Di Balik Jas Almamater: Struggle Mahasiswa yang Sering Dianggap Sepele

Mahasiswa Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Tazqiya Noor Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
> “Kuliah itu enak, cuma duduk di kelas, nugas sedikit, terus libur panjang.”
Kalimat itu mungkin sering kita dengar. Tapi, bagi jutaan mahasiswa di Indonesia, realitanya tak semanis itu.
---
🎓 Kuliah Tak Sesimpel yang Banyak Orang Kira
Menjadi mahasiswa bukan cuma soal hadir di kelas dan mengumpulkan tugas. Di balik jas almamater yang terlihat rapi, ada perjuangan panjang yang kerap tersembunyi. Mulai dari tekanan akademik, krisis identitas, sampai beban finansial yang diam-diam menggerus mental.
Menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, hampir 60% mahasiswa Indonesia pernah mengalami stres atau burnout selama masa studi. Sebagian besar dari mereka tidak pernah mencari bantuan profesional, karena menganggap "itu hal biasa".
---
🧠 Tekanan Akademik & Kesehatan Mental
Tugas bertumpuk, revisi skripsi yang tak kunjung usai, dan nilai IPK yang harus dipertahankan—semuanya menciptakan tekanan yang tak terlihat.
Tak jarang mahasiswa harus begadang berhari-hari, demi mengejar tenggat waktu tugas. Tapi saat terlihat lelah, komentar yang muncul justru, “Namanya juga mahasiswa, wajar capek.”
Padahal, burnout adalah kondisi serius. Bila dibiarkan, bisa berkembang menjadi gangguan kecemasan atau depresi. Namun stigma masih membuat mahasiswa enggan mencari pertolongan.
---
💸 Bertahan Hidup dengan Uang Pas-pasan
Banyak mahasiswa di Indonesia hidup dengan uang saku pas-pasan. Di luar biaya UKT, mereka masih harus memikirkan ongkos kos, makan harian, pulsa internet, hingga print tugas. Belum lagi kebutuhan tak terduga seperti iuran kelompok, praktikum, atau seminar.
Sebagian memilih bekerja paruh waktu—jadi barista, admin online shop, bahkan freelance desain. Tapi itu berarti mereka harus pintar membagi waktu antara belajar dan bekerja, seringkali mengorbankan waktu istirahat.
> "Pernah gak makan seharian demi bayar print laporan akhir? Kami pernah."
---
🧍♂️ Sepi di Tengah Keramaian
Ironisnya, kampus yang ramai tidak selalu membuat mahasiswa merasa memiliki "teman". Banyak dari mereka yang kuliah jauh dari rumah, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan merasa asing di tengah kerumunan.
Media sosial sering kali memperparah keadaan. Melihat teman-teman yang tampaknya "sukses lebih dulu" bisa memicu rasa tidak berharga. Padahal, semua orang sedang berjuang di jalannya masing-masing—hanya saja tak semua perjuangan terlihat.
---
⏳ “Masa Muda” yang Terlilit Deadline
Katanya, masa kuliah adalah masa emas untuk mengeksplorasi diri. Tapi bagaimana mau eksplorasi kalau tiap minggu dihantui deadline?
Banyak mahasiswa ingin aktif berorganisasi, ikut komunitas, atau sekadar menikmati waktu sendiri. Namun padatnya aktivitas akademik membuat hal itu sering tertunda atau bahkan tidak sempat dilakukan sama sekali.
> “Mereka bilang, nikmati aja masa kuliah. Tapi kapan?”
---
🤝 Kamu Tidak Sendiri
Yang perlu diingat, kita tidak sendirian dalam perjuangan ini. Semua mahasiswa pernah merasa capek, gagal, bingung, atau ingin menyerah.
Maka, jangan ragu untuk cerita. Entah ke teman, keluarga, dosen pembimbing, atau tenaga konselor kampus. Tak ada salahnya meminta bantuan. Justru itu tanda kamu peduli pada dirimu sendiri.
---
Menjadi mahasiswa adalah proses yang penuh warna—tidak selalu indah, tapi sangat berharga.
Jika hari ini kamu merasa lelah, ingatlah: kamu sudah berjalan sejauh ini. Dan itu bukan hal kecil.
> Kuliah itu berat. Tapi kamu lebih kuat dari yang kamu kira.
