Mobil SAHABAT: Menghidupkan Literasi Anak di Tengah Bencana

Penulis kebijakan publik, reformasi birokrasi, ketahanan nasional, teknologi informasi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Taufiq A Gani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mobil SAHABAT bukan sekadar kendaraan, tapi gerakan literasi yang menjangkau anak-anak di tengah bencana.
Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., FRSPH, Ketua Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Tanggap Darurat Bencana USK, melalui rilis medianya menyebutkan bahwa kegiatan ini diinisiasi oleh Universitas Syiah Kuala (USK) dan didukung oleh Perpustakaan Nasional RI, membawa harapan melalui buku, pembelajaran darurat, dan dukungan psikososial ke tenda-tenda pengungsian di Aceh.
Dengan mobil biasa, tim relawan menyusun buku di bagasi dan menjelajah dari satu desa ke desa lain, menghadirkan ruang belajar yang aman, menyenangkan, dan penuh makna bagi 1.260 anak terdampak bencana.
Program ini merupakan pengembangan dari konsep Pembelajaran Darurat dan Dukungan Psikososial yang sebelumnya dilaksanakan secara menetap. Melalui pendekatan mobilisasi, kegiatan kini bisa menjangkau lebih banyak lokasi secara bergilir.
Di sinilah istilah "Mobil SAHABAT" menemukan maknanya: bukan kendaraan modifikasi ala perpustakaan keliling konvensional, tetapi mobil pribadi yang dimanfaatkan untuk menghadirkan buku dan bahan belajar secara adaptif dan fleksibel sesuai kondisi pengungsian.
USK mengintegrasikan empat kegiatan utama dalam satu rangkaian layanan: pembelajaran darurat, dukungan psikososial, distribusi makanan bergizi, dan layanan pustaka keliling. Anak-anak bukan hanya diajak belajar, tetapi juga diberi ruang untuk pulih secara emosional. Literasi menjadi bagian tak terpisahkan dari proses penyembuhan dan ketahanan mereka pascabencana.
Dr. Rina menambahkan:
“Mobil SAHABAT memungkinkan kami menjangkau lebih banyak titik pengungsian tanpa mengurangi kualitas pendampingan. Konsep ini menyatukan pendidikan darurat, dukungan psikososial, literasi, dan pemenuhan gizi anak dalam satu layanan terpadu yang adaptif terhadap kondisi lapangan.”
Setiap titik posko direncanakan akan mendapat dua kali kunjungan dalam seminggu, dengan rotasi pagi dan sore di lokasi berbeda. Dengan cara ini, distribusi layanan menjadi lebih merata dan berkesinambungan.
Peran Perpustakaan Nasional RI dalam program ini adalah menyediakan bahan bacaan yang relevan dan ramah anak. Melalui Pusat Pengembangan Perpustakaan/Madrasah dan Perguruan Tinggi (P3SMPT), koleksi yang dikurasi dikirimkan untuk memperkaya konten literasi Mobil SAHABAT.
Dr. Taufiq A. Gani, S.Kom., M.Eng.Sc., selaku Kepala P3SMPT Perpusnas RI, menegaskan pentingnya memastikan bahan bacaan tetap hadir bahkan di tengah krisis:
“Akses terhadap bahan bacaan harus tetap hadir, bahkan dalam kondisi bencana. Melalui kolaborasi dengan USK dan Mobil SAHABAT, Perpustakaan Nasional berkomitmen mendukung pemulihan anak melalui penyediaan buku yang sesuai untuk anak-anak” ujar Dr. Taufiq.
Program Mobil SAHABAT ini merupakan bagian dari skema PKM Tanggap Darurat yang dilaksanakan oleh USK dan didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Judul lengkapnya: “Program SAHABAT: Pendidikan Darurat, Kesiapsiagaan, Pendampingan Psikososial, dan Logistik Bergizi bagi Anak di Wilayah Terdampak Siklon Tropis Senyar Tahun 2025 di Provinsi Aceh.”
Di tengah keterbatasan dan ketidakpastian, gerakan ini menunjukkan bahwa literasi bukan sekadar soal buku dan bacaan. Ia bisa menjadi ruang aman, tempat pulih, dan bahkan jembatan harapan—bahkan saat segalanya tampak runtuh.
