Peran Kebun Raya Cibodas dalam Sejarah Penelitian Tumbuhan Pegunungan Tropis

ASN di Badan Riset dan Inovasi Nasional BRIN . Saat ini bertugas di Kebun Raya Cibodas-BRIN , jabatan Pranata Humas Muda.
Tulisan dari Tatang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kebun Pegunungan Cibodas Bergtuin te Tjibodas adalah cikal bakal Kebun Raya Cibodas yang terletak di kaki Gunung Gede Pangrango pada ketinggian 1.450 m dpl. Sejarah berdirinya Kebun ini berawal dari Sejarah panjang penelitian dan konservasi yang dimulai sejak awal tahun 1830, bermula dari eksperimen J.E. Teijsmann (1808-1882), seorang ahli taman dan kurator terkenal Kebun Raya Bogor, yang bekerja sejak 1830.
Teijsman salah satu tugasnya adalah menyediakan sayur-mayur bagi Gubernur Jendral Hindia Belanda, sehingga hal ini mendorongnya melakukan eksperimen dengan membuka serangkaian lahan kebun pada beberapa ketinggian tempat, yaitu di Ciawi pada ketinggian 500 mdpl., di Cisarua pada 900 mdpl., di Sindanglaya pada 1200 mdpl. di Istana Cipanas, pada 1.100 mdpl. di Cibodas pada 1.450 mdpl. dan di beberapa tempat lainnya. (C.G.G.J. van Steenis, Flora Pegunungan Jawa 2010).
Dari beberapa tempat eksperimennya, ternyata Kebun Pegunungan Cibodas cocok untuk lahan permanen. Sejalan dengan perkembangan penelitian, Kebun Pegunungan Cibodas dijadikan kebun untuk pelestarian dan percobaan.
Treub Pada tahun 1889 mengusulkan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk memperluas Kebun Pegunungan Cibodas dengan sebidang hutan seluas 240 ha yang membentang hingga mata air panas pada ketinggian 2.000 mdpl. Kawasan seluas 240 ha ini kemudian dinyatakan sebagai sebuah Cagar Alam, dan sekarang menjadi Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Pohon-pohon yang ada di Kebun Pegunungan Cibodas pertama kali diberi nama,nomor dan dicatat letak-letaknya dengan teliti oleh Koorders pada tahun 1900-an, menjadikan Kebun Pegunungan Cibodas pada saat itu sebagai pusat terbaik untuk melakukan riset tentang flora pegunungan.
Untuk memperingati seabad berdirinya Kebun Raya Bogor, pada tahun 1917 para ilmuwan dari seluruh penjuru dunia mengumpulkan dana untuk membangun sebuah laboratorium di Kebun Pegunungan Cibodas. Pembukaan laboratorium tersebut diresmikan pada tahun 1920.
Pada tahun 1926 Cagar Alam diperluas hingga mencakup puncak-puncak Gunung Gede Panggrango, meliputi luas sekitar 1200 ha. Cagar Alam inilah yang menjadi objek begitu banyak penelitian ilmiah, yang menjadikan Cibodas begitu berharga bagi ilmu pengetahuan dunia.
Bagi kalangan peneliti biologi tropis dunia, Cibodas adalah “Tanah Suci”-nya dan merupakan Mekah bagi semua yang berminat mengkaji flora pegunungan Jawa (C.G.G.J. van Steenis, Flora Pegunungan Jawa 2010).
Tidak lama seusai perang, pada tanggal 7 Juli 1946, rumah kurator dan laboratorium di Kebun Pegunungan Cibodas habis dibakar oleh ekstremis. Sarana tersebut dibangun kembali pada tahun 1948-1952.
Pada tahun 1980, semua wilayah Cagar Alam Cibodas statusnya berubah menjadi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) terpisah pengelolaannya dari Kebun Raya Cibodas,TNGGP berada di bawah Departemen Kehutanan (sekarang: Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup), sedangkan Kebun Raya Cibodas berada di bawah pengelolaan Lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI).
Berikut beberapa capaian dan peristiwa penting yang terjadi di Kebun Raya Cibodas; Di kebun Raya Cibodas ditanam pertama kali pohon kina, Cinchona calisaya pada tahun 1852 tanaman ini sebagai obat penyakit malaria, penanaman kina inilah menjadi tonggak pertama penanaman kina di Indonesia.
Ditemukannya mikoriza di Kebun Raya Cibodas oleh JM Jansen (1890-1897). Mikoriza adalah jamur di dalam tanah yang mampu menginfeksi akar berbagai tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan. Akar yang terinfeksi bukannya meradang, tetapi makin memiliki kemampuan mengikat unsur hara seperti fosfat.
Mikoriza ini sangat penting untuk meningkatkan hasil panen tanaman pertanian.
Publikasi ilmiah Mikoriza ditulis JM Janse dari Belanda pada periode tahun 1890-1897. Hal ini diungkapkan oleh Didik dalam laman www.lipi.go.id (2011).
Peresmian sebuah laboratorium di Kebun Pegunungan Tjibodas pada tahun 1920, atas prakarsa dana dari ilmuwan dunia dalam rangka memperingati seabad berdirinya Kebun Raya Bogor.
Akademi Biologi didirikan di Kebun Raya Cibodas pada tanggal 10 Oktober 1955 yang diresmikan oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta dan dihadiri pula Menteri Pertanian Mohammad Sardjan.
Akademi ini didirikan atas prakarsa Koesnoto Setyodiwiryo direktur Kebun Raya Bogor guna menyediakan tenaga ahli biologi bangsa Indonesia yang profesional dan lepas dari pengaruh kolonial. (www.historia.id, 2017).
