPLK, literasi merupakan syarat mutlak untuk mendorong kemajuan bangsa. Sementara itu, menurut Direktur PNFI, Baharudin, Gebyar PNFI dan Perayaan HAI 2025 menjadi ruang konsolidasi semua pihak. Menurut Baharudin, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan keterampilan hidup yang menguatkan daya saing bangsa.
Literasi digital yang berkesalehan akan menjadi fondasi penting dalam menyiapkan masyarakat cerdas, adaptif, dan berkarakter di tengah derasnya arus perubahan global. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha harus semakin diperkuat agar tidak ada warga negara yang tertinggal dalam akses pendidikan dan literasi.
Puncak kegiatan pada 26 September 2025 dihadiri oleh berbagai pegiat literasi dari seantero tanah air. Selain itu, puncak kegiatan dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat dan Fajar Riza Ul Haq, Ketua Komisi X DPR, Hetifah Sjaifudian, serta Direktur Regional UNESCO Maki Katsuno-Hayashikawa. Kehadiran para pemangku kepentingan lintas sektor ini menunjukkan bahwa literasi adalah agenda strategis nasional sekaligus bagian dari komitmen global.
Menjelang acara puncak, Direktorat PNFI juga menyelenggarakan serangkaian webinar literasi digital untuk menumbuhkan kesadaran bahwa perjuangan keaksaraan adalah tanggung jawab bersama. Semua acara terbuka untuk khalayak, sehingga literasi bukan hanya milik satu kelompok, melainkan hak semua orang.
Pelaksanaan Gebyar PNFI dan Perayaan Hari Aksara Internasional 2025 menjadi pengingat bahwa literasi adalah fondasi peradaban. Tanpa literasi, masyarakat akan kesulitan menghadapi tantangan global, terjebak dalam arus informasi yang menyesatkan, dan tertinggal dalam persaingan. Sebaliknya, dengan literasi yang kuat—baik literasi baca-tulis maupun literasi digital—masyarakat akan lebih siap menghadapi perubahan, lebih tangguh dalam berkarya, dan lebih bijak dalam menggunakan teknologi. Seiring dengan tantangan digital, literasi yang berkesalehan tidak hanya membentuk manusia cerdas, tetapi juga manusia berakhlak, berkarakter, dan berdaya saing.
Perjalanan memberantas buta aksara memang panjang dan momentum Gebyar PNFI dan HAI 2025 menjadi ajakan untuk seluruh elemen bangsa berpartisipasi melalui tindakan sederhana: membaca bersama anak, mengajarkan teknologi secara bijak, atau mendukung komunitas belajar di sekitar kita. Dimulai dengan langkah sederhana, kita membangun kesalehan literasi digital untuk meneguhkan Indonesia sebagai bangsa yang melek, inklusif, dan berkeadilan.
