Agar Tidak Gugup Berbicara di Hadapan Orang Banyak

ASN di Badan Riset dan Inovasi Nasional BRIN . Saat ini bertugas di Kebun Raya Cibodas-BRIN , jabatan Pranata Humas Muda.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Tatang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap dari kita pasti suatu saat akan diminta untuk berbicara, baik dalam acara resmi maupun dalam acara keluarga, namun tidak semua orang mahir dan lancar dalam berbicara di depan orang banyak, bukan begitu?
Nah, apalagi jika anda adalah seorang pegawai dari suatu instansi pemerintah atau karyawan dari suatu perusahaan swasta biasanya jika posisi karier anda menduduki jabatan tertentu maka tuntutan untuk mempunyai kemampuan berbicara menjadi suatu keharusan.
Keharusan meningkatkan kemampuan berbicara memang dibutuhkan bagi siapa pun termasuk saya sendiri. Di kantor tempat saya bekerja, pimpinan sering menyuruh saya untuk menjadi pengatur acara, moderator atau presentasi. Kegiatan seperti ini biasanya berdasarkan waktu pelaksanaannya ada yang terencana namun ada juga yang tidak terencana (dadakan).
Untuk yang terencana, tentunya saya masih mempunyai kesempatan untuk mempersiapkan lebih dahulu sebelum acara berlangsung. Sedangkan yang sifatnya dadakan, saya tidak diberikan waktu yang cukup untuk persiapan sehingga membuat gugup dan jantung saya deg-degan
Contoh kegiatan yang sifatnya dadakan di antaranya seperti kunjungan tamu dinas secara tiba-tiba. Kegiatan seperti ini memerlukan penyambutan dari pimpinan setempat berupa welcoming speech sehingga memerlukan sedikit penataan ruangan acara, round down termasuk pemandu acara.
Kegiatan lainnya yang tak kalah menantang adalah ketika saya diperintahkan menggantikan posisi pengatur acara yang berhalangan hadir karena sakit dan ada kepentingan lain yang sifatnya sangat urgent.
Situasi ini membuat saya menjadi kelimpungan karena tanpa persiapan yang matang. Bagi saya setiap kegiatan berbicara di depan orang banyak dalam pelaksanaannya tetap saja masih ada perasaan gugup dalam diri saya sendiri meski audiens tidak tahu. Perasaan gugup ini biasanya muncul sebelum acara dimulai. Hal ini mungkin saja terjadi karena saya selalu menginginkan segala sesuatunya berjalan dengan sangat baik.
Menurut Rogers (1982:22-23) dikutip dari Buku Materi Pokok UT SKOM4312 “Public Speaking” Djoenaesih, dkk. ada tiga gejala umum yang membuat orang sulit berbicara di depan publik. Gejala-gejala tersebut adalah gejala fisik, gejala mental dan gejala emosional.
Gejala Fisik
Gejala fisik ini biasa dirasakan jauh sebelum penampilan dan muncul dalam bentuk ketegangan perut atau sulit tidur. Ketika presentasi berlangsung, gejala fisik tersebut umumnya berbeda pada setiap orang, tetapi umumnya berupa detak jantung yang semakin cepat dan lutut gemetar.
Jika demikian, maka akan membuat anda sulit berdiri atau berjalan menuju mimbar. Bahkan, sulit berdiri dengan tenang di muka pendengar anda. Selain itu, suara bergetar, sering kali disertai mengejangnya otot tenggorokan, atau terkumpulnya lendir di tenggorokan.
Dalam situasi tertentu, gejala fisik juga dapat berupa gelombang hawa panas, atau perasaan seperti akan pingsan, kejang perut yang kadang-kadang disertai perasaan mual. Dapat juga berupa hiperventilasi yaitu termasuk kesulitan untuk bernapas, mata berair, atau hidung berlendir.
Gejala Mental
Gejala ini terkait dengan gejala fisik yang umumnya terjadi selama pembicara tampil. Gejala mental ini di antaranya adalah mengulang kata, kalimat, atau pesan, hilang ingatan, termasuk ketidakmampuan pembicara untuk mengingat fakta atau angka secara tepat, dan melupakan hal-hal yang sangat penting. Gejala mental lainnya adalah tersumbatnya pikiran, yang membuat pembicara tidak tahu apa yang harus diucapkan selanjutnya.
Gejala Emosional
Gejala emosional menyertai atau mengawali gejala fisik dan mental, di antaranya adalah rasa takut yang bahkan muncul sebelum anda tampil, rasa tidak mampu, rasa kehilangan kendali, rasa tidak berdaya, seperti seorang anak yang tidak mampu mengatasi masalah, dan panik dan malu atau merasa dipermalukan saat berbicara berakhir.
