News
·
15 September 2021 20:32
·
waktu baca 5 menit

Hobi yang Sempat Melejit di Awal Pandemi, Kini Merangkak Turun

Konten ini diproduksi oleh Tatum Septianing Laras
Hobi yang Sempat Melejit di Awal Pandemi, Kini Merangkak Turun (11033)
searchPerbesar
Ilustrasi tanaman hias, aglonema. Sumber gambar: Pixabay.com
Awal pandemi tahun lalu, banyak orang berlomba-lomba untuk menekuni hobi yang bisa dilakukan dari rumah, tidak terkecuali Anda, mungkin. Salah satu hobi yang menjadi tren kala itu adalah mengoleksi dan memelihara tanaman hias. Tanaman yang dikoleksi pun bermacam-macam, mulai dari tanaman memiliki daun berwarna hijau, merah, ungu, putih, hingga tanaman dengan daun berlubang-lubang. Bahkan ada salah satu jenis tanaman yang semakin nyeleneh konon katanya semakin mahal. Tidak dapat dipungkiri bahwa harga tanaman hias bervariasi, mulai dari harga motor-motoran hingga motor dan mobil sungguhan.
ADVERTISEMENT
Tahun lalu, di samping motor, tanaman hias juga menjadi salah satu barang mewah incaran para pencuri di tengah carut marut keadaan dan himpitan ekonomi. Banyak cerita tanaman dicuri, bahkan ada pula yang tidak tahu-menahu soal tanaman yang sedang hype, tiba-tiba saja menjadi korban, tanamannya raib.
Hobi memelihara tanaman hias di awal pandemi memang banyak digeluti, akan tetapi bagaimana tren memelihara tanaman hias akhir-akhir ini? Mungkin dapat dilihat dari lingkungan terdekat Anda, atau tetangga-tetangga dekat ketika awal pandemi tahun lalu bersemangat sekali membeli tanaman hias, berlomba-lomba melengkapi koleksi, kini hanya menjadi hobi masa lalu.
Tidak jauh-jauh, Bapak saya juga menjadi salah satu yang memiliki hobi mengoleksi tanaman hias di awal pandemi. Tahun lalu Bapak sering pergi ke penjual tanaman, satu minggu hingga dua kali. Bapak tidak pernah pulang tangan kosong dari sana, ada saja yang dibawanya, mulai dari mulai tanaman yang berwarna hijau, ungu hingga bibit pohon mangga dan jambu. Oleh karena merasa tren tanaman menurun, semangat Bapak juga ikut menurun, tapi kala itu berusaha memberi mandat kepada saya agar jangan sampai tanaman-tanaman itu tidak terawat, alhasil Bapak melimpahkan amanah itu ke saya dan adik, merawat sebisanya. Tidak dapat dipungkiri memang tren juga mempengaruhi semangat. Ya, namanya juga manusia, saya pun juga maklum, saya pun juga tipikal yang suka semangat di awal, nglokro di belakang. Hype di depan, bosan di belakang.
ADVERTISEMENT
Beberapa waktu lalu saya sempat pergi ke Kios Bioflora, penjual tanaman langganan Bapak di Kawasan Kecandran, Salatiga. Saya membeli pupuk untuk tanaman di rumah. Sambil melihat-lihat koleksi tanaman, saya mencoba bertanya ke penjaganya, bagaimana tren tanaman akhir-akhir ini. Memang ada kecenderungan menurun, harga-harga tanaman yang awal pandemi lalu meroket kini cenderung menurun. Akan tetapi masih ada bertahan untuk koleksi-koleksi pribadi. Jenis yang masih relatif stabil yaitu tanaman hias dari marga Philodendron dan Begonia, jelas penjaga Kios Bioflora.
Tak puas di sana, saya pun mencoba bertanya kakak saya yang berada di Cimahi, yang memiliki sampingan sebagai pemilik online shop Kebun Dandelion. Agaknya memang sama, hobi orang-orang untuk mengoleksi, memelihara tanaman hias cenderung turun, kakak saya pun mengungkapkan alasan yang paling relevan, terkait dengan banyak orang sudah mulai bekerja kembali di kantor atau work from office (WFO). Harga-harga tanaman juga mulai merangkak turun untuk beberapa jenis, akan tetapi masih ada beberapa yang masih relatif stabil seperti jenis monstera variegata. Pemilik Kebun Dandelion pun menjelaskan bahwa harga tanaman dipengaruhi oleh jenis tanaman hias, besar kecilnya tanaman, jumlah daun atau rimbunnya daun. Sebagai contoh monstera variegata yang memiliki empat jenis seperti monstera variegata putih, monstera variegata kuning, monstera variegata thai constellation, dan monstera variegata mint memiliki standar harga yang bervariasi. Bahkan disebut-sebut monstera variegata mint masih dibanderol ratusan juta rupiah.
ADVERTISEMENT
Dua pekan lalu, di tengah perjalanan pulang dari Ngablak, Kabupaten Magelang, saya sempatkan mampir ke penjual tanaman hias, Kios Sahabat Hati, yang berada di Kawasan Kopeng, Kabupaten Semarang. Sambil melihat-lihat koleksi tanaman hias, saya pun menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan ibu pemilik kios. Pemilik kios memaparkan bahwa awal pandemi memang sangat melejit, tetapi enam bulan ini turun, ditunjukkan pula salah satu tanaman dari marga Anthurium yang kala itu dibandrol satu juta kini hanya dihargai 650 ribu rupiah. Beliau juga mengungkapkan masih bersyukur masih bisa bertahan dan perlahan mulai merangkak stabil. Menurunnya minat tanaman hias ini dipengaruhi oleh menurunnya minat orang-orang terhadap tanaman.
Merawat dan memelihara tanaman memberikan kepuasan tersendiri, sebagai hiburan di tengah bosannya pandemi, juga menjadi penambah estetik rumah. Saya sendiri memiliki lebih banyak varian tanaman karena pandemi ini, tapi salah satu yang membuat saya tergelitik adalah nama salah satu varian yang salah kaprah, janda bolong. Pernah mendengar nama dagang tanaman itu?
ADVERTISEMENT
Janda bolong ini sebenarnya adalah salah satu tanaman dari jenis monstera. Janda bolong, istilah ini sendiri berasal dari penafsiran Bahasa Jawa yang mengalami kekeliruan. Berasal dari kata: ron yang artinya daun, kemudian do kependekan dari kata podo atau pada, dan bolong yang artinya berlubang, sehingga dilafalkan rondo bolong. Oleh karena mungkin hanya terdengar sekilas sama pengucapan 'ron do' dengan 'randa' yang berarti janda, jadilah istilah itu kaprah itu menyebar luas. Saya sendiri amat menyayangkan kesalah-kaprahan nama dagang tanaman itu.
Kembali ke hobi, apa pun hobi Anda saat ini, semoga Anda dapat menekuninya dengan baik terlebih jika berhubungan dengan makhluk hidup, sehingga tidak mangkrak dan berakhir mengenaskan. Semoga hobi-hobi lain yang menjamur di tengah pandemi seperti berolahraga, bersepeda, tidak surut seperti karena meniatkannya dari hati. Selamat menjalani hari dan mengembangkan hobi.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020