Ketika Algoritma Menentukan Apa yang Kita Lihat, Seberapa Besar Pengaruhnya

mahasiswa jurusan ilmu komunikasi Universitas Pamulang (UNPAM)
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Tazqya Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah merasa media sosial seperti tahu apa yang sedang kita pikirkan? Baru saja menonton beberapa video tentang suatu topik, tiba-tiba beranda dipenuhi konten yang mirip.
Hal seperti ini sering terjadi ketika kita menggunakan media sosial. Konten yang muncul di beranda tidak sepenuhnya acak. Aktivitas kita saat menggunakan aplikasi dapat memengaruhi jenis konten yang kembali ditampilkan.
Akibatnya, setiap orang bisa memiliki pengalaman yang berbeda ketika membuka media sosial. Apa yang sering muncul di beranda kita belum tentu muncul dengan jumlah yang sama di beranda orang lain.
Algoritma Membentuk Apa yang Kita Lihat
Ketika menggunakan media sosial, kita meninggalkan berbagai tanda melalui aktivitas sederhana. Misalnya, menonton video sampai selesai, memberikan tanda suka, mengikuti akun tertentu, atau mencari topik tertentu.
Aktivitas tersebut dapat membuat platform menampilkan konten yang dianggap sesuai dengan minat kita.
Misalnya, seseorang yang beberapa kali menonton video tentang dunia kerja mungkin akan menemukan lebih banyak konten tentang pekerjaan, wawancara, atau kehidupan kantor.
Awalnya mungkin hanya satu atau dua video. Namun, jika terus berinteraksi dengan topik tersebut, konten serupa bisa semakin sering muncul.
Lama-Lama Kita Bisa Merasa Itulah Gambaran Dunia
Masalahnya, sesuatu yang sering kita lihat bisa terasa seperti sesuatu yang sangat umum.
Jika setiap hari kita melihat konten tentang orang yang mengalami masalah dalam hubungan, misalnya, kita mungkin mulai berpikir bahwa hubungan zaman sekarang memang selalu penuh masalah.
Begitu juga ketika beranda dipenuhi konten tentang kesuksesan, bisnis, atau kehidupan yang terlihat sempurna. Kita bisa merasa bahwa hampir semua orang sedang menjalani kehidupan yang sama.
Padahal, yang muncul di layar kita hanyalah sebagian kecil dari berbagai pengalaman yang ada.
Beranda Setiap Orang Tidak Sama
Salah satu hal menarik dari media sosial adalah setiap orang bisa hidup dalam “versi internet” yang berbeda.
Seseorang mungkin membuka TikTok dan menemukan konten olahraga. Orang lain justru mendapatkan konten memasak, komedi, berita, atau cerita kehidupan.
Karena itu, dua orang yang menggunakan aplikasi yang sama dapat memiliki topik pembicaraan yang berbeda karena konten yang mereka lihat juga berbeda.
Hal ini kadang membuat kita lupa bahwa apa yang terlihat ramai di beranda sendiri belum tentu sedang ramai bagi semua orang.
Kita Tetap Punya Pilihan
Meskipun algoritma ikut menentukan konten yang muncul, bukan berarti pengguna tidak memiliki kendali sama sekali.
Kita tetap bisa memilih akun yang ingin diikuti, berhenti mengikuti konten tertentu, mencari informasi dari sumber lain, atau sekadar berhenti scrolling ketika merasa terlalu banyak menerima informasi.
Mencari perspektif yang berbeda juga bisa membantu kita melihat bahwa sebuah topik tidak selalu memiliki satu sisi saja.
Dengan begitu, media sosial tidak menjadi satu-satunya tempat untuk menentukan bagaimana kita memahami suatu masalah.
Jangan Menganggap Beranda sebagai Gambaran Dunia Secara Utuh
Media sosial memang memudahkan kita menemukan informasi dan berbagai pengalaman dari orang lain. Namun, apa yang muncul di layar tetap dipengaruhi oleh cara kita menggunakan platform tersebut.
Semakin sering kita berinteraksi dengan jenis konten tertentu, semakin besar kemungkinan kita terus melihat topik yang serupa. Akhirnya, dunia yang terlihat di layar bisa terasa seperti gambaran dunia yang sebenarnya.
Padahal, masih banyak hal lain yang tidak muncul di beranda.
Karena itu, ketika membuka media sosial dan merasa “kok semua orang begini?”, mungkin kita perlu berhenti sebentar. Bisa jadi bukan semua orang yang mengalami hal tersebut, tetapi algoritma memang sedang menunjukkan lebih banyak konten dengan tema yang sama.
Pada akhirnya, algoritma dapat memengaruhi apa yang kita lihat, tetapi cara kita memahami dunia tetap tidak harus sepenuhnya ditentukan oleh apa yang muncul di layar.
