Konten dari Pengguna

Ketika Mikrofon Tidak Dibagi rata: Refleksi Muted Group Theory di Media

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tazqya Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar ini dihasilkan oleh kecerdasan buatan AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ini dihasilkan oleh kecerdasan buatan AI

Sebagai konsumen media yang hidup di tengah arus informasi setiap hari, kita tentu terbiasa melihat berbagai kisah tentang laki-laki dan perempuan disajikan di layar kaca, berita online, iklan, hingga linimasa media sosial. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah yang kita lihat selama ini sudah benar-benar mewakili realitas yang utuh?

Persoalannya sering kali bukan sekadar menghitung berapa banyak figur perempuan atau laki-laki yang muncul di ruang publik. Lebih dari itu, ini tentang siapa yang memegang kendali atas mikrofon, siapa yang menentukan sudut pandang, dan siapa pula yang suaranya harus "beradaptasi" agar bisa diterima. Fenomena inilah yang dibedah secara tajam oleh Muted Group Theory (Teori Kelompok Terbungkam).

Ketika Bahasa dan Aturan Main Telah Diciptakan

Dalam dinamika sosial, kita menyadari bahwa tidak semua kelompok berdiri di atas pijakan kuasa yang setara. Kelompok yang berada di posisi dominan kerap memiliki keistimewaan untuk menetapkan standar: apa yang dianggap penting, isu apa yang layak diangkat, dan bahasa seperti apa yang sah untuk digunakan.

Akibatnya, kelompok yang kurang dominan—dalam konteks ini sering kali perempuan—sering kali dihadapkan pada dilema. Kita mendapati bahwa untuk menyampaikan pengalaman hidup yang mereka miliki, mereka harus menerjemahkannya terlebih dahulu ke dalam kerangka berpikir dan bahasa yang sudah dibentuk oleh budaya yang dominan.

Bayangkan ketika kita membaca pemberitaan mengenai perempuan di dunia kerja. Sering kali, fokus berita justru bergeser pada penampilan fisik, urusan rumah tangga, atau kisah personal alih-alih menyoroti kompetensi, kepemimpinan, dan prestasi profesional mereka. Tanpa sadar, cara media merangkkai kata membentuk cara kita memandang peran mereka di masyarakat.

Pengalaman yang Disederhanakan dan Diabaikan

Sebagai masyarakat, kita juga kerap dipertontonkan bagaimana pengalaman hidup kelompok tertentu hanya dianggap bernilai ketika ia berbalut sensasi atau menarik perhatian publik secara instan.

Sebaliknya, realitas sehari-hari yang krusial—seperti beban kerja domestik yang tidak terlihat (unpaid care work), tekanan psikologis akibat stereotip, hingga berbagai bentuk pembatasan sosial—cenderung tenggelam. Pengalaman yang kompleks ini sering kali direduksi menjadi isu pinggiran, seolah-olah apa yang dirasakan oleh kelompok non-dominan tidak memiliki bobot yang sama pentingnya dengan narasi arus utama.

Di sinilah kita melihat inti dari Muted Group Theory: keberadaan seseorang di media tidak otomatis membuat suaranya didengarkan secara utuh. Ditampilkan bukan berarti dipahami.

Harapan Baru di Tengah Tantangan Media Sosial

Kabar baiknya, lanskap komunikasi kita hari ini telah bergeser. Kehadiran media sosial memberi kita kesempatan untuk memegang kendali narasi secara mandiri. Kita tidak lagi sepenuhnya bergantung pada meja redaksi media besar untuk menyuarakan keresahan.

Melalui video pendek, tulisan personal, hingga siniar (podcast), kelompok-kelompok yang sebelumnya terpinggirkan kini memiliki kanal langsung untuk menceritakan kisah mereka sendiri. Isu-isu gender yang dulunya dianggap tabu atau tidak penting untuk dibahas di ruang publik, kini mulai menjadi percakapan terbuka yang melibatkan jutaan orang.

Namun, sebagai warga digital, kita juga harus jujur melihat tantangan yang ada. Media sosial tidak serta-merta adil. Algoritma kerap mengistimewakan konten yang memancing emosi atau viral secara instan, sementara pengalaman yang mendalam dan subtil tetap berisiko tenggelam di tengah bisingnya informasi.

Belajar Mendengarkan dengan Spektrum yang Lebih Luas

Pada akhirnya, Muted Group Theory menjadi cermin reflektif bagi kita semua. Teori ini menyadarkan kita bahwa ketimpangan dalam komunikasi bukan sekadar soal siapa yang bersuara, melainkan siapa yang memiliki kekuatan untuk membingkai percakapan.

Sebagai masyarakat yang mendambakan ruang publik yang sehat, tugas kita ke depan adalah memperluas ruang dengar. Kita perlu belajar menerima bahwa pengalaman hidup setiap kelompok itu beragam, dan keberagaman perspektif itulah yang justru memperkaya cara kita memahami dunia. Sebab pada akhirnya, keadilan dalam informasi baru akan tercapai ketika setiap suara tidak hanya diberi panggung untuk tampil, tetapi juga benar-benar didengarkan dengan sungguh-sungguh.