Dikutip dari laman www.halodoc.com bahwa rasa gugup atau grogi saat harus tampil dan berbicara di depan orang banyak sangat wajar. Tetapi umumnya rasa gugup akan berangsur berkurang terutama jika kita menguasai apa yang harus disampaikan. Namun ternyata ada kondisi yang membuat seseorang merasa takut sehingga tidak bisa bicara di depan orang banyak.
Dalam dunia medis, rasa takut yang dialami seseorang ketika harus berbicara di depan umum disebut dengan istilah glossophobia. Fobia ini dapat terjadi pada siapa saja, dari berbagai rentang usia, dan kelas sosial. Lebih lanjut, glossophobia dijelaskan sebagai salah satu jenis fobia sosial yang membuat pengidapnya memiliki ketakutan yang kuat, ketika harus berbicara di depan umum.
Ketika dihadapkan pada situasi yang mengharuskan diri untuk berbicara di depan banyak orang, seperti pidato, debat, atau memberikan presentasi, pengidap glossophobia akan mengalami respons pertarungan dalam dirinya. Ini sebenarnya adalah mekanisme alami tubuh yang tidak dapat dicegah. Bisa dibilang, respons ini adalah cara tubuh bersiap untuk membela diri terhadap ancaman yang dirasakan.
Perasaan terancam itu yang kemudian mendorong otak melepaskan adrenalin dan steroid. Hal itu kemudian menyebabkan kadar gula darah, atau tingkat energi, meningkat. Selanjutnya, tekanan darah dan detak jantung pun akan ikut meningkat, mengirimkan lebih banyak aliran darah ke otot-otot.
Jika rasa takut berbicara di depan umum sangat parah atau mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan ragu untuk membicarakannya dengan psikolog atau psikiater. Salah satu solusi yang mungkin akan ditawarkan adalah psikoterapi atau terapi perilaku kognitif. Terapis akan mengajari cara untuk mengelola pikiran negatif, dengan berbagai cara, seperti:
Jangan berpikir "Saya tidak bisa membuat kesalahan," cobalah untuk menerima bahwa semua orang membuat kesalahan atau memiliki kelalaian saat bicara di depan umum.
Hindari berpikir "Semua orang akan berpikir saya tidak kompeten," fokus pada fakta bahwa audiens ingin kamu sukses. Kemudian, ingatkan diri bahwa materi yang dipersiapkan sudah cukup baik dan dikuasai;
Setelah mengidentifikasi ketakutan, berlatihlah mempresentasikan kepada kelompok-kelompok kecil yang mendukung. Saat kepercayaan diri tumbuh ketika bicara di depan kelompok kecil, bukan tidak mungkin jika rasa percaya diri itu juga terbangun untuk audiens yang lebih besar.
Sementara itu menurut MB. Rahimsyah. AR dalam “buku pintar MC dan Pidato” menyampaikanbahwa upaya mengatasi demam panggung secara garis besar ada dua cara untuk mengendalikan atau mengatasi demam panggung atau gugup. Pertama, metode jangka panjang yakni dengan mempelajari teori dan teknik tampil dan berbicara di depan umum, serta melakukan latihan berpidato.
Kedua, metode jangka pendek, jika keadaan mendesak yaitu dengan cara relaksasi atau melemaskan otot-otot yang tegang. Caranya adalah dengan menggoyangkan kaki, menyalami tangan sendiri dan meletakkannya di atas kepala, dan memutar-mutarkan leher dan bahu. Kemudian, menarik napas dalam-dalam, menggoyang-goyangkan tangan yang bergetar secara perlahan dan meletakkannya di atas mimbar, memegang sesuatu misalnya tisu di kepalan tangan sebagai pengalih ketegangan.
Sebelum tampil anda juga dapat memejamkan mata dan bayangkan audiens mendengarkan, tertawa, dan bertepuk tangan buat kita. Cara lainnya adalah ucapkan sesuatu kepada seseorang sekadar mengecek dan meyakinkan bahwa suara anda siap dikeluarkan di podium.
Beberapa solusi di atas mungkin bisa dipraktikkan, tetapi jika anda mempunyai solusi yang lebih jitu itu lebih baik.
Kalau saya, untuk mengurangi kendala tersebut biasanya mempelajari materi berulang kali. Bisa juga anda menuliskan beberapa kalimat dalam lembaran kecil terutama kalimat yag akan disampaikan di permulaan acara (opening). Terakhir, jangan lupa untuk datang lebih awal dan mencoba mikrofon serta menjelajahi ruangan yang akan digunakan untuk acara tersebut.
Selamat mencoba!!
