Konten dari Pengguna

Lulus Kuliah, Punya Gelar, tetapi Bingung Punya Keahlian Apa

Taufiq Hidayat Rukmana

Taufiq Hidayat Rukmana

Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Taufiq Hidayat Rukmana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Dokumentasi Pribadi. Bangunan kampus tempat mahasiswa belajar dan menentukan careerpath kedepannya.
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Dokumentasi Pribadi. Bangunan kampus tempat mahasiswa belajar dan menentukan careerpath kedepannya.

Lulus kuliah seharusnya jadi awal perjalanan baru. Setelah bertahun-tahun belajar, mahasiswa diharapkan siap masuk dunia kerja dan menerapkan ilmu yang sudah diperoleh. Tapi bagi sebagian lulusan baru, justru di titik inilah muncul pertanyaan yang tidak mudah dijawab: sebenarnya, apa yang bisa saya tawarkan ke perusahaan?

Pertanyaan ini bukan sekadar soal mendapat pekerjaan. Ada mahasiswa yang lulus dengan nilai baik, rajin mengerjakan tugas, bahkan aktif berorganisasi, tapi tetap kesulitan menjelaskan keahlian apa yang benar-benar mereka kuasai. Mereka tahu apa yang dipelajari selama kuliah, tapi belum tentu paham bagaimana pengetahuan itu bisa dipakai untuk menyelesaikan persoalan di dunia kerja.

Hal ini menarik dibahas karena dunia pendidikan dan dunia kerja punya tuntutan yang tidak selalu sama. Di kampus, mahasiswa belajar memahami teori, mengerjakan tugas, menyelesaikan persoalan akademik. Di tempat kerja, mereka dituntut menerapkan pengetahuan, beradaptasi dengan lingkungan baru, berkomunikasi dengan orang lain, dan menyelesaikan pekerjaan sesuai kebutuhan organisasi.

Ini tidak berarti pendidikan di perguruan tinggi tidak berguna. Persoalannya, punya pengetahuan belum tentu sama dengan mampu menggunakannya dalam berbagai situasi. Di antara keduanya, ada proses pengembangan kompetensi yang sering luput dari perhatian.

Gelar Saja Belum Cukup

Selama kuliah, mahasiswa sering berorientasi pada target yang jelas: menyelesaikan mata kuliah, mendapat nilai baik, memenuhi syarat kelulusan, meraih gelar. Semua itu penting. Tapi kalau perhatian hanya terpusat pada pencapaian akademik, mahasiswa bisa kehilangan kesempatan mengenali kemampuan yang sebenarnya mereka miliki.

Mahasiswa manajemen, misalnya, mempelajari pemasaran, keuangan, operasional, dan sumber daya manusia. Setelah lulus, ia mungkin punya pemahaman dasar tentang berbagai bidang itu. Tapi ketika melamar kerja, perusahaan bisa menanyakan kemampuan yang lebih spesifik: mengolah data, menyusun laporan, melakukan analisis pasar, atau berkomunikasi dengan klien.

Di sinilah letak tantangannya. Mahasiswa tidak harus menguasai semuanya, tapi mereka perlu tahu bidang mana yang paling sesuai dengan minat dan kemampuannya, lalu mulai mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan di sana.

Pengalaman magang, proyek kuliah, organisasi, kerja paruh waktu, sampai usaha kecil-kecilan bisa jadi sarana menguji kemampuan itu. Dari situ, mahasiswa belajar mengenali apa yang sudah dikuasai, apa yang masih perlu diperbaiki, dan pekerjaan seperti apa yang ingin mereka tekuni. Sayangnya, pengalaman semacam ini baru dianggap penting ketika mahasiswa mulai mencari kerja. Padahal mengenali kemampuan diri bukan proses yang bisa selesai dalam semalam hanya karena kelulusan sudah di depan mata.

Baru Sadar Punya Potensi Setelah Lulus

Salah satu persoalan yang sering luput, mahasiswa belum tentu punya kesempatan mengenali potensinya selama kuliah. Mereka bisa saja menjalani perkuliahan sesuai tuntutan akademik tanpa pernah benar-benar mencoba berbagai jenis pekerjaan atau mengevaluasi kemampuan yang paling menonjol dari dirinya.

Akibatnya, ketika harus menentukan arah karier, pilihan yang ada justru terasa membingungkan. Ada yang melamar pekerjaan apa saja asal masih sesuai jurusan. Ada pula yang merasa harus menguasai banyak keterampilan sekaligus karena melihat persyaratan lowongan kerja yang macam-macam.

Kondisi ini membuat lulusan baru sulit menentukan prioritas. Mereka berusaha mengikuti banyak tuntutan, tapi belum punya arah pengembangan yang jelas.

