Sakit Jantung Bukan Hanya Soal Kolesterol, Kita Sering Terlambat Menyadarinya

mahasiswa jurusan ilmu komunikasi Universitas Pamulang (UNPAM)
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Tazqya Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sakit Jantung Bukan Cuma Soal Kolesterol, Kita Sering Terlambat Menyadarinya
Kalau mendengar kata “penyakit jantung,” hal pertama yang mungkin terlintas di kepala kita adalah kolesterol. Seolah-olah selama kolesterol masih normal, berarti jantung kita aman-aman saja.
Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Ada banyak hal yang bisa meningkatkan risiko penyakit jantung. Bahkan beberapa di antaranya sering kita lakukan atau abaikan dalam kehidupan sehari-hari tanpa benar-benar menyadari dampaknya.
Menurut saya, bagian yang paling menakutkan dari penyakit jantung bukan hanya penyakitnya, tetapi karena banyak faktor risikonya bisa berkembang perlahan dan sering kali tidak terasa.
Tekanan Darah Tinggi yang Sering Dianggap Sepele
Salah satu contohnya adalah tekanan darah tinggi.
Banyak orang merasa baik-baik saja dan menganggap dirinya sehat karena tidak merasakan keluhan tertentu. Padahal, hipertensi sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas.
Tekanan darah yang terus tinggi membuat jantung bekerja lebih keras. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memberikan beban pada jantung sekaligus merusak pembuluh darah.
Makanya, menurut saya, cek tekanan darah bukan sesuatu yang hanya perlu dilakukan ketika kita merasa sakit. Justru ketika merasa sehat pun, pemeriksaan tetap penting.
Kolesterol Memang Berpengaruh, tetapi Bukan Satu-satunya
Bukan berarti kolesterol tidak penting. Kolesterol LDL atau yang sering disebut sebagai kolesterol “jahat” memang dapat berkontribusi terhadap penumpukan plak di pembuluh darah.
Kalau plak semakin banyak, pembuluh darah bisa menyempit dan aliran darah ke jantung terganggu. Inilah yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan serangan jantung.
Namun, berhenti pada pemikiran “jantung sakit berarti kolesterol tinggi” menurut saya justru membuat kita lupa melihat faktor lainnya.
Rokok Juga Punya Peran Besar
Kebiasaan merokok adalah salah satu hal yang sering dianggap biasa, terutama karena sudah menjadi bagian dari keseharian sebagian orang.
Padahal, zat kimia dalam rokok dapat merusak pembuluh darah, meningkatkan tekanan darah, dan membuat darah lebih mudah membeku.
Bahkan orang yang tidak merokok pun tetap perlu berhati-hati jika sering terpapar asap rokok.
Jadi, menjaga kesehatan jantung ternyata bukan hanya soal apa yang kita makan, tetapi juga apa yang kita hirup setiap hari.
Makanan dan Gaya Hidup yang Kita Anggap Biasa
Coba lihat kebiasaan kita sehari-hari.
Makan makanan tinggi garam, terlalu sering mengonsumsi makanan berlemak atau ultra-proses, jarang bergerak, lalu tidur dan beraktivitas tanpa memperhatikan kondisi tubuh.
Sekilas mungkin tidak terasa berbahaya.
Masalahnya, kebiasaan seperti itu kalau dilakukan terus-menerus dapat berkontribusi terhadap berbagai faktor risiko penyakit jantung, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, berat badan berlebih, hingga gangguan gula darah.
Begitu juga dengan kurang bergerak. Kita tidak harus langsung menjadi orang yang setiap hari pergi ke gym. Berjalan kaki, naik tangga, atau memperbanyak aktivitas fisik sederhana sebenarnya sudah bisa menjadi awal yang baik.
Gula Darah Juga Perlu Diperhatikan
Hal lain yang sering terlupakan adalah gula darah.
Diabetes atau kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Karena itu, menurut saya, menjaga gula darah bukan hanya urusan orang yang sudah memiliki diabetes. Pola makan dan gaya hidup tetap perlu diperhatikan sejak awal agar risikonya dapat dikurangi.
Jangan Lupakan Stres
Ada satu hal yang kadang sulit kita ukur: stres.
Kita mungkin tidak menganggap stres sebagai sesuatu yang berhubungan langsung dengan jantung. Padahal, stres yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi tubuh, termasuk meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah.
Apalagi kalau stres kemudian diikuti kebiasaan lain seperti merokok lebih banyak, makan sembarangan, kurang tidur, atau tidak pernah berolahraga.
Jadi, menjaga kesehatan jantung menurut saya juga berarti belajar menjaga diri dari tekanan yang terus-menerus.
Ada Faktor yang Tidak Bisa Kita Pilih
Selain gaya hidup, usia dan faktor keturunan juga perlu diperhatikan.
Semakin bertambah usia, risiko penyakit jantung dapat meningkat. Begitu juga dengan seseorang yang memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Kita memang tidak bisa memilih usia atau riwayat keluarga. Namun, kita masih bisa memilih bagaimana menjalani kehidupan sehari-hari.
Kalau tahu memiliki faktor risiko tertentu, justru itu alasan untuk lebih memperhatikan kesehatan, bukan untuk merasa takut.
Jangan Menunggu Tubuh Memberi Peringatan
Menurut saya, inilah hal yang paling penting.
Jangan menunggu sampai tubuh memberikan tanda bahwa ada sesuatu yang salah.
Menjaga kesehatan jantung tidak harus dimulai dengan perubahan besar. Bisa dari berhenti merokok, mulai berjalan kaki, mengurangi makanan tinggi garam dan lemak jenuh, memperhatikan berat badan, serta rutin memeriksa tekanan darah, kolesterol, dan gula darah.
Dan ketika muncul keluhan seperti nyeri atau rasa tertekan di dada, sesak napas, keringat dingin, mual, atau nyeri yang menjalar ke lengan, punggung, leher, maupun rahang, jangan buru-buru menganggapnya sebagai masuk angin atau kelelahan biasa.
Segera cari pertolongan medis.
Karena pada akhirnya, kesehatan jantung bukan sesuatu yang baru perlu kita pikirkan ketika sudah sakit. Justru saat kita masih merasa sehat, itulah waktu yang paling baik untuk mulai menjaganya.
