Konten dari Pengguna

Ancaman Keadilan Layanan Publik di Ruang Siber

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Taufiq A Gani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Transformasi digital membawa janji efisiensi, tetapi sekaligus melahirkan kerentanan baru. Kini, keadilan layanan publik di ruang siber menjadi ujian nyata bagi negara. Hak-hak warga tidak lagi hanya ditentukan di kantor layanan atau ruang sidang, melainkan oleh algoritma, portal daring, dan infrastruktur digital yang rapuh.

Ketika sistem tergelincir karena bug, koneksi terputus, atau serangan siber, yang tumbang bukan hanya layanan. Yang perlahan tergerus adalah rasa keadilan itu sendiri.

Layanan Publik yang Rapuh

Kasus-kasus nyata sudah banyak terjadi. Darsinih, seorang janda lansia, gagal menerima bantuan sosial meski sudah masuk DTKS hanya karena satu huruf berbeda antara nama di KTP dan rekening bank. DPR mencatat banyak kasus serupa.

Portal layanan Sicantik pernah lumpuh total, membuat pelaku usaha terjebak dalam ketidakpastian administratif. Mereka tidak bisa mengurus izin dan tidak tahu harus mengadu ke mana.

Di sisi lain, kebocoran data kependudukan pada 2021, yang kembali berulang pada 2023, menyingkap rapuhnya perlindungan digital. Identitas warga berpindah tangan dan dijual di pasar gelap. Bila identitas saja tak terlindungi, bagaimana mungkin keadilan administratif bisa dijamin?

Serangan siber mengancam keadilan layanan publik—hak warga tak boleh runtuh di era digital, Gambar: AI Generated (Freepik)

Ruang Siber sebagai Arena Ancaman

Masalah-masalah ini bukan sekadar gangguan teknis. Ruang siber kini menjadi arena ancaman yang kompleks. Serangan siber bisa bermula dari kriminalitas biasa, tetapi dengan cepat bereskalasi menjadi operasi bersponsor negara.

Indonesia pun tidak kebal. Gangguan pada sistem bansos, pendidikan, izin usaha, atau layanan kesehatan dapat dimanfaatkan pihak luar untuk melemahkan kepercayaan publik. Inilah wajah baru ancaman di ruang siber: abu-abu, sulit dibedakan apakah kriminal, spionase, atau bagian dari perang siber. Namun dampaknya jelas: warga kehilangan hak, negara kehilangan daya tangkal.

Keadilan sebagai Korban Tersembunyi

Digitalisasi memang memudahkan, tetapi tanpa rancangan yang inklusif ia bisa menciptakan diskriminasi baru. Aplikasi yang hanya optimal di kota besar dengan koneksi stabil secara tidak langsung meminggirkan warga di daerah 3T. Itu bukan sekadar kelemahan desain. Itu bentuk nyata ketidakadilan digital.

Ketika serangan siber melumpuhkan portal layanan, warga tidak hanya kehilangan akses teknis. Mereka kehilangan hak. Maladministrasi digital bukan sekadar kesalahan kecil. Ia adalah kegagalan sistemik yang menyamar. Tanpa mekanisme koreksi yang berpihak pada rakyat, keadilan akan terkubur—di balik kode dan dinding pengaman digital.

Siapa Penjamin Keadilan di Ruang Siber?

Pertanyaan besar pun muncul: siapa yang menjaga keadilan di ruang siber?

Jawabannya tidak cukup infrastruktur atau kementerian teknis. Di sinilah Ombudsman RI memiliki peran strategis. Sebagai lembaga negara yang diberi mandat konstitusi untuk mengawasi pelayanan publik, Ombudsman adalah benteng terakhir keadilan administratif—bahkan ketika layanan sudah berpindah ke ruang digital.

Ombudsman bukan sekadar pos pengaduan. Dengan kewenangan pengawasan yang dimilikinya, Ombudsman dapat memberikan saran korektif maupun rekomendasi sistemik sehingga potensi maladministrasi digital dapat dicegah sejak awal. Dengan begitu, SPBE tidak menjadi tumpukan portal yang berjalan sendiri-sendiri, tetapi benar-benar hadir untuk rakyat.

Penutup: Keadilan Tak Boleh Tertinggal

Sering kali kita terlalu fokus pada infrastruktur digital dan keamanan teknis. Padahal, teknologi hanyalah alat. Yang menentukan apakah ia menegakkan keadilan atau meruntuhkannya adalah cara ia dirancang, dijalankan, dan diawasi.

Karena itu, kehadiran Ombudsman RI harus diperkuat. Ia adalah pengawal nilai, penjaga keadilan layanan publik di ruang siber—bahkan di tengah ancaman serangan dan perang siber yang kian nyata.

Infrastruktur digital bisa dibangun dalam hitungan bulan. Tetapi keadilan? Ia hanya tumbuh jika terus diperjuangkan. SPBE adalah janji negara untuk hadir lebih cepat dan lebih baik. Namun bila keadilan ditinggalkan, digitalisasi hanya akan memperlebar jurang ketimpangan.

Keadilan tetap harus terjamin—walaupun di ruang siber.