Dari Hobi Menjadi Identitas: Bagaimana Instagram Membentuk Personal Branding

mahasiswa jurusan ilmu komunikasi Universitas Pamulang (UNPAM)
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Tazqya Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seseorang yang awalnya hanya suka fotografi mungkin mulai sering mengunggah hasil fotonya di Instagram. Orang lain kemudian melihat unggahan tersebut dan mulai mengenalnya sebagai seseorang yang menyukai fotografi.
Hal yang sama bisa terjadi pada berbagai hobi lainnya. Memasak, menggambar, olahraga, membaca, traveling, hingga membuat konten dapat menjadi bagian dari hal yang seseorang tunjukkan di Instagram.
Tanpa disadari, hobi yang awalnya hanya dilakukan untuk kesenangan pribadi bisa berubah menjadi bagian dari identitas seseorang di media sosial.
Hobi yang sering dibagikan akan lebih mudah dikenali
Ketika seseorang terus membagikan aktivitas yang berkaitan dengan hobinya, audiens akan mulai melihat pola dari akun tersebut.
Misalnya, seseorang sering mengunggah hasil masakan. Lama-kelamaan, orang yang melihat akunnya mungkin akan mengingatnya sebagai orang yang suka memasak.
Begitu juga dengan seseorang yang rutin membagikan hasil gambar, video olahraga, koleksi buku, atau foto perjalanan.
Tidak perlu mengatakan secara langsung, "Saya suka ini." Unggahan yang konsisten sudah dapat memberikan gambaran tersebut.
Instagram menjadi tempat menunjukkan minat
Di kehidupan sehari-hari, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mengetahui hobi atau minat seseorang.
Namun, Instagram memberikan ruang bagi pengguna untuk membagikan hal-hal yang mereka sukai kepada orang lain.
Sebuah foto hasil karya, video proses membuat sesuatu, atau Story tentang aktivitas tertentu dapat menjadi cara sederhana untuk menunjukkan minat.
Dari situ, orang lain dapat menemukan kesamaan.
Misalnya, seseorang yang melihat akun fotografi mungkin tertarik mengikuti karena memiliki hobi yang sama. Interaksi pun dapat muncul dari kesamaan minat tersebut.
Dari hobi bisa muncul peluang
Ketika sebuah hobi terus ditampilkan, bukan tidak mungkin orang lain mulai melihat kemampuan di baliknya.
Seseorang yang awalnya hanya mengunggah hasil desain untuk bersenang-senang bisa saja kemudian mendapatkan tawaran membuat desain.
Orang yang sering membagikan foto makanan mungkin mendapat permintaan untuk memotret produk. Sementara seseorang yang sering membuat video tentang olahraga bisa mulai dikenal oleh orang lain yang memiliki minat serupa.
Artinya, apa yang awalnya hanya sebuah hobi dapat berkembang menjadi bagian dari identitas yang lebih luas.
Personal branding tidak harus direncanakan sejak awal
Menariknya, tidak semua personal branding dimulai dengan strategi yang sudah dibuat secara matang.
Ada orang yang awalnya hanya membagikan sesuatu karena memang menyukainya. Namun, karena dilakukan berulang kali, orang lain akhirnya mengaitkan akun tersebut dengan aktivitas tertentu.
Dari situlah identitas mulai terbentuk.
Hal ini menunjukkan bahwa personal branding tidak selalu harus dibuat secara kaku. Sesuatu yang memang dijalani dan dibagikan secara konsisten juga dapat membentuk kesan di mata audiens.
Tetap ada batas antara hobi dan kehidupan pribadi
Walaupun Instagram bisa digunakan untuk menunjukkan minat, bukan berarti seseorang harus membagikan seluruh aktivitasnya.
Pengguna tetap dapat memilih bagian mana yang ingin ditampilkan kepada orang lain.
Misalnya, seseorang bisa menunjukkan hasil karya tanpa memperlihatkan proses atau kehidupan pribadinya secara keseluruhan.
Pilihan tersebut penting karena personal branding bukan berarti membuka semua sisi diri kepada publik.
Justru, pengguna dapat menentukan identitas seperti apa yang ingin ditampilkan melalui kontennya.
Ketika orang mulai mengenali kita dari sesuatu yang kita sukai
Pada akhirnya, personal branding tidak selalu dimulai dari keinginan untuk terkenal.
Terkadang, semuanya berawal dari sesuatu yang sederhana: sebuah hobi.
Ketika hobi tersebut sering dibagikan, orang lain mulai mengenali kita melalui hal tersebut. Dari sekadar "orang yang suka fotografi", misalnya, seseorang bisa berkembang menjadi "orang yang dikenal karena karya fotografinya."
Instagram kemudian menjadi ruang yang membantu proses tersebut terlihat oleh lebih banyak orang.
Karena itu, hobi yang dibagikan secara konsisten bukan hanya menjadi kumpulan unggahan. Ia juga dapat menjadi bagian dari cerita mengenai siapa diri kita dan hal apa yang ingin kita kenalkan kepada orang lain.
Personal branding pun tidak harus dimulai dengan menjadi seseorang yang berbeda. Bisa jadi, identitas yang paling mudah dibangun justru berasal dari sesuatu yang memang sudah kita sukai sejak awal.
