Konten dari Pengguna

Sering Lihat Konten, Kok Merasa Semua Orang Mengalaminya?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tazqya Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar ini dihasilkan oleh kecerdasan buatan AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ini dihasilkan oleh kecerdasan buatan AI

Pernah merasa seolah-olah semua orang sedang membicarakan hal yang sama di media sosial? Misalnya, ketika banyak konten tentang hubungan yang tidak sehat muncul di TikTok atau Instagram, kita mungkin mulai merasa bahwa hampir semua orang mengalami masalah serupa.

Padahal, belum tentu keadaan di dunia nyata memang seperti itu. Bisa jadi, kita hanya terlalu sering melihat topik tersebut di media sosial.

Ketika konten serupa muncul berulang kali

Media sosial memiliki cara tersendiri dalam menampilkan konten kepada penggunanya. Video yang ditonton sampai selesai, unggahan yang disukai, atau topik yang sering dicari dapat memengaruhi rekomendasi konten berikutnya.

Akibatnya, seseorang bisa terus menemukan unggahan dengan tema yang mirip. Jika sebelumnya hanya melihat satu video tentang masalah pertemanan, misalnya, beberapa video berikutnya mungkin membahas pengalaman yang hampir sama.

Semakin sering konten tersebut muncul, semakin akrab pula topiknya bagi pengguna. Tanpa disadari, sesuatu yang awalnya hanya satu dari sekian banyak pengalaman dapat terasa seperti pengalaman yang dialami hampir semua orang.

Apa yang sering kita lihat belum tentu mewakili kenyataan

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah perbedaan antara apa yang ramai di media sosial dan apa yang benar-benar terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika banyak orang membagikan cerita tentang sulitnya menjalin hubungan, kita bisa saja merasa bahwa hubungan saat ini selalu berakhir dengan masalah. Begitu pula ketika konten tentang lingkungan kerja yang tidak sehat terus muncul, kita mungkin mulai menganggap bahwa sebagian besar tempat kerja memiliki masalah yang sama.

Padahal, media sosial hanya memperlihatkan sebagian pengalaman yang dibagikan oleh penggunanya. Orang-orang yang memiliki pengalaman berbeda belum tentu mengunggah cerita mereka. Ada pula yang memilih menyimpan masalahnya untuk diri sendiri.

Karena itu, banyaknya konten dengan tema tertentu tidak otomatis membuktikan bahwa pengalaman tersebut dialami oleh semua orang.

Algoritma dapat membuat suatu topik terasa semakin dekat

Rekomendasi media sosial dapat membuat pengguna berada dalam lingkungan informasi yang berbeda-beda. Dua orang yang menggunakan aplikasi yang sama belum tentu melihat konten yang serupa.

Seseorang yang sering menonton video tentang percintaan mungkin lebih banyak menemukan konten hubungan. Sementara itu, pengguna lain yang menyukai konten karier bisa lebih sering melihat pembahasan tentang pekerjaan dan pengembangan diri.

Hal ini membuat pengalaman setiap pengguna di media sosial terasa berbeda. Apa yang terlihat sangat umum di halaman seseorang belum tentu muncul dengan intensitas yang sama di halaman orang lain.

Masalahnya, ketika kita terus melihat topik yang sama, kita bisa lupa bahwa ada banyak pengalaman lain yang tidak muncul di layar kita.

Jangan langsung menganggap pengalaman orang lain sebagai gambaran semua orang

Konten media sosial memang dapat membantu kita mengenali pengalaman yang mungkin juga dialami orang lain. Kita bisa merasa dipahami ketika menemukan cerita yang mirip dengan kehidupan sendiri.

Namun, penting untuk tetap memberi ruang bagi kemungkinan bahwa setiap orang memiliki keadaan yang berbeda. Pengalaman seseorang di dalam video tidak selalu bisa dijadikan patokan untuk menilai semua hubungan, pertemanan, pekerjaan, atau kehidupan orang lain.

Jika suatu topik terus muncul di beranda, kita juga bisa mencoba memperluas jenis konten yang dikonsumsi. Sesekali, cari perspektif yang berbeda dan jangan hanya mengandalkan apa yang direkomendasikan oleh aplikasi.

Pada akhirnya, media sosial membantu kita melihat berbagai pengalaman manusia, tetapi tidak memperlihatkan seluruh kenyataan. Apa yang sering kita lihat belum tentu dialami semua orang.

Jadi, ketika merasa semua orang sedang mengalami hal yang sama, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah memang kenyataannya demikian, atau kita hanya terlalu sering melihat konten tentang hal tersebut?