Konten dari Pengguna

Bukan Cuma Jualan, Mengapa Obrolan dalam Live TikTok Bisa Membuat Penonton Betah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tazqya Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar ini dihasilkan oleh kecerdasan buatan AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ini dihasilkan oleh kecerdasan buatan AI

Ketika mendengar kata Live TikTok, sebagian besar orang mungkin langsung membayangkan siaran promosi produk lengkap dengan ajakan membeli "keranjang kuning". Namun, kenyataannya banyak penonton yang bertahan cukup lama tanpa ada niat membeli barang sama sekali. Ada yang sekadar menyimak obrolan, bahkan betah berjam-jam meskipun tidak pernah menuliskan satu pun komentar.

Fenomena ini menunjukkan bahwa Live TikTok telah bergeser dari sekadar ruang transaksi menjadi ruang komunikasi sosial. Dari kacamata ilmiah dan psikologi media, ada beberapa alasan mengapa dinamika obrolan di dalam live bisa mengikat perhatian audiens begitu kuat:

1. Efek "Teman Virtual" (Parasocial Interaction)

Secara psikologis, ketika host membaca komentar, menyebut nama penonton, atau merespons candaan secara spontan, hal itu memicu apa yang disebut Parasocial Interaction (Horton & Wohl). Penonton merasakan kedekatan emosional dan rasa familiar seolah-olah sedang mengobrol dengan teman dekat, meskipun interaksi tersebut terjadi melalui layar digital. Keakraban inilah yang membuat penonton merasa nyaman dan terus kembali ke live yang sama.

2. Pemenuhan Kebutuhan Psikologis (Uses and Gratifications)

Berdasarkan Uses and Gratifications Theory, audiens menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan emosional tertentu. Banyak orang membuka Live TikTok bukan untuk mencari informasi berat, melainkan mencari ambient companionship—sensasi kehadiran orang lain untuk menemani waktu luang. Suara obrolan host yang santai berfungsi sebagai latar belakang yang menghangatkan suasana saat penonton sedang bekerja, belajar, atau beristirahat agar tidak merasa kesepian.

3. Kenyamanan Menjadi Penonton Pasif (Lurking Behavior)

Riset mengenai komunitas digital menunjukkan bahwa mayoritas pengguna internet adalah lurkers atau penonton pasif. Dalam Live TikTok, penonton pasif tetap bisa merasakan keterlibatan emosional tanpa ada tekanan untuk ikut berbicara. Mereka cukup menikmati humor spontan, alur percakapan yang berkembang, dan interaksi antara host dengan penonton lain layaknya duduk mendengarkan percakapan di warung kopi.

4. Spontanitas yang Hidup

Berbeda dengan konten video pendek (short-form video) yang sudah disunting rapi, siaran langsung menyajikan percakapan real-time yang tidak terduga. Topik sederhana seperti cerita pengalaman harian, tanggapan atas kejadian lucu saat itu juga, hingga respons instan membuat suasana terasa autentik dan lebih "hidup".

Pada akhirnya, Live TikTok bukan sekadar tempat menjual produk atau mengejar angka penonton. Bagi banyak orang, siaran langsung telah menjadi ruang singgah digital untuk mendengarkan, merasa terhubung, dan menemukan suasana yang nyaman. Terkadang, bukan barang di keranjang yang membuat penonton bertahan, melainkan rasa hangat dari obrolan yang tercipta di dalamnya.