Konten dari Pengguna

Agenda Building dalam Komunikasi Politik: Siapa yang Menentukan Isu

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tazqya Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar ini dihasilkan oleh kecerdasan buatan AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ini dihasilkan oleh kecerdasan buatan AI

Dalam kehidupan politik, masyarakat sering kali memberikan perhatian lebih kepada isu yang ramai diberitakan atau banyak dibicarakan di media sosial. Mulai dari harga bahan pokok, lapangan kerja, pendidikan, hingga korupsi, berbagai persoalan tersebut dapat menjadi topik utama dalam percakapan publik, terutama menjelang pemilihan umum.

Namun, pernahkah kita bertanya mengapa isu tertentu bisa begitu ramai dibicarakan, sementara persoalan lain yang juga penting justru jarang mendapatkan perhatian?

Menurut saya, fenomena ini menunjukkan bahwa perhatian publik tidak terbentuk begitu saja. Ada proses komunikasi yang membuat suatu isu lebih menonjol dibandingkan isu lainnya. Dalam komunikasi politik, proses tersebut dikenal sebagai agenda building.

Isu Politik Tidak Menjadi Perhatian dengan Sendirinya

Menurut saya, salah satu hal yang menarik dari agenda building adalah bagaimana sebuah isu dapat berkembang dari persoalan biasa menjadi pembicaraan yang mendapat perhatian luas.

Misalnya, seorang calon kepala daerah menyampaikan program perbaikan transportasi umum. Awalnya, isu tersebut mungkin hanya muncul dalam kegiatan kampanye. Namun, ketika media memberitakannya, masyarakat mendiskusikannya, dan pengguna media sosial membagikan informasi terkait, isu transportasi dapat menjadi salah satu topik yang banyak diperhatikan.

Dari contoh tersebut, terlihat bahwa perhatian publik tidak hanya bergantung pada pentingnya suatu persoalan, tetapi juga pada bagaimana persoalan itu disampaikan, disebarkan, dan dibicarakan.

Saya melihat bahwa isu yang memiliki nilai penting bagi masyarakat belum tentu mendapatkan perhatian yang cukup apabila tidak memperoleh ruang dalam komunikasi publik.

Media Punya Peran Besar dalam Membentuk Perhatian Publik

Dalam proses agenda building, media memiliki posisi penting karena dapat memperluas jangkauan sebuah isu. Berita yang terus muncul, menjadi pembahasan utama, atau mendapat ruang dalam berbagai program dapat membuat masyarakat semakin memperhatikan persoalan tersebut.

Namun, menurut saya, di sinilah media perlu menjalankan tanggung jawabnya secara hati-hati. Pilihan isu yang diberitakan dapat memengaruhi persoalan apa yang dianggap penting oleh masyarakat.

Jika pemberitaan politik lebih banyak berfokus pada konflik antarpolitisi, misalnya, pembahasan mengenai kebijakan publik berpotensi mendapatkan perhatian yang lebih sedikit. Akibatnya, masyarakat mungkin lebih mengenal perselisihan para tokoh daripada memahami dampak kebijakan yang mereka tawarkan.

Bukan berarti konflik politik tidak layak diberitakan. Akan tetapi, media seharusnya tetap memberikan ruang yang memadai bagi persoalan yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Media Sosial Membuat Siapa Saja Bisa Mengangkat Isu

Perkembangan media sosial membuat proses agenda building tidak lagi hanya bergantung pada media massa atau tokoh politik. Masyarakat sekarang dapat ikut mengangkat persoalan melalui unggahan, video, komentar, dan diskusi digital.

Menurut saya, perubahan ini memberikan peluang positif karena masyarakat memiliki kesempatan lebih besar untuk menyuarakan persoalan yang mungkin belum banyak mendapatkan perhatian.

Sebuah keluhan mengenai pelayanan publik, misalnya, dapat menyebar luas setelah dibagikan oleh pengguna lain. Perhatian yang muncul kemudian dapat mendorong media untuk memberitakan persoalan tersebut dan membuat pihak terkait memberikan tanggapan.

Meski begitu, saya juga melihat adanya tantangan. Isu yang viral belum tentu menjadi isu yang paling mendesak untuk diselesaikan. Sebaliknya, persoalan yang penting bagi masyarakat bisa saja tenggelam karena tidak menghasilkan banyak interaksi di media sosial.

