Kandidat yang Sama, Citra yang Berbeda: Peran Media dalam Membingkai Tokoh

mahasiswa jurusan ilmu komunikasi Universitas Pamulang (UNPAM)
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Tazqya Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu melihat seorang tokoh politik dipuji dalam satu pemberitaan, tetapi justru mendapat banyak kritik dalam pemberitaan lainnya? Padahal, keduanya membahas orang yang sama. Perbedaan tersebut bisa muncul karena setiap media memiliki fokus dan cara penyajian informasi yang berbeda.
Dalam dunia politik, citra seorang kandidat tidak hanya terbentuk dari pidato, program kerja, atau tindakannya secara langsung. Pemberitaan media juga berperan dalam memperkenalkan kandidat kepada masyarakat. Apa yang ditampilkan, siapa yang dikutip, dan bagaimana suatu peristiwa diceritakan dapat memengaruhi cara publik menilai seorang tokoh.
Fenomena ini berkaitan dengan framing, yaitu pembingkaian informasi yang dapat memengaruhi cara seseorang memahami suatu peristiwa.
Media Tidak Hanya Menampilkan, tetapi Juga Membingkai
Media memiliki peran penting dalam menyediakan informasi mengenai kandidat politik. Melalui berita, masyarakat dapat mengetahui latar belakang, gagasan, rekam jejak, hingga kontroversi yang melibatkan seorang calon pemimpin.
Namun, tidak semua aspek tersebut selalu mendapatkan porsi pemberitaan yang sama. Sebuah media dapat lebih sering menyoroti pengalaman dan prestasi kandidat, sedangkan media lain lebih banyak mengangkat kritik atau persoalan yang pernah melibatkannya.
Perbedaan fokus ini dapat menghasilkan citra yang berbeda. Kandidat yang sama bisa terlihat berpengalaman dan kompeten dalam satu pemberitaan, tetapi terkesan kontroversial dalam pemberitaan lainnya.
Hal tersebut tidak secara otomatis berarti salah satu media menyampaikan informasi yang keliru. Perbedaan sudut pandang dapat terjadi dalam proses jurnalistik. Meski demikian, masyarakat perlu memahami bahwa aspek yang paling sering ditampilkan dapat memengaruhi kesan yang terbentuk terhadap seorang kandidat.
Memahami Framing melalui Teori Entman
Robert M. Entman melalui tulisannya pada 1993 menjelaskan framing sebagai proses memilih aspek tertentu dari suatu realitas dan membuat aspek tersebut lebih menonjol dalam sebuah komunikasi.
Dalam pemberitaan politik, proses ini dapat terlihat dari pemilihan judul, penentuan narasumber, penggunaan foto, hingga penempatan informasi dalam sebuah berita.
Misalnya, seorang kandidat menyampaikan program pembangunan yang kemudian mendapat tanggapan beragam. Media pertama dapat menonjolkan tujuan program dan manfaat yang dijanjikan. Media kedua mungkin lebih berfokus pada kritik terhadap anggaran atau kemungkinan kendala pelaksanaannya.
Keduanya mengangkat program yang sama, tetapi memberikan penekanan berbeda. Akibatnya, pembaca bisa memiliki perhatian dan penilaian yang berbeda terhadap kandidat tersebut.
Entman juga menjelaskan bahwa framing dapat memengaruhi cara suatu masalah didefinisikan, penyebabnya diidentifikasi, penilaian diberikan, dan penyelesaian ditawarkan. Dalam konteks pemilu, cara kandidat digambarkan dapat ikut menentukan aspek apa yang dianggap penting oleh masyarakat ketika menilai kelayakannya menjadi pemimpin.
Citra Kandidat Dibentuk melalui Hal-Hal Kecil
Pembingkaian tidak selalu muncul dalam bentuk pernyataan yang secara terang-terangan mendukung atau menentang kandidat. Pilihan kata dan detail yang ditampilkan pun dapat memberikan kesan tertentu.
Perhatikan perbedaan antara pemberitaan yang menggambarkan kandidat sebagai sosok yang “tegas mengambil keputusan” dan pemberitaan yang menyebutnya “mengabaikan kritik.” Kedua ungkapan tersebut dapat merujuk pada tindakan yang serupa, tetapi menawarkan sudut pandang yang berbeda kepada pembaca.
