Kucing Terapi bagi Pasien Paliatif

Mahasiswa Aktif UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ilmu Kesehatan Prodi Ilmu Keperawatan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Tazkia Aulia Azahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Terapi emosional dapat dibantu oleh kucing loh!

Rumah sakit sering kali identik dengan dokter, perawat, dan berbagai peralatan medis. Namun, di beberapa negara, kucing terapi mulai digunakan sebagai bagian dari pendampingan pasien, terutama mereka yang menjalani perawatan paliatif atau berada di akhir kehidupannya.
Mengenal Terapi Berbantuan Hewan
Terapi berbantuan hewan atau animal-assisted therapy merupakan pendekatan yang memanfaatkan interaksi antara manusia dan hewan untuk mendukung kesehatan fisik maupun psikologis pasien. Selama ini, anjing lebih sering dikenal sebagai hewan terapi. Namun, kucing juga mulai digunakan karena sifatnya yang tenang dan mampu memberikan rasa nyaman kepada orang-orang yang sedang mengalami kondisi sulit.
Berdasarkan tinjauan yang dilakukan oleh Palomino-Lázaro dkk. (2024), terapi berbantuan hewan dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien paliatif melalui pengurangan kecemasan, peningkatan suasana hati, serta dukungan emosional yang bermakna. Temuan ini menunjukkan bahwa proses perawatan tidak hanya berfokus pada pengobatan penyakit, tetapi juga pada kesejahteraan psikologis pasien.
Mengapa Kucing Dipilih?
Kucing memiliki karakter yang berbeda dibandingkan banyak hewan lainnya. Mereka cenderung tenang, tidak terlalu aktif, dan mampu membangun kedekatan dengan manusia tanpa membutuhkan banyak interaksi. Kehadiran seekor kucing sering kali memberikan suasana yang lebih hangat dan menenangkan.
Banyak pasien yang merasa lebih nyaman ketika dapat mengelus bulu kucing atau sekadar melihatnya tidur di dekat tempat tidur mereka. Dalam situasi ketika seseorang sedang menghadapi penyakit berat, interaksi sederhana seperti itu dapat memberikan rasa damai yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Menurut O'Loughlin dkk. (2024), interaksi dengan hewan dapat membantu mengurangi stres, meningkatkan kenyamanan selama masa perawatan, dan menciptakan hubungan emosional yang positif antara pasien dengan lingkungannya. Oleh karena itu, keberadaan hewan terapi semakin banyak dipertimbangkan sebagai pelengkap pelayanan kesehatan modern.
Kisah Kucing yang Menemani Pasien Menjelang Akhir Hayat
Salah satu kisah yang paling terkenal berasal dari Amerika Serikat melalui seekor kucing bernama Oscar. Oscar tinggal di sebuah pusat perawatan pasien lanjut usia yang juga merawat pasien dengan kondisi terminal. Selama bertahun-tahun, staf kesehatan memperhatikan bahwa Oscar sering menghabiskan waktu bersama pasien yang sedang berada pada hari-hari terakhir kehidupannya.
Kehadiran Oscar tidak digunakan sebagai alat medis ataupun penentu kondisi pasien. Namun, banyak keluarga dan tenaga kesehatan menganggap kehadirannya sebagai sumber kenyamanan. Di tengah suasana yang penuh kesedihan, seekor kucing mampu memberikan rasa tenang hanya dengan berada di sisi seseorang yang membutuhkan teman.
Kisah tersebut kemudian menarik perhatian dunia dan membuka diskusi mengenai manfaat emosional yang dapat diberikan hewan peliharaan kepada manusia, terutama pada masa-masa paling rentan dalam kehidupan.
Apa Kata Penelitian Terbaru?
Berdasarkan penelitian Pendry dkk. (2025), beberapa kucing memiliki karakteristik khusus yang membuat mereka cocok menjadi hewan terapi, seperti mudah beradaptasi, ramah terhadap orang asing, serta menikmati interaksi sosial dengan manusia. Karakteristik tersebut memungkinkan mereka memberikan pengalaman yang positif bagi pasien di berbagai fasilitas kesehatan.
Selain itu, menurut Roth (2026), kehadiran kucing terapi dalam lingkungan perawatan paliatif dapat membantu menciptakan suasana yang lebih manusiawi, hangat, dan mendukung kesejahteraan emosional pasien maupun keluarganya. Temuan tersebut memperkuat pandangan bahwa kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga kenyamanan emosional seseorang.
Bisakah Diterapkan di Indonesia?
Melihat berbagai manfaat yang telah ditemukan melalui penelitian, konsep kucing terapi berpotensi untuk diterapkan lebih luas di masa depan, termasuk di Indonesia. Tentu saja penerapannya perlu mempertimbangkan aspek kebersihan, keamanan pasien, serta kondisi kesehatan masing-masing individu.
Meski demikian, gagasan ini menunjukkan bahwa proses penyembuhan tidak selalu berasal dari obat-obatan atau tindakan medis. Terkadang, rasa nyaman dapat hadir melalui hal-hal sederhana, termasuk dari seekor kucing yang setia menemani seseorang di masa-masa sulitnya.
Di era modern seperti sekarang, kesehatan sering kali hanya dikaitkan dengan obat-obatan dan tindakan medis. Padahal, kondisi emosional seseorang juga berperan penting dalam menentukan kualitas hidupnya. Kehadiran kucing terapi membuktikan bahwa perhatian dan kasih sayang dapat datang dari berbagai bentuk, bahkan dari seekor hewan kecil yang tidak mampu berbicara. Hal ini menjadi pengingat bahwa manusia tidak selalu membutuhkan solusi yang rumit untuk merasa lebih baik, terkadang mereka hanya membutuhkan teman yang menemani di saat-saat tersulit.
Kucing mungkin tidak mampu menyembuhkan penyakit berat ataupun mengubah kondisi medis pasien. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kehadiran mereka dapat membantu memberikan ketenangan, mengurangi rasa kesepian, dan meningkatkan kualitas hidup pasien, terutama mereka yang sedang menjalani perawatan paliatif.
Pada akhirnya, keberadaan kucing terapi mengingatkan kita bahwa dalam dunia kesehatan, perhatian, kasih sayang, dan rasa ditemani sering kali memiliki arti yang sama pentingnya dengan pengobatan itu sendiri.
