Hijrah Zaman Now: Apa Kata Hadis tentang Perubahan Diri?

Mahasiswa Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Tazqiya Noor Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Fenomena hijrah sudah menjadi salah satu tren yang paling banyak dibicarakan, terutama di kalangan generasi muda Islam. Dari sekadar mengganti penampilan hingga mengikuti kajian-kajian Islam yang populer, hijrah seakan menjadi gaya hidup baru bagi banyak orang. Namun, apakah hijrah hanya sebatas perubahan gaya hidup atau ada makna yang lebih dalam menurut hadis Nabi ﷺ? Mari kita kaji lebih dalam melalui perspektif ilmiah.

Hijrah dalam Perspektif Hadis
Dalam kajian ilmu hadis, hijrah bukan sekadar proses perpindahan fisik, sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat pada masa awal Islam. Konsep hijrah dalam Islam jauh lebih mendalam ia berkaitan dengan perubahan internal yang membawa seseorang dari kebiasaan buruk menuju kehidupan yang lebih baik dan sesuai dengan tuntunan syariat.
Salah satu hadis yang sangat sering dijadikan rujukan tentang makna hijrah adalah hadis Nabi ﷺ yang berbunyi:
"Al-muhājir man hājara mā nahā allāhu ‘anhu."
Artinya: “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah.”
(HR. al-Bukhari, no. 10)
Hadis ini memberikan definisi yang jelas mengenai makna hijrah. Hijrah bukan sekadar tindakan fisik, melainkan sebuah perubahan mendalam yang melibatkan perubahan dalam pikiran dan hati. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa orang yang berhijrah adalah orang yang berusaha meninggalkan segala perbuatan yang dilarang oleh Allah, meski mungkin tampaknya itu adalah kebiasaan yang sudah lama dilakukan.
Melalui hadis ini, kita bisa memahami bahwa hijrah bukanlah soal berapa lama kita mengenakan pakaian yang lebih syar’i atau mengganti foto profil di media sosial. Lebih dari itu, hijrah berarti meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan amalan yang lebih baik.
Makna Hijrah di Zaman Digital
Di era digital sekarang, hijrah semakin menjadi sorotan. Banyak orang muda yang tiba-tiba muncul dengan tampilan baru lebih sopan, lebih Islami. Ada yang mulai mengikuti kajian Islam, menghapus konten yang dulu pernah diposting, bahkan menanggalkan aktivitas yang dianggap tidak sejalan dengan prinsip-prinsip agama. Namun, apakah ini semua sudah memenuhi esensi hijrah menurut ajaran Islam?
Sebuah fenomena yang sering terlihat adalah bagaimana orang begitu cepat bertransformasi di luar, tetapi tidak diikuti dengan perubahan yang mendalam di dalam hati dan pikiran. Hijrah yang hanya sebatas tampilan luar sering kali menjadi ilusi hanya sekadar perubahan fisik yang tidak diimbangi dengan transformasi spiritual dan akhlak yang seharusnya.
Hijrah sejati dalam Islam mengarah pada perubahan diri yang lebih komprehensif, meliputi perubahan hati, pikiran, dan perbuatan. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ yang mengatakan:
"Innamal a‘mālu bin-niyyāt."
Artinya: “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan kita bahwa perubahan yang paling penting adalah niat. Jika niat berhijrah semata-mata untuk mendapatkan pengakuan sosial atau mengikuti tren, maka hijrah tersebut kehilangan makna sejatinya. Namun, jika niatnya untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka hijrah itu menjadi suatu amal yang sangat mulia.
Hijrah dalam Proses: Tidak Instan, Tapi Konsisten
Bagi mahasiswa ilmu hadis seperti kita, penting untuk mengingat bahwa hijrah adalah sebuah proses. Perubahan tidak datang dalam semalam. Ia memerlukan waktu, usaha, dan konsistensi. Tidak ada yang instan dalam hijrah. Rasulullah ﷺ sendiri memberi contoh bagaimana beliau terus-menerus memperbaiki dirinya dalam segala aspek kehidupan, meskipun beliau sudah mencapai puncak kesempurnaan akhlak.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Lā yu’minu ahadukum hattā yukabbiru li akhīhi mā yukabbiru li nafsih."
Artinya: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
(HR. al-Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan pentingnya perubahan dalam aspek sosial dan etika. Hijrah sejati adalah ketika kita bukan hanya memperbaiki hubungan dengan Allah, tetapi juga memperbaiki hubungan kita dengan sesama. Menghindari ghibah, membina komunikasi yang baik, dan menciptakan lingkungan yang positif adalah bagian dari hijrah yang harus terus kita perjuangkan.
Hijrah yang Terukur: Sebuah Panggilan untuk Tindak Lanjut
Sebagai mahasiswa yang mendalami ilmu hadis, kita juga dituntut untuk lebih teliti dalam memahami makna hijrah. Tidak semua narasi tentang hijrah yang beredar di media sosial dapat diterima begitu saja. Banyak informasi yang belum jelas keabsahannya, dan kita harus selalu merujuk pada sumber yang otentik.
Salah satu contohnya adalah klaim-klaim yang sering beredar di dunia maya, seperti: "Barangsiapa berhijrah, maka seluruh dosanya akan diampuni." Klaim ini perlu diperiksa secara lebih mendalam, karena tidak ada hadis yang secara spesifik menyatakan hal tersebut dalam bentuk yang begitu lugas. Tentu, ada hadis yang menyebutkan bahwa hijrah memiliki banyak pahala, namun penting bagi kita untuk memastikan bahwa setiap informasi yang disebarkan berdasarkan sumber yang jelas dan sahih.
Hijrah adalah Jalan Terus-Menerus
Hijrah adalah panggilan untuk terus berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Ia adalah perjalanan panjang yang tidak berhenti hanya karena kita telah mulai mengenakan jilbab, atau karena kita telah mengubah status di media sosial. Sebagai umat Islam, hijrah harus menjadi komitmen hidup, bukan hanya sekadar simbol atau tren.
Hijrah adalah perubahan yang bersumber dari hati. Ini adalah perjalanan menuju Allah yang diawali dengan niat yang ikhlas dan diikuti dengan amalan yang terus-menerus. Semoga kita semua dapat menjalani hijrah dengan penuh kesungguhan dan ketulusan, serta memperbaiki diri, agar pada akhirnya kita memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.
