Mengatasi Tekanan Darah Tinggi yang Dapat Menyebabkan Kematian Mendadak

Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatulah Jakarta
Konten dari Pengguna
11 November 2021 14:15
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Tazkiyatul Muthiah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber gambar: pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar: pixabay.com
ADVERTISEMENT
Tekanan darah tinggi saat ini menjadi masalah di Indonesia, karena penyakit ini adalah salah satu penyebab kematian terbanyak di negara kita.
ADVERTISEMENT
Tekanan darah tinggi atau biasa disebut hipertensi merupakan salah satu penyakit yang banyak di jumpai oleh masyarakat baik remaja ataupun dewasa. Sebagian besar seseorang yang mengidap hipertensi terkadang tidak mengetahui bahwa dirinya mengalami hipertensi sehingga baru diketahui setelah penyakit tersebut menjadi komplikasi.
Hipertensi sering disebut sebagai silent killer karena pengobatannya yang seringkali terlambat dan tanpa gejala. Akan tetapi, ketika teman-teman memiliki gejala seperti sakit kepala, keluar darah dari hidung (mimisan), denyut jantung yang tidak normal, pandangan berbayang, dan telinga terasa berdengung hal itu termasuk dalam hipertensi yang sudah sangat parah. Selain itu, ketika teman-teman mengalami hipertensi yang tidak terkontrol akan merasakan sakit pada bagian dada, mengalami serangan jantung, stroke, bahkan dapat menimbulkan kematian secara mendadak.
ADVERTISEMENT
Menurut WHO, kasus penderita hipertensi telah terdata sebanyak 50%, dari 25% diketahui telah mendapat pengobatan, sedangkan 12,5% telah terobati dengan baik. Jumlah penderita hipertensi di Indonesia sekitar 70 juta orang tetapi hanya 24% orang yang mengalami hipertensi terkontrol. Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar pada tahun 2018 bahwa penderita hipertensi mencapai 34,11% pada usia di atas 18 tahun. Selain itu, seseorang yang berusia di atas 65 tahun yang memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, gangguan ginjal yang dapat berisiko lebih tinggi mengalami hipertensi.
Perlu kita ketahui ketika tenaga kesehatan, pasien dan masyarakat tidak mengetahui banyak tentang hipertensi itu akan menjadi penyebab utama hipertensi tidak dapat terkontrol dengan baik tekanan darahnya. (Park, J.B., 2015).
ADVERTISEMENT
Masyarakat perkotaan akan mengalami potensi hipertensi lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat pedesaan. Hal ini dikarenakan hipertensi sudah tidak asing lagi di telinga kita dan telah lama diketahui sebagai penyakit yang memiliki banyak faktor yaitu mulai dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal seperti jenis kelamin, umur, dan genetik, sedangkan faktor eksternal seperti mengalami stress, pola makan yang tidak bergizi, kebiasaan olahraga yang tidak teratur, dan gaya hidup yang tidak baik.
Seperti halnya pada kondisi gaya hidup yang dapat memengaruhi berat badan lebih atau obesitas, memiliki riwayat hipertensi, berat saat lahir yang rendah, mengkonsumsi garam yang tinggi, meminum minuman keras, memakan makanan yang kadar lemaknya tinggi dan merokok. Gaya hidup ini sangat berpengaruh terhadap tindakan dan perilaku kita yang dapat mengakibatkan terjadinya hipertensi.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan dari data Riskesdas 2018 bahwa penduduk yang berusia 15 tahun ke atas memiliki faktor risiko seperti 95,5% pada tingkat masyarakat yang kurang memakan sayur dan buah, 35,5% kurang melakukan aktivitas fisik, tingkat orang yang merokok sebanyak 29,3%, seseorang yang mengalami obesitas sentral 31% dan obesitas umum 21,8%.
Dari sebagian teman-teman pasti banyak yang berpikir bahwa penyakit ini sesuatu yang biasa, padahal kita perlu menyadari bahaya dari penyakit ini. Bahaya dari penyakit ini yaitu dapat mengalami kerusakan pada organ yang kita miliki khususnya pada organ yang memiliki pembuluh darah seperti otak, mata, jantung, dan ginjal. Selain itu, penyakit ini juga dapat menyebabkan kematian secara mendadak. Jika hipertensi yang kita idap ini telah mengarah pada komplikasi maka tergantung dari besarnya suatu peningkatan tekanan darah dan lamanya suatu kondisi yang tidak terdiagnosis dan tidak terobati.
ADVERTISEMENT
Hipertensi dapat dicegah dengan menghentikan perilaku berisiko seperti kebiasaan kita yang sering merokok, saat kita melakukan diet yang tidak sehat seperti kurang mengkonsumsi buah dan sayur, kita tidak boleh mengkonsumsi gula, garam dan lemak secara berlebihan, kita dapat menurunkan berat badan agar tidak terjadi obesitas, kita perlu untuk meningkatkan aktivitas fisik secara teratur, kita tidak boleh mengkonsumsi alkohol secara berlebihan dan kita mampu untuk mengontrol stress dengan baik.
Jika tekanan darah mengalami keberlanjutan sebaiknya diperiksa ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang lebih intensif agar penyakit tidak semakin parah. Akan tetapi, kebanyakan penderita hipertensi dapat mengelola hipertensi dengan melakukan perubahan gaya hidup yang sehat walaupun sebagian ada yang memerlukan tambahan obat-obatan.
ADVERTISEMENT
Referensi:
BEM FKKMK, 2021. Hari Hipertensi Sedunia. Diakses pada 6 November 2021 Pukul 00.01 WIB.
Ii, B A B, dan Tinjauan Pustaka. “BAB II Tinjauan Pustaka BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1,” 2002, 1-64
Kemenkes RI, 2019. Hipertensi Penyakit Paling Banyak Diidap Masyarakat. Diakses pada 5 November 2021 Pukul 23.38 WIB.
Kemenkes RI, 2018. Bagaimana cara mencegah dan mengobati hipertensi?. Diakses pada 9 November 2021 Pukul 23.50 WIB.
Sartik, Sartik, RM. Suryadi Tjekyan dan M. Zulkarnain. “Rish Factors and the Incident of Hipertension in Palembang.” Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat 8, no. 3 (2017): 180-91. https://doi.org/10.26553/jikm.2017.8.3.180-191.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020