SD Inpres dan Nobel Ekonomi 2019

Fellow di Groningen Research Centre for Southeast Asia and ASEAN.
Tulisan dari Tatang Muttaqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Senin, 14 Oktober 2019 merupakan saat istimewa untuk sejoli Abhijit Banerjee dan Esther Duflo, serta Michael Kremer, di mana The Royal Swedish Academy of Sciences mengumumkan ketiga akademisi di kota Cambridge tersebut dinobatkan sebagai peraih penghargaan paling bergengsi di bidang ekonomi, Hadiah Nobel karena telah memperkenalkan pendekatan baru (eksperimental) untuk mengurangi kemiskinan global yang fokus pada masalah pendidikan dan kesehatan anak.
Salah satu negara yang diteliti adalah Indonesia, terkait SD Inpres dan BPJS. Ndilalah, topik penelitian saya selama ini terkait pendidikan yang juga penikmat SDN Inpres Lojisari yang terletak di kaki bukit Gunung Papandayan, sekitar 20 kilometer dari kota Garut. Ketika saya berkunjung ke SDN Inpres, telah berubah nama sebagaimana ada di foto menjadi SDN Cisurupan 2.
Minat dan pengalaman ini membuat saya bersemangat saat saya ikut kursus di Harvard Kennedy School, Cambridge mendapat pengumuman bahwa sejoli Duflo dan Banerjee akan me-launching buku teranyar, Goods Economic for Hard Times. Usai selesai course jam 17.00, bersama dua sejawat di saat suhu udara minus 4 derajat langsung bergegas jalan kaki sepanjang 1,5 kilometer menuju lokasi launching buku.
Usai menikmati paparan dan tanya jawab, saya membeli bukunya dan sekaligus mendapat tanda tangan dari Duflo dan Banerjee, sambal memperkenalkan dari Indonesia, lulusan SD Inpres.
Selanjutnya, ketika saya mulai kerja, sempat juga membantu proyek semacam Inpres SD ini sehingga semakin paham bagaimana program raksasa ini direncanakan dan dieksekusi.
Kemudian, di era Pak BJ Habibie, tepatnya tahun 1999-2000, saya ditugaskan menjadi Pemimpin Proyek Inpres No. 1/1997 tentang Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMTAS) yang mendukung Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun melalui peningkatan gizi dan kesehatan siswa SD/MI negeri dan swasta.
Karena itulah saya tertarik menyimak kembali pemikiran sejoli peraih nobel yang juga dirujuk dalam buku saya, The Education divide in Indonesia : four essays on determinants of unequal access to and quality of education, http://opac.perpusnas.go.id/DetailOpac.aspx?id=1048950
Di bagian disertasinya pada tahun 1999 di Massachusetts Institute of Technology (MIT) bertajuk Essays in Empirical Development Economics, Duflo secara khusus menaluntik kebijakan SD Inpres yang diprakarsai pemerintah Era Orde (Inpres No.10/1973 tentang Program Bantuan Pembangunan Sekolah Dasar).
Sampai tahun anggaran 1993/1994, Inpres yang dirancang Widjojo Nitisastro, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas ini telah berhasil membangun sekitar 150.000 unit SD Inpres dengan dukungan sekitar 1 juta guru. Keberhasilan program Inpres SD ini, diakui dunia sehingga pada thun 1993, Lembaga PBB Urusan Pendidikan dan Kebudayaan, Unesco menganugerahkan Medali Emas Unesco Avicenna (Pendidikan) kepada presiden Soeharto saat itu.
Hal yang menarik dan baru, Duflo menganalisis dampak program SD Inpres terhadap tingkat pendidikan dan tingkat upah penduduk Indonesia dengan cara menggabungkan perbedaan jumlah sekolah di berbagai daerah dengan perbedaan antarkelompok yang disebabkan oleh durasi program.
Lebih lanjut, pada tahun 2000, Duflo menerbitkannya artikel berjudul Schooling and Labor Market Consequences of School Construction in Indonesia: Evidence from an Usual Policy Experiment yang mendedahkan bahwa program SD Inpres menjadi program pembangunan sekolah terbesar yang berkontribusi dalam memperluas kesempatan belajar di perdesaan maupun warga miskin perkotaan.
Hasil telaah Duflo menunjukkan bahwa pembangunan SD Inpres menyebabkan anak-anak usia 2-6 tahun pada 1974 menikmati tambahan 0,12-0,19 tahun untuk setiap sekolah per 1.000 anak yang sekaligus berkontribusi signifikan dalam penyelesaian pendidikan dasar. Ditilik dari aspek kesejahteraan, terjadi peningkatan upah 1,5-2,7% setiap sekolah tambahan, alias program Inpres SD sukses "meningkatkan" perekonomian.
Penelitian Duflo fokus pada Inpres SD 1972-1978, kini dua ilmuwan di Amerika Serikat sedang melanjutkan penelitian tentang SD Inpres ini, yaitu Maria Rosales-Rueda, seorang Asisten Profesor bidang Kebijakan Pendidikan di University of California, Irvine, dan Margaret Triyana Asisten Profesor bidang Ekonomi di Wake Forest University.
Temuan awal dengan tambahan data 1979-1983 menyatakan bahwa SD Inpres berkorelasi dengan meningkatnya kesehatan siswa, "Our preliminary findings show that the SD INPRES program is associated with better health outcomes for the exposed individuals and the children of these individuals”. Di samping itu, Rosales dan Triyana menyebutkan bahwa program SD Inpres merupakan contoh program yang keren (excellent) menjadi pioneer program Pendidikan di negara berpendapatan menengah bawah.
Penelitian dengan data besar berkelanjutan (time-series) di masa lalu tentu tak mudah karena pencarian data dan arsipnya sulit dan ini menjadi pembelajaran agar beragam arsip program-program pembangunan raksasa menjadi sangat penting. Tak hanya untuk bahan evaluasi juga untuk perkembangan ilmu pengetahuan yang akan berdampak secara global untuk memperkenalkan beragam prestasi dan praktik-praktik terbaik yang pernah Indonesia lakukan.
Di sinilah, pentingnya implementasi sistem informasi kearsipan dinamis elektronik (e-SIKD) yang digagas dan baru di-launching Arsip Nasional untuk direspon semua kementerian, lembaga pemerintah dan pemerintah daerah untuk secara bertahap dipraktikan.
