Olimpiade itu Bukan Perang

Anggota KPPJB
Konten dari Pengguna
6 Agustus 2021 3:45
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Taufiq Sudjana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Olimpiade itu Bukan Perang (42039)
searchPerbesar
Ilustrasi cabor menembak Olimpiade Tokyo 2020 (Foto latar: Stadion Utama rancangan Zaha Hadid)
Jin Jong-oh, atlet cabang olahraga menembak asal Korea Selatan disorot oleh banyak kalangan. Bukan karena dia memenangkan pertandingan atau karena berhasil meraih medali emas. Ia mendapat reaksi dari berbagai pihak karena ucapannya menyinggung atlet peraih emas pada cabor menembak asal Iran, Javad Foroughi.
ADVERTISEMENT
Jin menuduh Foroughi sebagai anggota Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), yang oleh Amerika Serikat disebut sebagai organisasi teroris tahun 2019.
"Bagaimana teroris bisa juara pertama (Olimpiade)? Itu hal yang paling absurd dan konyol," katanya kepada wartawan setibanya di Bandara Internasional Incheon, Rabu (28/07).
Konyolnya, atlet yang sudah 5 kali turut memperkuat tim Korea Selatan pada even Olimpiade itu gagal pada ajang Olimpiade Tokyo 2020. Jin kandas melewati babak kualifikasi. Tak satu pun medali yang dia raih.
Bahkan, menurut catatan website resmi Olimpiade, satu-satunya atlet menembak Korea Selatan yang meraih medali adalah Kim Min-jung. Ia menjadi atlet peraih medali pertama dalam tim menembak Korea Selatan dengan mengantongi medali perak di nomor 25 meter air pistol putri.
ADVERTISEMENT
Di lain pihak, Foroughi, peraih medali emas pada nomor 10 meter air pistol putra Iran itu, justru mendapat pembelaan dari negaranya. Apa yang dituduhkan Jin terhadap Foroughi itu mendapat penyangkalan dari pihak Kedutaan Besar Iran untuk Korea Selatan.
Mendengar komentar Jin tersebut, Kedutaan Iran di Korea Selatan pun memohon agar cacian kepada Foroughi dihentikan. Dalam rilisnya, Kedubes Iran menyatakan IRGC sudah melindungi negara dan merupakan militer resmi "Negeri Para Mullah".
Situasi Panas Korea Selatan vs Iran Sebelum Olimpiade
Peristiwa yang menyulut hawa panas Korea terhadap Iran pernah terjadi sebelum pelaksanaan Olimpiade. Januari lalu, kapal tanker minyak berbendera Korea Selatan disita Iran di Selat Hormuz, Senin (4/1/2021).
Melansir CNBC, Iran menyebut kapal MT Hankuk Chemi tersebut melakukan pencemaran lingkungan. Kapal itu sendiri sedang dalam perjalanan dari Arab Saudi ke Uni Emirat Arab (UEA).
ADVERTISEMENT
Pasukan Garda Revolusi Iran menaiki kapal sekitar pukul 16.30 waktu setempat. Militer elit Iran itu menuntut pemeriksa wajah semua petugas di kapal. Diketahui kapal itu membawa 20 awak kapal. Terdiri 5 orang Korea, 11 orang Myanmar, 2 orang Indonesia dan 2 orang Vietnam.
Dengan kejadian itu Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mengirim kapal perang, Cheonghae, bergerak ke lokasi kejadian. Kementerian Pertahanan Korea Selatan mengatakan bahwa upaya ini dilakukan untuk menangani penyitaan kapal.
Mereka meminta bantuan angkatan laut multinasional yang beroperasi di perairan terdekat. Amerika Serikat. Bahkan sudah AS sudah berkomentar dan meminta Iran melepaskan kapal Korsel.
Insiden ini terjadi di tengah ketegangan yang makin meningkat antara Iran dan AS. Ini akibat dimulainya pengayaan uranium hingga 20% di fasilitas bawah tanah Iran, yang menandai peringatan setahun seorang jenderal Iran meninggal terkena ledakan bom dari pesawat tak berawak AS.
ADVERTISEMENT
Setelah 3 bulan lebih ditahan, Iran akhirnya membebaskan kapal tanker Korea Selatan, beserta kapten dan awak. Pembebasan kapal tanker tersebut diumumkan oleh Kementerian Luar Negeri Korea, Jumat (9/4/2021).
Iri Tanda Tak Mampu
Terakhir, kita perlu mengernyitkan kening sejenak untuk menanyakan apakah Jin Jong-oh sedang melakukan perang urat syaraf atau psywar (psychological warfare) terhadap Foroughi?
Faktanya, Foroughi lebih dulu meraih medali (24/07). Sementara tudingan Jin yang menuai kontroversi dan dicap rasis itu dia lontarkan tanggal 28 Juli.
Jin mengungkap tudingannya itu setelah tiba di bandara negaranya. Hal ini mengindikasikan apakah dia takut berkomentar ketika masih di Jepang?
Haruskah kita sebut dia itu ibarat “iri tanda tak mampu”. Sebuah peribahasa yang barangkali cocok dilontarkan kepada Jin Jong-oh. Karena, kalaupun itu perang urat syaraf, dia tidak sedang atau akan bertanding berhadapan dengan Foroughi. Apalagi Olimpiade itu bukan perang. Mungkin dia lelah! Dia meluapkan kekesalan atas kegagalannya membawa pulang medali.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020