Padahal setiap orang punya kombinasi kemampuan, minat, dan pengalaman yang berbeda. Dua mahasiswa dari program studi yang sama belum tentu cocok menekuni pekerjaan yang sama. Salah satunya mungkin lebih unggul dalam analisis data, sementara yang lain lebih menikmati pekerjaan yang berkaitan dengan komunikasi atau pengembangan ide. Perbedaan ini bukan berarti salah satunya lebih berbakat. Justru di situlah pentingnya mengenali potensi diri sebelum menentukan langkah berikutnya.

Dalam konteks manajemen talenta, mengenali potensi adalah langkah awal mengembangkan kemampuan seseorang agar sesuai dengan bidang yang ingin ditekuni. Potensi tidak otomatis berubah jadi kompetensi hanya karena seseorang memilikinya. Perlu latihan, pengalaman, umpan balik, dan kesempatan untuk terus belajar.

Manajemen Talenta Bisa Mulai Sebelum Seseorang Direkrut

Manajemen talenta umumnya dikenal sebagai bagian dari pengelolaan SDM di perusahaan: bagaimana organisasi mengidentifikasi, mengembangkan, menempatkan, dan mempertahankan orang-orang yang punya kemampuan serta potensi yang dibutuhkan. Tapi kalau dilihat dari perjalanan seseorang menuju dunia kerja, pengembangan talenta sebenarnya bisa dimulai jauh sebelum proses rekrutmen berlangsung.

Mahasiswa bisa mulai mengenali kemampuannya lewat pengalaman yang tersedia selama kuliah. Perguruan tinggi bisa membantu dengan menyediakan kegiatan praktik, proyek yang relevan dengan kebutuhan industri, kesempatan magang, dan bimbingan karier yang tidak melulu berfokus pada cara melamar kerja.

Perusahaan juga punya peran di sini. Ketika merekrut lulusan baru, perusahaan perlu memahami bahwa kandidat yang belum punya pengalaman kerja panjang tidak selalu berarti tidak punya potensi. Ada kemampuan yang sudah terlihat lewat pengalaman akademik atau kegiatan lain, sementara kemampuan lainnya mungkin masih perlu dikembangkan.

Ini bukan berarti perusahaan harus menurunkan standar kompetensi atau menerima semua kandidat tanpa pertimbangan. Perusahaan tetap perlu memastikan calon karyawan mampu memenuhi kebutuhan pekerjaan. Tapi penilaian yang hanya bertumpu pada pengalaman kerja sebelumnya berisiko membuat perusahaan melewatkan kandidat yang sebenarnya bisa berkembang kalau diberi kesempatan yang tepat. Program magang, pelatihan untuk karyawan baru, pendampingan, dan rekrutmen yang mempertimbangkan potensi bisa jadi cara menjembatani kebutuhan ini.

Kesiapan memasuki dunia kerja bukan Cuma tanggung jawab mahasiswa. Perguruan tinggi, perusahaan, dan mahasiswa sendiri punya peran yang saling melengkapi dalam proses pengembangan talenta ini.

Bukan Soal Siap Kerja, tapi Tahu Apa yang Perlu Dikembangkan

Mempersiapkan diri untuk bekerja tidak harus berarti menguasai semua keterampilan yang tercantum di lowongan kerja. Tuntutan setiap pekerjaan berbeda, dan kemampuan seseorang juga akan berkembang seiring pengalaman yang didapat.

Yang lebih penting adalah punya gambaran tentang kemampuan yang sudah dimiliki dan kompetensi yang masih perlu dikembangkan. Mahasiswa bisa memulainya dengan mengevaluasi pengalaman selama kuliah, meminta masukan dari orang lain, mencoba proyek yang relevan, dan mempelajari kebutuhan pekerjaan yang diminati. Dari sana, proses pengembangan diri jadi lebih terarah. Daripada mengikuti setiap tren keterampilan yang sedang populer, seseorang bisa memprioritaskan kemampuan yang sesuai dengan tujuan kariernya.

Perusahaan pun sebaiknya tidak melihat lulusan baru sebagai tenaga kerja yang harus langsung siap menjalankan semua tugas. Kemampuan dasar tetap diperlukan, tapi proses adaptasi dan pembelajaran juga perlu jadi bagian dari pengelolaan karyawan.

Gelar sarjana tetap punya nilai sebagai bukti seseorang telah menyelesaikan pendidikan tinggi. Tapi gelar itu tidak otomatis menjawab pertanyaan tentang keahlian, potensi, dan arah karier seseorang. Tantangannya bukan sekadar bagaimana mahasiswa bisa mendapat pekerjaan setelah lulus, melainkan bagaimana mereka mengenali kemampuan yang dimiliki dan mengembangkannya jadi kompetensi yang berguna.

Memasuki dunia kerja bukan garis akhir dari proses belajar. Justru di situlah seseorang mulai menguji, memperbaiki, dan menemukan lebih jauh kemampuan yang bisa jadi kekuatannya.