Mengapa Berani Bermimpi Bisa Menjadi Bunuh Diri Secara Perlahan

Lulusan UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan pegiat Komunitas Literasi di Kabupaten Bandung.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Taufik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Jika kita tidak mengupdate kemampuan kognitif, maka kita akan terjebak di masa lalu, terpenjara dalam ego yang kaku, ambisi yang buta dan mimpi yang menipu”. Peringatan ini menjadi sangat relevan ketika kita menelaah bagaimana masyarakat memaknai mimpi. Sedari dini, telinga kita kerap dimanjakan oleh narasi manis “Bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh, maka engkau jatuh di antara bintang-bintang.” Kalimat ini seolah menjadi bensin penyemangat, menyulut asa, akan kemampuan kita meraih mustahil. Namun, kedewasaan menyadarkanku pada sebuah kepahitan. Mimpi bukanlah selalu sayap yang membawa terbang, ia kerap kali hanyalah ilusi yang melumpuhkan, laksana jangkar yang menenggelamkan.
Bayangkan seorang pemuda yang memimpikan profesi dokter bedah, sebuah profesi prestisius yang didambakan banyak orang. Manakala ego mengambil alih, realitas pun dipaksa tunduk. Rasa trauma terhadap darah, yang sejatinya adalah sinyal biologis untuk berhenti, ia anggap sebagai tantangan fiktif yang dapat ditaklukan semata dengan kekuatan. Ambisi memanipulasi pikirannya, meyakinkan bahwa keinginan keras mampu mengalahkan natur diri. Hasilnya? Usia senja menghampiri, tanpa pernah menyentuh pisau bedah, menyisakan mimpi yang bertransformasi menjadi penyesalan yang menggerogoti jiwa.
Kombinasi antara ego, ambisi dan mimpi seringkali tak seimbang. Ketiganya dapat menjadi bahan bakar kemajuan jika dikelola dengan bijak, namun menjadi racun mematikan ketika mengagungkannya secara membabi buta. Seorang kawan pernah berkata “Manusia tumbuh bersama mimpinya”. Sepintas benar, namun jika dikaji lebih dalam, mimpi jenis apa yang justru menjerumuskan seseorang pada kehancuran. Tulisan ini akan mengkaji secara komprehensif bagaimana ego, ambisi dan mimpi, ketika kehilangan kendali dapat menjadi mekanisme bunuh diri secara perlahan. Lebih jauh, analisis ini akan menawarkan solusi untuk meredam dan menyeimbangkan ketiga pilar tersebut agar mimpi kembali menjadi kompas bukan jangkar.
Ego yang menggerogoti jiwa
George Herbert Mead (sosiolog dan filsuf, pelopor Teori Interaksionisme Simbolik), dalam karyanya Mind, Self, and Society (1934), berpendapat bahwa ego atau “self” bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir, melainkan tercipta dan berkembang melalui interaksi sosial. Menurut Mead, manusia tidak menciptakan dirinya dari kekosongan, melalui interaksi dengan orang lain, seseorang membentuk kesadaran akan dirinya sendiri dengan “melihat diri” dari sudut pandang orang lain (taking the role of the other).
Namun, dalam era kompetisi modern, mekanisme interaksi sosial ini kerap terdistorsi. Alih-alih menggunakan orang lain sebagai cermin untuk introspeksi, banyak individu yang menjadikannya standar komparasi yang memicu ego palsu. Mereka tidak lagi melihat diri mereka sendiri, melainkan terobsesi pada bayang-bayang kesuksesan orang lain. Distorsi ego inilah yang dialami oleh rekan dekat saya ketika mengikuti program maganghub, namun tergiur gaji besar seperti seniornya, ia memaksakan diri memilih Jakarta. Akibatnya, ia ditolak pada gelombang pertama. Ia mencoba kembali pada gelombang kedua dengan kota yang sama, namun kembali ditolak.
Ia terlalu mengandalkan ego dan merasa mampu bersaing di ibu kota. Sebaliknya, rekan sebayanya yang realistis memilih mendaftar di kota asal justru diterima dengan mudah. Kisah nyata ini membuktikan bahwa ambisi yang didorong oleh ego semata dan mengabaikan realitas hanya akan berujung pada penolakan serta kekecewaan yang sangat mendalam di kemudian hari.
Mata yang tertutup Ambisi
Secara etimologis, kata “ambisi” berasal dari bahasa Latin ambitio, yang berarti “berkeliling (untuk mencari dukungan suara),” merujuk pada praktik Romawi kuno berkampanye untuk jabatan politik dengan berkeliling menemui warga. Secara filosofis, ambisi didefinisikan sebagai perjuangan untuk meraih suatu pencapaian atau kehormatan, yang melibatkan dua unsur: keinginan akan pencapaian tersebut, dan kesediaan untuk berjuang mencapainya meski menghadapi kesulitan atau kegagalan. Definisi ini menggambarkan ambisi dalam wujudnya yang paling murni dan sehat. Akan tetapi, ketika dorongan untuk meraih kehormatan ini dicemari oleh keserakahan dan hilangnya kesadaran diri, ambisi bermetamorfosis menjadi obsesi yang membutakan. Ia tidak lagi menjadi kompas, melainkan penutup mata.
