Kekacauan Pikiran yang Menjelma menjadi Bunga Tidur

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Tawalla Aisy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bedah Plot dan Permainan Emosi dalam Cerpen Orang-Orang Sawah
Intoleransi dan perbedaan pandangan masih sering ditemukan dalam kehidupan masyarakat, mereka tidak hanya melahirkan konflik, tapi juga menimbulkan ketakutan dan prasangka yang kadang menghantui pikiran manusia. Hal inilah yang dibahas dalam cerpen Orang-Orang Sawah karya Depri Ajopan, menceritakan tentang seorang laki-laki bernama An, mantan kepala desa yang dipecat dan diusir karena dianggap sesat dengan mengizinkan orang dengan kepercayaan yang berbeda dengan warganya tinggal di kampungnya.
Konflik yang dihadirkan terasa realistis, rangkaian peristiwa yang ditulis bukan sekedar urutan cerita tapi sebuah plot yang utuh. Menurut M.H. Abrams dalam buku A Glossary of Literary Terms, plot dalam sebuah karya dibentuk oleh peristiwa dan tindakan yang diatur sedemikian rupa, kemudian tindakan yang dilakukan oleh karakter-karakter tersebut menunjukkan kualitas moral dan watak mereka. Dalam cerpen ini, watak tokoh An yang idealis serta tokoh adat yang bertentangan dengannya menjadi penggerak seluruh peristiwa.
Selain itu, M.H. Abrams juga membahas tentang kemunculan efek psikologis pada pembaca saat plot berkembang. Seperti yang terjadi dalam cerpen ini, susunan alur yang rapi berhasil membangun efek psikologis berupa suspense (ketegangan) dan surprise (kejutan).
Idealismu Menghancurkanmu
Cerpen dibuka dengan kisah An yang dipecat dari jabatannya sebagai seorang kades dan diusir secara tidak hormat. Ia dianggap sesat karena tidak pernah setuju dengan aturan adat di sana yang menolak orang-orang yang berbeda agama untuk tinggal di kampungnya.
"Kau seorang muslim bukan, sehingga berani melawan aturan kami yang sesuai perintah nabi. Atau jangan-jangan kau sudah masuk pada agama orang-orang sesat itu."
"Nabi mengatakan, mereka yang menuduh orang lain bukan muslim, padahal jelas-jelas orang itu muslim, sesungguhnya yang menuduhnya itulah yang bukan muslim. Nabi juga mengajarkan, janganlah engkau mencaci agama orang lain, supaya mereka tidak mencaci agamamu."
Dialog tersebut memperlihatkan watak An yang idealis dan berpegang teguh dengan prinsip kemanusiaan berbenturan dengan watak tokoh adat yang intoleransi dan penuh prasangka. Kemudian ketegangan bertambah ketika An akhirnya memutuskan untuk pindah ke kampung terpencil bersama istri dan anaknya.
"Kau yakin Bang kita betah tinggal di sini?" istrinya bertanya.
Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa keputusan An tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri tapi juga pada anak dan istrinya. Ren, istri An turut mempertanyakan keputusan suaminya karena khawatir akan masa depan anaknya yang masih bayi.
Peristiwa ini memberikan efek psikologis berupa suspense (ketegangan) bagi pembaca. Penulis membangun ketidakpastian sehingga pembaca akan menerka-nerka tentang bagaimana An dan keluarganya bertahan di kampung terpencil dengan sebuah rumah papan, lantai semen, dan kamar mandi di luar yang hanya ditutup dengan papan-papan yang hampir rapuh.
Teror yang Mengintai Kampung Lama
Setelah kepergian An dan keluarganya dari Kampung Air Talang, penduduk kampung menjadi sering kemalingan, para warga mulai mengaitkan hal tersebut dengan An. Namun, terdapat pro dan kontra terhadap tuduhan tersebut.
"Seharusnya kita tidak mengusir An. Selama dia di sini kampung kita aman saja dari kemalingan."
"Lebih banyak mudaratnya jika orang seperti itu tinggal bersama kita, lagi pula ia sudah dikeluarkan dari adat kita,"
Berdasarkan ungkapan tersebut beberapa warga menganggap bahwa An adalah kunci kampung mereka aman, tetapi banyak pula dari mereka yang tidak setuju dengan pendapat itu karena anggapan An membawa ajaran sesat sudah mendarah daging.