Karena itu, jumlah komentar, tayangan, atau unggahan ulang tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran untuk menentukan penting atau tidaknya sebuah persoalan.

Kepentingan Politik Dapat Memengaruhi Isu yang Diangkat

Agenda building juga tidak dapat dilepaskan dari kepentingan berbagai pihak dalam komunikasi politik. Politisi, misalnya, dapat berusaha menonjolkan isu yang sesuai dengan program, citra, atau tujuan politik mereka.

Menurut saya, hal ini perlu diperhatikan, terutama ketika mendekati pemilu. Masyarakat akan menerima berbagai pesan yang berusaha menarik perhatian mereka, mulai dari janji program hingga kritik terhadap lawan politik.

Dalam situasi tersebut, penting bagi masyarakat untuk membedakan antara isu yang benar-benar berkaitan dengan kebutuhan publik dan isu yang lebih banyak digunakan untuk membangun citra politik.

Contohnya, ketika seorang kandidat sering membicarakan lapangan kerja, masyarakat tidak cukup hanya melihat seberapa sering isu tersebut disampaikan. Masyarakat juga perlu memperhatikan apakah program yang ditawarkan jelas, masuk akal, dan sesuai dengan persoalan yang sedang dihadapi.

Dengan begitu, perhatian terhadap suatu isu tidak berhenti pada popularitas pesan, tetapi juga mempertimbangkan substansinya.

Ramai Dibicarakan Bukan Berarti Paling Penting

Menurut saya, salah satu tantangan terbesar dalam agenda building adalah membedakan antara isu yang mendapatkan perhatian luas dan isu yang memang membutuhkan perhatian serius.

Sebuah pernyataan kontroversial dari seorang politisi dapat menjadi pembicaraan selama berhari-hari. Sementara itu, persoalan mengenai akses pendidikan, kualitas pelayanan kesehatan, atau kondisi pekerja mungkin tidak selalu mendapat perhatian yang sama.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perhatian publik dapat dipengaruhi oleh cara isu dikemas dan seberapa sering isu itu muncul.

Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih kritis dalam mengikuti perkembangan politik. Kita tidak seharusnya langsung menganggap suatu isu sebagai persoalan paling penting hanya karena isu tersebut terus muncul di halaman media sosial atau menjadi perbincangan di berbagai platform.

Mencari informasi dari beberapa sumber dan memahami konteks persoalan dapat membantu masyarakat melihat isu secara lebih utuh.

Masyarakat Tidak Harus Menjadi Penerima Informasi Pasif

Menurut saya, masyarakat memiliki peran penting dalam menentukan arah pembicaraan politik. Kita bukan hanya penerima informasi dari media atau politisi, tetapi juga dapat menilai, mempertanyakan, dan menyebarkan informasi yang dianggap relevan.

Namun, peran tersebut perlu disertai tanggung jawab. Membagikan informasi tanpa memeriksa kebenarannya justru dapat membuat isu berkembang berdasarkan kesalahpahaman.

Masyarakat juga perlu memberikan perhatian terhadap isu yang berdampak langsung pada kehidupan bersama, meskipun isu tersebut tidak sedang viral.

Dengan cara ini, partisipasi publik tidak hanya terlihat dari seberapa aktif seseorang berkomentar di media sosial, tetapi juga dari kemampuannya memahami persoalan dan ikut mendorong diskusi yang lebih bermakna.

Menurut saya, agenda building memperlihatkan bahwa perhatian publik merupakan hasil dari proses komunikasi yang melibatkan aktor politik, media, dan masyarakat. Setiap pihak memiliki kesempatan untuk memengaruhi isu yang berkembang, meskipun tidak semuanya memiliki kekuatan dan jangkauan yang sama.

Di era digital, masyarakat memang semakin mudah mengangkat suatu persoalan ke ruang publik. Namun, kemudahan tersebut tidak otomatis membuat semua isu memperoleh perhatian yang seimbang.

Karena itu, tantangannya bukan hanya bagaimana sebuah isu dapat menjadi ramai, tetapi juga bagaimana isu yang benar-benar penting mendapatkan ruang untuk dibahas secara mendalam.

Pada akhirnya, masyarakat perlu menyadari bahwa apa yang paling sering kita lihat belum tentu menjadi persoalan yang paling penting. Kita perlu lebih kritis dalam menentukan isu mana yang layak mendapat perhatian, bukan sekadar mengikuti isu yang sedang ramai dibicarakan.