Menghindari Krisis Pangan Global Adalah Kewajiban Kita Semua

Halo! Saya Muhammad Taufiq Prayusta Mahawisnu. sekarang saya sedang menempuh pendidikan di IPB University. Saya lahir di Lampung pada 1 Maret 2004. Hobi saya menulis. Ayo membaca, karena membaca adalah jendela Dunia!
Konten dari Pengguna
24 Oktober 2022 21:09
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Taufiq Mahawisnu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Menghindari krisis pangan global adalah kewajiban kita semua. Berbicara tentang pangan, kita harus mengetahui apa definisi pangan terlebih dahulu sebelum terjun lebih jauh dalam membahas krisis pangan. Pangan merupakan segala yang berasal dari sumber hayati pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, perairan, baik yang diolah atau tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan dan minuman bagi konsumsi manusia ( Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan), sedangkan krisis pangan sendiri adalah Kondisi kelangkaan pangan yang dialami sebagian besar masyarakat di suatu wilayah yang disebabkan oleh, antara lain, kesulitan distribusi pangan, dampak perubahan lingkungan iklim, bencana alam dan lingkungan, dan konflik sosial.
ADVERTISEMENT
Menurut Ir. Soekarno pada 1952, persoalan makanan rakyat adalah persoalan hidup matinya bangsa. Kutipan pidato Bung Karno tersebut mengingatkan kita pada Deklarasi Roma pada 1992 yang mengatakan bahwa memperoleh makanan yang cukup dan aman adalah hak setiap individu. Jika ditelaah lebih dalam, artinya persoalan pangan ini sangat penting. Agar tidak kesulitan pangan, maka dibutuhkan upaya dalam meningkatkan hasil pangan khususnya di dalam negeri.
sumber : Taufiq Mahawisnu's Editor
zoom-in-whitePerbesar
sumber : Taufiq Mahawisnu's Editor
Diproyeksikan pada 2050, hampir 10 milliar jiwa di dunia akan membutuhkan pangan. Menurut Food and agriculture Organization (FAO), diperkirakan 690 juta jiwa atau 8,9 % orang di dunia akan mengalami kelaparan yang di picu dari berbagai faktor. Indonesia juga termasuk ke dalam negara yang rawan krisis pangan walaupun negeri ini pada hakikatnya merupakan negara agragris. Indeks ketahanan pangan global Indonesia berada pada posisi 62 dari 113 negara, dalam posisi ini negeri kita masih di bawah Malaysia dan Vietnam.
ADVERTISEMENT
Kondisi di atas tidak lepas dari permasalahan global maupun regional sekarang. Permasalahan global yang kita alami saat ini dampak konflik Rusia dan Ukraina yang menghambat perputaran minyak dunia sehingga biaya distribusi pangan naik serta tidak lupa juga dengan pandemi yang membuat sektor ekonomi terganggu. Salah satu permasalahan regionalnya petani sulit mendapatkan lahan. Ada beberapa upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan produktivitas pangan di dalam negeri dengan pembuatan regulasi pembatasan alih fungsi lahan serta memasyarakatkan produk pangan lokal.
Pembuatan Regulasi Pembatasan Alih Fungsi Lahan Tidak sedikit sawah yang beralih fungsi jadi. Faktanya di pinggir jalan Kota Baru, Lampung yang semulanya sawah, tetapi karena kebutuhan infrastruktur, sawah tersebut di jadikan perumahan. Memang infrastruktur dan pertanian sama-sama sektor yang harus diperhatikan Dewan Perwakilan Rakyat sebagai lembaga yang memiliki fungsi legislasi dengan membatasi pembangunan infrastruktur melalui sebuah regulasi yang tidak membolehkan membangun infrastruktur di wilayah strategis pertanian, misalnya di sekitar lahan yang memiliki irigasi yang baik.
ADVERTISEMENT
Alternatif dalam pembangunan tempat tinggal atau perumahan dapat digantikan dengan rumah bersifat vertikal dengan konsep rumah susun atau apartemen. Ide tersebut bisa kita lihat di Jakarta dalam pembuatan rumah susun dalam upaya mengatasi padatnya penduduk serta keterbatasan lahan yang ada di Jakarta. Konsep ini bisa kita terapkan dalam pembuatan regulasi tersebut dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan nasional.
sumber : Taufiq Mahawisnu's Editor
zoom-in-whitePerbesar
sumber : Taufiq Mahawisnu's Editor
Memasyarakatkan Produk Pangan Lokal Pola konsumsi makanan pokok pada masyarakat mulai berubah dengan tidak jarangnya melihat masyarakat mengonsumsi roti sebagai pengganti nasi sebagai makanan pokok. Roti terbuat dari gandum, permasalahannya kuantitas gandum sebagai makanan pokok tidak sebanyak padi walaupun negeri kita masi impor beras. Mengutip data dari Badan Pusat Statistik, impor gandum dan meslin mencapai 4.359 juta ton periode Januari sampai Mei. Bila konsumsi masyarakat berubah dari padi ke gandum sebagai makanan pokok, maka angka di atas akan naik drastis ke depannya. Maka dari itu kata sebagai bangsa penghasil beras daripada gandum, harus tetap menjadikan beras sebagai makanan pokoknya.
ADVERTISEMENT
Dari beberapa upaya di atas, besar harapan saya kepada seluruh pihak baik masyarakatnya sendiri maupun pemerintah pemegang regulasi tertinggi harus bersinergi mewujudkan ketahananan pangan yang ada di negeri ini. Semoga tulisan ini bisa jadi acuan dalam bertindak terkhususnya dalam menghindari krisis pangan di negeri ini.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020