Salah Paham dalam Komunikasi: Ketika Maksud Kita Tidak Sampai kepada Orang Lain

mahasiswa jurusan ilmu komunikasi Universitas Pamulang (UNPAM)
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Tazqya Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah mengatakan sesuatu dengan maksud bercanda, tetapi justru membuat orang lain tersinggung?
Atau pernah menerima pesan singkat dari seseorang dan langsung berpikir bahwa ia sedang marah, padahal setelah ditanya ternyata tidak ada masalah apa-apa?
Salah paham seperti itu sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kita berbicara dengan maksud tertentu, tetapi orang lain menangkapnya dengan makna yang berbeda.
Masalahnya terkadang bukan karena seseorang tidak mampu berkomunikasi. Kita bisa saja sudah memilih kata yang menurut kita tepat, tetapi pesan yang sampai kepada orang lain tetap berbeda dari yang kita maksudkan.
Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi bukan sekadar kegiatan menyampaikan kata-kata. Komunikasi juga merupakan proses bagaimana sebuah pesan diterima, dipahami, dan dimaknai oleh orang lain.
Ketika Kalimat Sederhana Menjadi Masalah
Bayangkan percakapan antara dua orang teman berikut.
“Besok jadi pergi?”
“Lihat nanti.”
“Ya sudah.”
Percakapan tersebut terlihat biasa saja. Namun, dalam situasi tertentu, kalimat “ya sudah” dapat terdengar seperti tanda kecewa atau kesal.
Padahal, orang yang mengucapkannya mungkin memang hanya ingin mengakhiri percakapan karena tidak tahu harus menjawab apa.
Contoh lain:
“Kamu kok diam saja?”
“Enggak apa-apa.”
Bagi orang yang menjawab, “enggak apa-apa” mungkin benar-benar berarti tidak ada masalah. Namun, bagi lawan bicara, jawaban tersebut bisa menimbulkan pertanyaan baru.
“Benar enggak apa-apa?”
“Benar.”
“Kayaknya kamu marah.”
Akhirnya, percakapan yang awalnya sederhana justru berubah menjadi kesalahpahaman.
Situasi seperti ini menunjukkan bahwa satu kalimat dapat memiliki makna berbeda ketika digunakan dalam konteks yang berbeda.
Pesan Tidak Selalu Berarti Sama dengan Maksud Pengirim
Dalam komunikasi, terdapat perbedaan antara pesan yang disampaikan dan pesan yang dipahami.
Ketika seseorang berbicara, ia memiliki maksud tertentu. Maksud tersebut kemudian diterjemahkan menjadi kata-kata, ekspresi, nada suara, atau bentuk pesan lainnya.
Setelah itu, pesan diterima oleh orang lain dan ditafsirkan berdasarkan konteks yang mereka miliki.
Di sinilah kesalahpahaman dapat terjadi.
Misalnya, seorang teman berkata, “Kamu lama banget.”
Jika diucapkan sambil tersenyum dan dengan nada bercanda, kalimat tersebut mungkin hanya candaan.
Namun, jika diucapkan dengan nada tinggi dan ekspresi kesal, maknanya bisa berbeda.
Kata-katanya sama, tetapi cara penyampaiannya berbeda.
Dalam komunikasi tatap muka, kita dapat memperoleh berbagai petunjuk dari intonasi, ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan situasi. Sementara itu, dalam komunikasi melalui pesan teks, sebagian petunjuk tersebut tidak tersedia.
Itulah sebabnya pesan singkat terkadang lebih mudah disalahartikan.
Chat Membuat Kita Lebih Mudah Berasumsi
Komunikasi digital membuat orang dapat berinteraksi tanpa harus bertemu secara langsung. Namun, komunikasi melalui layar juga memiliki keterbatasan.
Ketika seorang teman biasanya membalas pesan dengan panjang, kemudian tiba-tiba hanya menjawab “iya”, kita mungkin langsung berpikir bahwa ia sedang marah.
Padahal, ada banyak kemungkinan lain.
Mungkin ia sedang sibuk. Mungkin baterai ponselnya hampir habis. Mungkin ia sedang berada di tempat yang tidak memungkinkan untuk mengetik panjang. Atau memang sedang tidak memiliki banyak hal untuk dikatakan.
Sayangnya, kita sering kali hanya melihat satu kemungkinan yang muncul di kepala.
Kebiasaan tersebut dapat membuat kita menarik kesimpulan sebelum mengetahui keadaan sebenarnya.
