Bagaimana Seharusnya Media Merepresentasikan Gender? Belajar dari Dunia Terbalik

mahasiswa jurusan ilmu komunikasi Universitas Pamulang (UNPAM)
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Tazqya Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media memiliki peran penting dalam membentuk cara masyarakat melihat gender. Melalui film, sinetron, iklan, berita, hingga media sosial, kita sering menemukan gambaran mengenai bagaimana perempuan dan laki-laki seharusnya bersikap dan menjalankan perannya.
Padahal, peran seseorang dalam keluarga maupun masyarakat tidak selalu harus ditentukan oleh jenis kelamin. Salah satu contoh yang menarik untuk melihat persoalan tersebut adalah sinetron “Dunia Terbalik” yang tayang di RCTI.
Sesuai dengan judulnya, sinetron ini menghadirkan kondisi yang cukup berbeda dari gambaran keluarga yang biasanya kita lihat. Perempuan digambarkan bekerja keras mencari nafkah di luar negeri, sementara laki-laki yang berada di rumah mengambil berbagai pekerjaan domestik.
Ketika Perempuan Menjadi Pencari Nafkah
Dalam gambaran keluarga tradisional, laki-laki sering ditempatkan sebagai pencari nafkah utama, sedangkan perempuan lebih banyak dikaitkan dengan pekerjaan rumah dan pengasuhan anak.
Namun, Dunia Terbalik menghadirkan gambaran yang berbeda. Para perempuan digambarkan merantau ke luar negeri untuk bekerja dan membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Hal ini menunjukkan bahwa perempuan juga dapat memiliki peran penting dalam perekonomian keluarga. Perempuan tidak hanya digambarkan sebagai ibu atau istri yang berada di rumah, tetapi juga sebagai seseorang yang bekerja dan menjadi sumber penghasilan.
Laki-Laki Mengambil Peran Domestik
Di sisi lain, laki-laki yang ditinggalkan istrinya harus menjalankan berbagai pekerjaan rumah tangga.
Mereka memasak, mencuci pakaian, mengurus anak, dan melakukan pekerjaan domestik lainnya yang selama ini sering dianggap sebagai tugas perempuan.
Penggambaran tersebut menjadi menarik karena menunjukkan bahwa pekerjaan rumah tangga sebenarnya bukan pekerjaan yang secara alami hanya bisa dilakukan perempuan.
Laki-laki juga dapat menjalankan peran tersebut ketika kondisi keluarga mengharuskannya.
Apakah Ini Berarti Representasi Gender yang Baik?
Bisa dikatakan bahwa Dunia Terbalik memberikan gambaran yang lebih fleksibel mengenai peran gender. Sinetron tersebut memperlihatkan bahwa perempuan dapat menjadi pencari nafkah dan laki-laki dapat menjalankan pekerjaan domestik.
Hal ini membantu menunjukkan bahwa kemampuan seseorang tidak seharusnya dibatasi oleh stereotip gender.
Namun, representasi yang baik tidak berarti sekadar membalik peran.
Artinya, bukan berarti perempuan harus bekerja di luar rumah dan laki-laki harus mengurus rumah. Yang lebih penting adalah menunjukkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan untuk menjalankan berbagai peran tanpa dianggap aneh atau lebih rendah.
Ketika Laki-Laki yang Mengurus Rumah Dianggap Aneh
Persoalan lain muncul ketika laki-laki yang melakukan pekerjaan domestik justru dianggap berbeda.
Dalam kehidupan masyarakat, laki-laki yang memasak, mencuci, atau mengurus anak terkadang masih dianggap melakukan pekerjaan yang identik dengan perempuan.
Jika media menggambarkan laki-laki yang melakukan pekerjaan rumah sebagai sesuatu yang lucu, aneh, atau memalukan, representasi tersebut justru dapat memperkuat stereotip yang ingin dibongkar.
Karena itu, media perlu berhati-hati dalam menyampaikan pesan. Bukan hanya perannya yang penting, tetapi juga bagaimana peran tersebut digambarkan.
Perempuan Tidak Harus Selalu Digambarkan Lemah
Begitu juga dengan perempuan.
Media seharusnya tidak terus-menerus menggambarkan perempuan sebagai sosok yang hanya membutuhkan perlindungan atau bergantung pada laki-laki.
Dalam Dunia Terbalik, perempuan yang bekerja di luar negeri digambarkan memiliki tanggung jawab terhadap keluarganya. Mereka bekerja keras dan menjadi bagian penting dalam memenuhi kebutuhan keluarga.
Representasi seperti ini dapat memperluas gambaran mengenai perempuan bahwa mereka juga dapat menjadi pekerja, pencari nafkah, sekaligus tetap memiliki peran dalam keluarga.
Tidak Semua Keluarga Harus Memiliki Pola yang Sama
Setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda.
Ada keluarga ketika laki-laki menjadi pencari nafkah utama. Ada juga keluarga ketika perempuan menjadi pencari nafkah. Bahkan, ada keluarga yang membagi tanggung jawab ekonomi dan pekerjaan rumah tangga secara bersama-sama.
Karena itu, media sebaiknya tidak memberikan kesan bahwa hanya ada satu bentuk keluarga yang dianggap normal.
Semakin beragam bentuk keluarga yang ditampilkan, semakin mudah bagi masyarakat memahami bahwa pembagian peran dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga.
Media Tidak Hanya Menampilkan, tetapi Juga Membentuk Pandangan
Apa yang ditampilkan berulang kali oleh media dapat memengaruhi cara masyarakat melihat sesuatu.
Jika perempuan terus digambarkan hanya sebagai ibu rumah tangga, masyarakat dapat menganggap bahwa pekerjaan domestik merupakan kewajiban perempuan.
Sebaliknya, jika laki-laki yang melakukan pekerjaan rumah selalu digambarkan sebagai sesuatu yang lucu atau tidak biasa, stereotip terhadap laki-laki juga tetap bertahan.
Karena itu, representasi gender yang baik bukan hanya tentang memberikan lebih banyak ruang kepada perempuan atau laki-laki, tetapi juga tentang menghilangkan anggapan bahwa suatu pekerjaan atau peran hanya pantas dilakukan oleh gender tertentu.
Representasi Gender yang Lebih Setara
Dunia Terbalik dapat menjadi contoh menarik mengenai bagaimana media mencoba memperlihatkan pembagian peran gender yang berbeda dari gambaran tradisional.
Perempuan yang bekerja dan menjadi pencari nafkah serta laki-laki yang mengurus rumah menunjukkan bahwa peran dalam keluarga sebenarnya dapat berubah sesuai dengan keadaan.
Namun, media tetap perlu memastikan bahwa pembalikan peran tersebut tidak justru menghasilkan stereotip baru.
Pada akhirnya, representasi gender yang baik bukan berarti perempuan harus menjadi seperti laki-laki atau laki-laki harus menjadi seperti perempuan. Yang lebih penting adalah memberikan ruang bahwa setiap orang dapat menjalankan peran yang berbeda tanpa dibatasi oleh stereotip gender.
Dengan begitu, media tidak hanya menggambarkan realitas, tetapi juga dapat membantu masyarakat melihat bahwa pembagian peran dalam kehidupan tidak selalu harus ditentukan oleh gender.
