Konten dari Pengguna

Kenapa Kita Sering Menyimpan Postingan yang Belum Tentu Akan Dibuka Lagi?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tazqya Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar ini dihasilkan oleh kecerdasan buatan AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ini dihasilkan oleh kecerdasan buatan AI

Pernah menemukan postingan yang menurut kamu menarik, lalu langsung menekan tombol simpan dengan alasan, “Nanti gue lihat lagi”?

Setelah beberapa hari, postingan tersebut mungkin masih tersimpan. Bahkan, tidak jarang kita lupa pernah menyimpannya. Kebiasaan menyimpan postingan seperti ini sangat umum di media sosial. Kita menyimpan berbagai macam konten, mulai dari rekomendasi makanan, tips, video lucu, tempat wisata, sampai informasi yang dianggap berguna.

Merasa Akan Membutuhkannya Nanti

Ketika menemukan konten yang menarik, kita sering merasa informasi tersebut mungkin akan berguna suatu saat nanti. Misalnya, melihat rekomendasi tempat makan dan berpikir ingin datang ke sana. Daripada mencari lagi di kemudian hari, kita memilih menyimpannya. Begitu juga dengan video resep, tips, atau rekomendasi barang.

Secara psikologis, dorongan ini berkaitan dengan fenomena digital hoarding (penimbunan digital). Menurut riset dari Sweeten et al. (2018) dalam Journal of the Association for Information Science and Technology, manusia cenderung memperlakukan data digital mirip dengan barang fisik. Keinginan menyimpan timbul dari anticipatory utility—yaitu rasa takut kehilangan informasi yang diprediksi akan berguna di masa depan.

Menyimpan Lebih Mudah daripada Mencari Lagi

Kalau sebuah postingan menarik perhatian tetapi kita sedang tidak punya waktu untuk melihatnya sampai selesai, menyimpan menjadi pilihan yang praktis. Kita tidak perlu mengingat nama akun atau mencari ulang menggunakan kata kunci tertentu. Cukup tekan satu tombol, konten dianggap aman.

Perilaku ini dikenal dalam ilmu kognitif sebagai cognitive offloading (Risko & Gilbert, 2016). Kita menyerahkan tugas mengingat kepada media sosial agar beban otak berkurang. Namun, dampaknya muncul fenomena digital amnesia (Google Effect): ketika tahu suatu informasi sudah tersimpan dengan aman di tempat eksternal, otak kita justru secara otomatis menolak untuk memproses atau mengingat isi konten tersebut secara mendalam.

Masalahnya, “Nanti” Terkadang Tidak Pernah Datang

Awalnya mungkin hanya ada beberapa postingan yang disimpan. Namun, semakin sering menggunakan media sosial, jumlahnya bertambah tanpa disadari. Lama-kelamaan, daftar simpanan dipenuhi berbagai konten yang sebenarnya belum tentu pernah kita buka lagi.

Dalam psikologi perilaku, kondisi ini menggambarkan Intention-Behavior Gap (Sheeran & Webb, 2016), yaitu jurang pemisah antara niat dan tindakan nyata. Menekan tombol simpan memberikan kepuasan instan (dopamine hit) seolah-olah kita sudah mempelajari atau melakukan informasi tersebut, padahal kita baru menyimpan niatnya saja.

Menyimpan Tidak Selalu Berarti Akan Dilakukan

Kita bisa menyimpan video olahraga tanpa pernah mencoba gerakannya, menyimpan resep tanpa pernah memasaknya, atau menyimpan tempat wisata tanpa pernah berkunjung. Tindakan menyimpan terkadang lebih berkaitan dengan keinginan untuk memiliki akses daripada benar-benar menggunakannya.

Ketika penimbunan konten ini terus berlanjut, kita akan berhadapan dengan choice overload atau paradoks pilihan (Schwartz, 2004). Semakin tumpah ruah daftar simpanan kita, otak akan mengalami decision fatigue (kelelahan mengambil keputusan) saat membukanya kembali. Ujung-ujungnya, kita memilih untuk mengabaikan seluruh koleksi tersebut karena bingung harus mulai dari mana.

Seperti Membuat Koleksi Kecil

Fitur simpan juga bisa dianggap seperti membuat perpustakaan pribadi. Tanpa sadar, kumpulan postingan tersebut menggambarkan hal-hal yang sedang menarik perhatian kita pada suatu waktu.

Sosiolog Russell Belk (2013) dalam teorinya "Extended Self in the Digital World" menjelaskan bahwa apa yang kita kumpulkan secara digital merupakan perluasan dari identitas diri. Koleksi simpanan bukan cuma sekadar data, melainkan cerminan dari aspirasi, minat, dan gambaran ideal tentang diri kita yang ingin dicapai.

Tidak Masalah Kalau Tidak Pernah Dibuka Lagi

Pada akhirnya, tidak semua postingan yang disimpan harus dibuka kembali. Menyimpan sebuah konten bisa saja hanya menjadi cara sederhana untuk berkata pada diri sendiri, “Ini menarik, jangan sampai hilang.”

Media sosial memang memudahkan kita mengumpulkan banyak hal hanya dengan satu sentuhan. Namun, wajar jika folder simpanan akhirnya menumpuk dan terlupakan otak kita memang terprogram untuk merelakan informasi yang sudah merasa "diamankan".