Konten dari Pengguna

Pendidikan: Ikhtiar Menyelaraskan Teknologi dan Kemanusiaan

Tatang Muttaqin

Tatang Muttaqin

Fellow di Groningen Research Centre for Southeast Asia and ASEAN.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tatang Muttaqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

4th Internasional Conference on Islam and Education. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
4th Internasional Conference on Islam and Education. Foto: Dok. Istimewa

Senin pagi, 18 Mei 2026, Universitas Islam Negeri (UIN) KH Abdurrahman Wahid menyelenggarakan perhelatan penting International Conference on Islamic Education (ICONIE) 2026. Ruangan penuh akademisi, peneliti, dan praktisi pendidikan dari berbagai negara. Ada yang datang membawa riset tebal dan juga ada yang sibuk membuka laptop seperti sedang berburu harta karun. Di tengah forum internasional itu, satu pertanyaan besar mengemuka: ke mana arah pendidikan kita di tengah dunia yang berubah begitu cepat?

Hari ini dunia bergerak dengan kecepatan yang kadang membuat sekolah dan perguruan tinggi seperti sedang mengejar kereta yang sudah telanjur berangkat. Teknologi berkembang luar biasa, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI), otomasi, digitalisasi, dan perubahan industri mengubah cara manusia bekerja hampir setiap hari.

Generasi muda kiwari bahkan lebih cepat memahami fitur AI dibanding memahami kenapa sinyal Wi-Fi rumah selalu hilang saat ujian daring dimulai. Oleh karena itu, pendidikan tidak bisa lagi berjalan dengan cara lama.

Dalam konteks demografi, Indonesia sedang berada pada momentum yang sangat menentukan, bonus demografi. Pada tahun 2037 nanti, jumlah usia produktif Indonesia akan mencapai puncaknya, di mana sebagian besar penduduk kita berada pada usia bekerja dan berkarya (produktif). Kondisi tersebut bisa menjadi berkah besar, tetapi juga bisa menjadi bencana besar. Bonus demografi nampaknya mirip durian runtuh, kalau siap, kita bisa menikmati manisnya namun kalau tidak siap, yang jatuh justru duri-durinya.

Masalahnya, kita masih menghadapi tantangan nyata, di mana data menunjukkan sebagian besar tenaga kerja Indonesia masih didominasi lulusan pendidikan dasar. Di sisi lain, banyak lulusan vokasi justru belum terserap optimal karena keterampilan yang diajarkan di sekolah sering kali tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan industri.

Pendidikan dan dunia kerja kadang seperti dua sahabat lama yang sudah lama tidak berinteraksi, saling mengenal dan membutuhkan namun tidak lagi sepenuhnya saling memahami. Oleh karena itu, pendidikan vokasi tidak boleh menjadi “museum teori” yang sibuk menghafal masa lalu. Pendidikan harus menjadi laboratorium kehidupan yang adaptif terhadap masa depan.

Di sinilah mengapa pendekatan pembelajaran harus berubah. Kita membutuhkan pembelajaran berbasis penyelesaian masalah, keterampilan berpikir tingkat tinggi (high order thinking skills, HOTS), STEM, literasi digital, dan kemampuan berpikir kritis. Peserta didik saat ini tidak cukup hanya diajari “tekan tombol ini” atau “ikuti langkah itu” karena dengan otomatisasi robot juga bisa melakukannya.

Dengan demikian, yang dibutuhkan dunia saat ini adalah manusia yang mampu berpikir: mengapa sesuatu terjadi, bagaimana memperbaikinya, dan bagaimana menciptakan solusi baru. Namun demikian, pendidikan masa depan bukan hanya soal teknologi, namun juga soal kemanusiaan.

Di era AI, manusia memang kalah cepat dalam menghitung data karena mesin bisa mengolah jutaan informasi dalam hitungan detik. Namun, ada satu hal yang belum bisa digantikan teknologi, rasa dan empati.Mesin tidak bisa memahami kecemasan siswa yang gagal ujian, juga tak bisa memeluk anak berkebutuhan khusus yang merasa minder, serta tidak bisa menggantikan kehangatan seorang guru yang berkata, “tidak apa-apa, mari coba lagi.”

Oleh karena itu pendidikan inklusif menjadi sangat penting. Tidak boleh ada anak yang tertinggal hanya karena kondisi ekonomi, disabilitas, lokasi geografis, atau keterbatasan akses teknologi. Pendidikan yang baik bukan pendidikan yang hanya melayani anak-anak yang sudah kuat namun pendidikan yang mampu memastikan semua anak punya kesempatan bertumbuh.

Selanjutnya, nilai-nilai spiritual menemukan relevansinya saat ini. Dalam konteks agama Islam, seorang muslim tidak pernah takut pada ilmu pengetahuan karena sejarah peradaban Islam telah membuktikan, ilmu dan teknologi justru tumbuh berdampingan dengan spiritualitas. Masalah terbesar bukan teknologinya, melainkan manusianya.

AI tanpa moral bisa berbahaya, juga teknologi tanpa empati bisa menjadi dingin dan pendidikan tanpa nilai bisa kehilangan arah. Oleh karena itu, masa depan pendidikan bukan memilih antara agama atau teknologi tetapi mempertemukan keduanya. Agama memberi arah moral dan teknologi memberi alat sehingga manusia tetap menjadi aktor sentralnya.

Pendidikan masa depan juga membutuhkan kolaborasi besar antara satuan pendidikan, industri, dan pemerintah. Kurikulum tidak boleh dibuat sendirian di ruang rapat tanpa mendengar kebutuhan dunia kerja. Kolaborasi dengan industri menjadi sebuah keniscayaan karena para pendidik perlu memahami realitas nyata lapangan termutakhir. Di samping itu, peserta didik khususnya di Pendidikan vokasi harus merasakan atmosfer kerja nyata sejak di bangku pendidikan.

Fakta menunjukkan bahwa dunia berubah terlalu cepat untuk dihadapi sendirian. Merujuk filosofi sederhana dari Lou Holtz yang menyatakan: “Life is 10% what happens to you and 90% how you respond.” Dengan demikian, perubahan teknologi, disrupsi dan kehadiran AI hanyalah 10 persen sehingga masa depan ditentukan oleh 90 persen cara kita meresponsnya. Selanjutnya, apakah kita mau belajar, mau beradaptasi dan mau berubah? Hal ini penting, karena masa depan sejatinya tidak sedang ditentukan di ruang-ruang elite saja namun sedang dipersiapkan di ruang kelas kecil, di sekolah vokasi, di laboratorium sederhana, dan di tangan para pendidik yang setiap hari tetap percaya bahwa pendidikan bisa mengubah hidup manusia.

Mungkin, di salah satu bangku sekolah hari ini, sedang duduk seorang anak yang kelak akan menjadi inovator besar Indonesia. Bukan karena ia lahir di kota besar dengan fasilitasnya paling mewah tetapi karena diberi kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan percaya bahwa dirinya juga punya masa depan.