Kebutaan akibat ambisi ini pernah saya alami sendiri. Tahun lalu, saya mewakili Kabupaten Purwakarta dalam lomba Karya Tulis Ilmiah Hadis (KTIH) pada MTQ Jawa Barat ke-39. Meski telah mempersiapkan tulisan dengan matang, saya didorong oleh ambisi buta, arogansi intelektual, dan motivasi materialistis demi meraih hadiah. Akibatnya, saya gagal lolos babak semifinal. Kegagalan ini memicu frustrasi mendalam. Saya menyadari bahwa rasa hancur tersebut bukan semata akibat kekalahan, melainkan buah dari ambisi yang tidak dikendalikan oleh kerendahan hati. Peristiwa ini menyadarkan saya bahwa ambisi tanpa kesadaran diri justru akan menghancurkan seseorang.
Mimpi yang hampa
Menurut psikolog Daniel J. Levinson dalam The Seasons of a Man’s Life (1978), mimpi adalah citra masa depan yang memotivasi individu dalam menjalani kehidupan dan kariernya. Mimpi bukanlah konsep asing; ia telah ditanamkan sejak dini dan terus disuarakan melalui nasihat seorang guru maupun ibu. Mayoritas anak kecil memiliki mimpi dan cita-cita yang beragam, tetapi mereka belum sepenuhnya memahami perbedaan fundamental di antara keduanya.
Mimpi dan cita-cita sepintas tampak mirip, padahal memiliki perbedaan yang signifikan. Mimpi adalah sesuatu yang tidak terukur dan bersifat emosional, sedangkan cita-cita adalah sesuatu yang terukur dan bersifat rasional. Cita-cita adalah peta dari mimpi itu sendiri, selama kita tidak memiliki peta untuk apa yang kita inginkan, maka selamanya hal itu hanya akan menjadi ilusi.
Seorang kawan memiliki mimpi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister di kampus ternama seperti UGM. Namun, kesehariannya hanya dihabiskan untuk bermain, bersantai, dan sekadar berharap. Ia mengabaikan realitas bahwa kampus impiannya mensyaratkan sertifikat TOEFL dan skor TPA Bappenas yang tinggi. Waktu yang seharusnya dialokasikan untuk belajar tidak dimanfaatkan dengan baik. Alhasil, ketika ia mengikuti ujian TOEFL, skornya jauh dari standar, begitupun dengan skor TPA Bappenas yang tidak sesuai harapan. Kampus impian pun berakhir sebagai angan-angan, dan kesempatan yang seharusnya dimanfaatkan bermetamorfosis menjadi bom waktu. Mimpi tanpa peta dan tindakan nyata bukanlah motivasi, melainkan racun yang membunuh potensi diri secara perlahan melalui penyesalan yang berkepanjangan.
Menyeimbangkan Kompas: Sebuah Tawaran Solusi
Lantas bagaimana agar ego, ambisi dan mimpi tidak menjadi mekanisme bunuh diri secara perlahan, melainkan sebuah kompas yang mengarahkan kita menuju kesejahteraan batin. Solusinya terletak pada metakognisi dan penerimaan diri secara radikal. Pertama, kita harus meredam ego agar tidak menjadikan kesuksesan atau pencapaian orang lain sebagai standarisasi. Hal ini karena makna pencapaian dan kesuksesan setiap individu sangat subjektif dan tergantung pada bagaimana ia memaknai keadaannya sendiri. Kedua, menyeimbangkan ambisi dengan kapasitas dan kapabilitas diri. Memiliki ambisi yang kuat itu adalah hal baik, namun memiliki kesadaran untuk berhenti atau mengubah arah mimpi ketika kapasitas tidak lagi mendukung adalah kebijaksanaan yang jauh lebih baik.
Ketiga, mampu menjabarkan mimpi menjadi peta-peta kecil yang menuntun bukan membiarkannya sebagai tujuan tanpa aktualisasi. Mimpi hanyalah destinasi, tetapi cita-cita adalah kendaraan yang akan menghantarkan kita pada destinasi tersebut. Pada akhirnya, kedewasaan tidak diukur dari ego yang selalu ingin menang, ambisi yang tak pernah surut dan mimpi yang tak terbatas. Kedewasaan terwujud ketika kita mampu berjalan beriringan bersama ego, ambisi dan mimpi tanpa saling mendewakan satu sama lain. Ketiganya bukanlah entitas yang mesti dipisahkan, melainkan satu kesatuan yang mesti ada. Jika dikelola dengan kesadaran penuh, tiga pilar tersebut bukanlah jangkar yang menenggelamkan kita ke dasar penyesalan, melainkan sayap yang akan membawa kita terbang menuju singgasana kebahagiaan.