Karena itu, tidak semua pesan singkat perlu langsung dimaknai secara negatif.
Pengalaman Kita Ikut Memengaruhi Cara Memahami Pesan
Cara seseorang memahami komunikasi juga dipengaruhi oleh pengalaman dan hubungan dengan lawan bicaranya.
Kalimat yang sama dapat terdengar berbeda jika disampaikan oleh orang yang berbeda.
Ketika teman dekat mengatakan, “Kamu aneh banget,” kita mungkin menganggapnya sebagai candaan. Namun, jika kalimat yang sama datang dari seseorang yang jarang berinteraksi dengan kita, respons yang muncul bisa berbeda.
Hubungan antara pengirim dan penerima pesan turut memengaruhi bagaimana sebuah pesan dimaknai.
Itulah sebabnya komunikasi tidak dapat dilepaskan dari konteks.
Memahami konteks berarti memperhatikan siapa yang berbicara, kepada siapa pesan ditujukan, situasi yang sedang terjadi, serta hubungan antara kedua pihak.
Jangan Terlalu Cepat Menyimpulkan
Salah satu cara sederhana untuk mengurangi kesalahpahaman adalah tidak langsung menyimpulkan maksud orang lain.
Misalnya, ketika seorang teman membalas pesan dengan singkat, kita dapat bertanya:
“Kamu lagi sibuk, ya?”
Pertanyaan tersebut lebih baik daripada langsung mengatakan:
“Kamu kenapa? Marah sama aku?”
Perbedaannya memang terlihat kecil, tetapi cara menyampaikan pertanyaan dapat memengaruhi respons lawan bicara.
Pertanyaan pertama memberikan ruang bagi orang tersebut untuk menjelaskan kondisinya. Sementara itu, pertanyaan kedua sudah mengandung asumsi bahwa ia sedang marah.
Dalam komunikasi, memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menjelaskan dapat membantu mencegah konflik yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
Berani Mengklarifikasi Ketika Terjadi Salah Paham
Salah paham bukan berarti hubungan harus berakhir buruk.
Ketika menyadari bahwa pesan kita diterima berbeda, langkah yang dapat dilakukan adalah melakukan klarifikasi.
Misalnya:
“Eh, tadi maksudku bukan begitu. Aku cuma bercanda.”
Atau:
“Kayaknya tadi penyampaianku kurang jelas. Maksudku sebenarnya…”
Klarifikasi bukan berarti kita harus selalu menganggap diri sendiri yang salah. Klarifikasi merupakan upaya untuk memastikan bahwa pesan yang disampaikan benar-benar dipahami sesuai dengan maksudnya.
Hal yang sama juga berlaku ketika kita menerima pesan yang terasa ambigu.
Daripada terus menebak-nebak, kita dapat bertanya secara langsung.
“Maksud kamu yang tadi bagaimana?”
Pertanyaan sederhana tersebut terkadang dapat menghindarkan kita dari kesimpulan yang panjang dan belum tentu benar.
Komunikasi yang Baik Membutuhkan Dua Arah
Kesalahpahaman sering kali membuat kita sibuk memikirkan siapa yang salah. Padahal, komunikasi pada dasarnya merupakan proses dua arah.
Pengirim perlu berusaha menyampaikan pesan dengan jelas, sedangkan penerima juga perlu berusaha memahami pesan sebelum memberikan penilaian.
Keduanya memiliki peran.
Pengirim pesan dapat memperhatikan pilihan kata dan konteks ketika menyampaikan sesuatu. Penerima pesan dapat menghindari kebiasaan menebak maksud sebelum memperoleh informasi yang cukup.
Tidak semua kesalahpahaman dapat dihindari. Bahkan, orang yang sudah saling mengenal pun tetap dapat mengalami salah tafsir.
Namun, kita dapat belajar menghadapinya dengan cara yang lebih baik.
Pada akhirnya, komunikasi bukan tentang bagaimana membuat orang lain memahami kita dengan sempurna. Komunikasi adalah proses untuk saling memahami, termasuk ketika terdapat perbedaan cara menangkap sebuah pesan.
Karena itu, ketika maksud kita tidak sampai kepada orang lain, mungkin yang dibutuhkan bukan perdebatan tentang siapa yang salah.
Mungkin kita hanya perlu menjelaskan kembali, mendengarkan, dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk memahami apa yang sebenarnya ingin kita sampaikan.
Sebab, terkadang masalah terbesar dalam komunikasi bukan karena kita tidak berbicara.
Kita berbicara, tetapi belum tentu benar-benar saling memahami.