Pemilihan foto juga dapat memengaruhi kesan visual. Foto kandidat yang sedang berdialog dengan warga dapat menonjolkan kedekatan dengan masyarakat. Sebaliknya, foto yang diambil ketika kandidat terlihat marah dalam sebuah perdebatan dapat memperkuat kesan konfrontatif, terutama jika konteksnya tidak dijelaskan secara memadai.
Karena itu, citra politik tidak hanya berkaitan dengan apa yang dilakukan seorang kandidat, tetapi juga bagaimana tindakannya disajikan kepada publik. Hal ini membuat cara media mengemas informasi menjadi bagian penting dalam komunikasi politik.
Ketika Pemberitaan Memengaruhi Penilaian Pemilih
Bagi masyarakat yang mengikuti perkembangan politik melalui media, pemberitaan sering menjadi salah satu sumber utama untuk mengenal kandidat. Tidak semua pemilih memiliki kesempatan untuk menghadiri kampanye, memeriksa seluruh dokumen program, atau mengamati tindakan kandidat secara langsung.
Akibatnya, informasi yang tersedia melalui media dapat menjadi bahan pertimbangan dalam membentuk penilaian. Jika seseorang lebih sering menemukan berita mengenai prestasi seorang kandidat, aspek tersebut mungkin lebih mudah diingat. Sebaliknya, paparan yang lebih sering terhadap kontroversi dapat membuat persoalan itu menjadi hal utama yang diasosiasikan dengan kandidat tersebut.
Namun, pengaruh media tidak selalu menentukan pilihan seseorang. Pemilih juga memiliki pengalaman, nilai, preferensi politik, serta sumber informasi lain yang dapat memengaruhi keputusan mereka.
Oleh karena itu, framing sebaiknya dipahami sebagai salah satu faktor yang dapat membentuk persepsi publik, bukan sebagai satu-satunya penentu pilihan politik.
Media Sosial Membuat Citra Politik Semakin Kompleks
Saat ini, citra kandidat tidak hanya dibentuk melalui berita di televisi, surat kabar, atau portal berita. Potongan video kampanye, unggahan Instagram, konten TikTok, dan komentar warganet juga menjadi bagian dari arus informasi politik.
Satu momen yang melibatkan kandidat dapat tersebar dalam berbagai bentuk. Ada yang mengunggah rekaman lengkap, ada yang mengambil bagian paling menarik, dan ada pula yang menambahkan komentar atau narasi tertentu.
Ketika sebuah video dipotong dari konteksnya, masyarakat berisiko menilai tindakan kandidat tanpa mengetahui keseluruhan situasi. Di sisi lain, media sosial juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk membandingkan informasi dan menemukan perspektif yang sebelumnya tidak banyak ditampilkan.
Situasi ini menunjukkan bahwa pembentukan citra politik semakin kompleks. Masyarakat tidak hanya menerima pemberitaan dari media profesional, tetapi juga berhadapan dengan interpretasi yang dibuat oleh pengguna media sosial.
Karena itu, penting untuk memeriksa sumber asli, mencari konteks lengkap, dan tidak langsung menyimpulkan karakter seorang kandidat berdasarkan satu unggahan yang viral.
Menilai Kandidat Lebih dari Sekadar Citra
Memahami framing bukan berarti masyarakat harus menganggap semua pemberitaan sebagai bentuk keberpihakan. Media memiliki sudut pandang dan pertimbangan editorial, sedangkan perbedaan penekanan tidak selalu menunjukkan adanya upaya memanipulasi opini publik.
Sikap kritis justru diperlukan agar masyarakat dapat membedakan antara fakta yang disampaikan, pendapat narasumber, dan interpretasi yang muncul melalui penyajian berita.
Ketika membaca berita tentang kandidat politik, kita dapat membandingkan beberapa media, memeriksa apakah pernyataan dikutip secara utuh, serta mencari informasi mengenai program dan rekam jejak kandidat dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, kandidat yang sama memang dapat memiliki citra berbeda ketika diberitakan melalui bingkai yang berbeda. Teori framing dari Entman membantu menjelaskan bagaimana pemilihan dan penonjolan informasi dapat memengaruhi cara publik memahami tokoh politik.
Namun, citra yang terbentuk melalui pemberitaan seharusnya tidak menjadi satu-satunya dasar penilaian. Masyarakat tetap perlu melihat fakta, rekam jejak, gagasan, dan tindakan kandidat secara lebih menyeluruh agar keputusan politik tidak hanya didasarkan pada kesan yang paling sering muncul di media.
