Konten dari Pengguna

Pembelajaran Mendalam di Sekolah Tidak Akan Tinggalkan Perpustakaan

Taufiq A Gani

Taufiq A Gani

Penulis kebijakan publik, reformasi birokrasi, ketahanan nasional, teknologi informasi

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Taufiq A Gani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perpustakaan sekolah tidak boleh lagi terpinggirkan dari jantung pembelajaran. Inilah komitmen yang ditegaskan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Analisis Kebutuhan Pembelajaran Mendalam Berbasis Perpustakaan” yang digelar oleh Perpustakaan Nasional RI melalui Pusat Pengembangan Perpustakaan Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi (P3SMPT), bekerja sama dengan Badan Layanan Pendidikan Teknologi (BLPT) – Pusdatin, Kemendikdasmen bertempat di Gedung Perpusnas, Salemba, Jakarta (19/05/2025).

Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang diusung Mendikdasmen Prof. Abdul Mu'ti sejak awal 2025 menjadi dasar penguatan peran perpustakaan. Pendekatan ini menekankan suasana belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, sekaligus mendorong peserta didik memahami dan menerapkan pengetahuan secara kontekstual.

FGD ini melibatkan sembilan responden dari kalangan kepala sekolah, guru, dan pustakawan. Dua narasumber turut hadir: Dr. Uwes Anis Chaeruman dari Universitas Negeri Jakarta dan Muhamad Ihsanudin, Kepala Perpustakaan MAN Insan Cendekia Serpong. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian survei dan analisis lintas instansi yang telah berlangsung sejak awal tahun.

FGD Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah dalam Proses Pembelajaran, Gambar dari P3SMPT

Koordinator kegiatan, Arliana Wijayanti, menjelaskan bahwa FGD ini bertujuan memperkuat sinergi antara Perpusnas dan Kemendikdasmen, dengan melibatkan Pusdatin, Ditjen GTK, dan Ditjen PDM. Menurutnya, perpustakaan harus menjadi bagian integral dari sistem pembelajaran—masuk ke dalam silabus dan RPP, serta didukung oleh peningkatan kapasitas guru dan pustakawan.

“Integrasi teknologi digital menjadi langkah strategis,” ungkap Arliana. Ia menyebut katalog daring, pemantauan aktivitas membaca, dan platform pembelajaran adaptif sebagai prioritas. Lebih jauh, ia menekankan pentingnya menjadikan perpustakaan sebagai pusat literasi komunitas, yang inklusif bagi siswa, guru, orang tua, dan masyarakat sekitar. Pengembangan model pembelajaran pun harus disesuaikan dengan kondisi faktual perpustakaan di lapangan.

Analisis Kebutuan Pembelajaran Mendalam Berbasis Perpustakaan. Gambar dari P3SMP

Taufiq A. Gani, Kepala P3SMPT Perpusnas RI, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan strategis antara Kepala Perpusnas dan Dirjen PDM Kemendikdasmen. Dalam pertemuan tersebut, disepakati pentingnya memperkuat tata kelola perpustakaan secara menyeluruh, dari aspek perencanaan hingga evaluasi.

“Selama ini, perpustakaan sekolah sering kali tertinggal dalam ekosistem sekolah. Kita perlu keberpihakan sistemik agar perpustakaan tidak lagi menjadi ruang yang terabaikan,” tegas Taufiq.

Dukungan penuh disampaikan Kepala BPLPT – Pusdatin Kemendikdasmen, Wibowo Mukti. Ia mengungkapkan bahwa perpustakaan telah didesain sebagai komponen strategis dalam Rumah Pendidikan, platform digital terpadu yang sedang dikembangkan Kemendikdasmen.

Pandangan serupa datang dari para narasumber. Uwes Anis menggarisbawahi bahwa perpustakaan akan selalu relevan selama kontennya digital, kontekstual, dan mudah diakses. Ia bahkan menganalogikan sekolah sebagai mall pendidikan dan perpustakaan sebagai tenant utama penyedia informasi.

Sementara itu, Muhamad Ihsanudin menekankan bahwa strategi pengajaran menjadi kunci hidup-matinya perpustakaan. Ia menyarankan penerapan pembelajaran berbasis proyek, masalah, dan inquiry sebagai cara efektif untuk menghidupkan kembali peran perpustakaan di sekolah.

FGD ini dirancang sebagai bagian dari proses berbasis data yang komprehensif—bermula dari angket, dilanjutkan dengan wawancara, dan diperdalam melalui diskusi. Hasilnya akan dirumuskan sebagai dasar kebijakan bersama antara Perpusnas dan Kemendikdasmen. Dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis bukti, Perpusnas berharap perpustakaan sekolah dan madrasah dapat bertransformasi menjadi pusat pembelajaran aktif yang menyatu dengan denyut kehidupan akademik, bukan sekadar tempat menyimpan koleksi.