Jalan-jalan ke Jakarta

Majoring in Journalism, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Tauva Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jakarta adalah sebuah kota metropolitan, kota yang tak pernah tidur dari segala aktivitasnya , selalu menyimpan cerita pada saat susah maupun senang. Tak sedikit pula orang berlomba-lomba datang ke Jakarta hanya untuk mencari kerja, ada pula untuk bersenang dan bergembira.
Ada banyak cara untuk menuju Jakarta, dengan naik kendaraan umum yang tersedia ataupun dengan kendaraan pribadi yang dipunya. Dua pilihan yang sangat relatif tergantung keinginan ataupun tujuan, yang pasti selamat dalam perjalanan.
Teriknya sinar matahari tak membuat semangat surut untuk berkeliling Jakarta, membawa uang yang cukup untuk perbekalan, dan saya mengawalinya dengan naik kendaraan umum. Berpijaklah kaki saya di Stasiun Kereta, dengan menyiapkan saldo dalam kartu non-tunai saya sudah bisa berkeliling ke beberapa destinasi di Jakarta.
Berbicara tentang destinasi, yang terlintas di benak saya adalah berkeliling melihat museum. Suatu hal yang sangat menyenangkan di Jakarta banyak museum bersejarah yang bisa kita kunjungi, dan belajar lebih jauh mengenai hal-hal yang saya belum ketahui di museum.
Suara pemberitahuan bahwa kereta sebentar lagi telah sampai stasiun Jakarta Kota dan saya pun bergegas untuk turun. Suasana hiruk pikuk segala aktivitas dan perniagaan telah terlihat ketika saya memijakkan kaki keluar dari stasiun. Ramai namun tak acuh itu adalah pandangan saya ketika melihat sibuknya kota metropolitan.
Museum Fatahillah adalah tempat pertama saya dalam berkunjung. Suasana yang khas seperti berada di tempat-tempat zaman dulu, itu adalah yang saya rasakan ketika saya memijakkan kaki di tempat ini. Museum Fatahillah yang bernama resmi Museum Sejarah Jakarta beralamatkan di Jalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat.
Di dalam museum ini saya bisa menemui objek-objek seperti perjalanan sejarah Jakarta, replika peninggalan bersejarah, dan masih banyak lagi. Dan objek-objek tersusun rapi dan terbagi menjadi beberapa ruang.
Tak lupa dari situ saya mulai pergi mencari hal-hal yang bisa saya temui di sekitar daerah ini, terlihat banyaknya pedagang kaki lima telah menjajakan dagangannya dan musisi jalanan sedang memainkan alunan musik oh sungguh kearifan lokal yang tak asing bagi kita.
Jalan-jalan itu adalah hal yang sangat mengasyikkan bagi saya terlepas dari kesibukan apa pun itu, melihat hal-hal baru yang kadang tak disadari ketika kita sibuk walaupun itu di sekitar kita.
Namun seiring berjalannya waktu perut tak bisa bohong pertanda keadaan sudah mulai terasa lapar, tak lupa saya bila main di Jakarta selalu menyempatkan waktu untuk berkunjung ke tempat bakmie karet langganan saya tidak jauh dari destinasi awal tepatnya di daerah Taman Sari, Jakarta Pusat.
Salah satu tempat makan sederhana tetapi mempunyai cita rasa yang khas enaknya, mulai dari menyiapkan mi, ayam, dan kaldu bersama pangsit yang telah diracik secara khas membuat saya tak lupa untuk selalu berkunjung ke tempat makan ini sungguh nikmatnya.
Jalan-jalan adalah suatu hal yang menurut saya penting dalam kehidupan, melihat hal-hal yang baru, mengamati keadaan, mengabadikan moment-moment yang saya temui, dan berdialog dengan masyarakat sekitar tertawa, terhibur, membuka perspektif baru bagi saya adalah suatu hal yang berharga.