Efek psikologis berupa suspense (ketegangan) pada bagian ini semakin kuat, ketegangan yang dirasakan oleh pembaca bukan lagi tentang perekonomian An tapi kebenaran tentang maling tersebut, apakah An benar-benar dalang di balik teror kemalingan Kampung Air Talang?
Jebakan di Warung Kopi
Ketegangan alur mulai terasa berada di puncaknya ketika teror kemalingan Kampung Air Talang tidak kunjung reda, warga terpaksa bekerja sama dengan polisi, dan menceritakan semua kejadian dari mulai An yang diusir dari kampung sampai tuduhan bahwa An dalang di balik teror kemalingan ini. Polisi mulai menyelidiki An secara diam-diam dengan menyamar dan berbaur di warung kopi tempat An dan para orang sawah lainnya berkumpul.
"Sudah lama tinggal di kampung ini Pak?"
"Baru beberapa bulan ini,"
"Sebelumnya tinggal di mana Pak?"
"Air Talang."
"Desa yang sering kemalingan itu?" "Desas-desus itu sudah beredar. Cuma belum tahu siapa pelakunya."
An yang cenderung defensif akibat rasa sakit hatinya setelah diusir dari kampung tersebut, mendorongnya mengeluarkan tuduhan ekstrem terhadap polisi.
"Siapa lagi kalau bukan komandan polisi itu. Saya sering berbantahan dengannya demi kesejahteraan rakyat di sana. Ia yang memerintah orang untuk mencuri di sana. Tentu sebelumnya ia sudah atur strategi agar jangan ketahuan. Perintahnya tidak bisa ditolerir, dan tidak ada yang berani melawan kecuali saya..."
An yang cenderung defensif akibat rasa sakit hatinya setelah diusir dari kampung tersebut, mendorongnya mengeluarkan tuduhan ekstrem terhadap polisi.
Akibat kegegabahannya, An ditangkap, tangannya diborgol karena telah menuduh dan mencemarkan nama baik polisi. Efek psikologis berupa surprise (kejutan) muncul disini, pembaca yang awalnya mengira An adalah sosok pahlawan yang akan memenangkan argumennya, kini ditangkap hanya karena menuduh komandan polisi.
Terbangun di Rumah yang Sepi
Sebelum pembaca sempat bernafas setelah dikagetkan dengan adegan penangkapan An, penulis menghadirkan kejutan selanjutnya.
Astaga, untung cuma mimpi. An terbangun dari tidurnya. Ia mengusap wajahnya yang basah dalam rumah yang sepi.
Kalimat penutup tersebut menimbulkan efek psikologis berupa surprise (kejutan) yang sesungguhnya karena membongkar fakta bahwa konflik dengan warga kampung, penderitaan, teror kemalingan, hingga penangkapan An hanyalah bunga tidur. Struktur plot twist seperti ini berhasil memberikan efek psikologis yang kuat karena mengubah pemahaman pembaca terhadap situasi yang dialami tokoh An.
Kejutan yang Menipu dan Candu
Dilihat dari teori M.H. Abrams, alur cerpen Orang-Orang Sawah ini sangat rapi, cerita yang disajikan bukan sekadar urutan kejadian tapi digerakkan dengan hubungan sebab-akibat yang dapat dilihat dari benturan antara An yang idealis dengan tokoh adat dan warga kampung yang intoleransi.
Keberhasilan lainnya dari cerpen ini adalah cara penulis cerpen, Depri Ajopan yang sangat pintar memainkan psikologis pembaca, ia membuat pembaca tegang (suspense) dengan nasib perekonomian An dan misteri teror kemalingan, lalu memberikan kejutan (surprise) tak terduga di akhir cerita yang ternyata semua kejadian yang dialami An hanyalah mimpi. Namun, akhir cerita seperti ini dapat menimbulkan perspektif yang berbeda pada setiap pembaca. Ada beberapa pembaca yang menganggapnya sebagai penutup cerita yang menarik dan penuh kejutan tapi sebagian yang lain mungkin merasa penyelesaian seperti ini membuat konflik yang awalnya terasa nyata menjadi kurang berkesan.
Daftar Pustaka
Ajopan, Depri. (2026, 24 April). Orang-Orang Sawah. Kompas.id.
Abrams, M.H. (1999). A Glossary of Literary Terms (7th ed.). Fort Worth: Harcourt Brace College Publishers.
