Konten dari Pengguna

Social Presence: Hadir Tanpa Bertemu

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tazqya Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu merasa dekat dengan seseorang yang sebenarnya belum pernah kamu temui?

Aneh, tetapi rasanya cukup sering terjadi.

Kita bisa mengenal seseorang hanya melalui layar. Melihat unggahannya di Instagram, menonton videonya di TikTok, mendengarkan ceritanya melalui podcast, atau mengikuti siaran langsungnya. Lama-kelamaan, kita mulai tahu bagaimana cara ia berbicara, apa yang ia sukai, candaan yang sering ia lontarkan, bahkan kebiasaan kecil yang mungkin tidak pernah kita sadari sebelumnya.

Padahal, bertemu langsung saja belum pernah.

Namun, entah bagaimana, orang tersebut terasa akrab.

Saya rasa, hampir semua orang yang aktif di media sosial pernah merasakan hal semacam ini. Awalnya mungkin hanya karena sebuah konten lewat di beranda. Kita menontonnya, merasa tertarik, lalu melihat konten lainnya. Besoknya muncul lagi. Kita tonton lagi.

Begitu terus sampai akhirnya muncul perasaan, “Sepertinya aku sudah kenal orang ini.”

Padahal sebenarnya tidak.

Kami hanya bertemu melalui layar.

Di situlah konsep social presence menjadi menarik.

Ketika Orang di Balik Layar Terasa Nyata

Social presence dapat dipahami sebagai perasaan bahwa ada manusia nyata yang hadir dalam sebuah komunikasi, meskipun komunikasi tersebut berlangsung melalui media.

Sederhananya, kita mungkin tidak berada di ruangan yang sama dengan seseorang, tetapi komunikasi yang terjadi tetap bisa membuat kita merasa dekat dengannya.

Dalam percakapan secara langsung, kehadiran seseorang dapat kita rasakan melalui ekspresi wajah, intonasi suara, gerakan tubuh, dan respons spontan. Di ruang digital, semua itu tentu tidak selalu tersedia.

Namun, bukan berarti komunikasi menjadi kehilangan sisi manusianya.

Senyum bisa digambarkan melalui emoji. Nada bicara bisa terdengar melalui pesan suara. Ekspresi dapat terlihat melalui video. Kedekatan juga bisa muncul dari komentar, pesan langsung, atau percakapan saat siaran langsung.

Hal-hal kecil seperti itu ternyata bisa membuat komunikasi terasa berbeda.

Coba bayangkan ketika kita mengirim pesan kepada seseorang dan hanya mendapat balasan, “Baik.”

Kemudian, pada kesempatan lain, orang yang sama menjawab dengan lebih hangat, misalnya, “Baik, terima kasih, ya. Semoga urusanmu juga lancar.”

Informasinya sama-sama sederhana. Namun, rasanya berbeda.

Balasan kedua terasa lebih manusiawi.

Ada kesan bahwa orang tersebut benar-benar memperhatikan percakapan yang sedang terjadi.

Menurut saya, di situlah salah satu bentuk social presence dapat dirasakan.

Bukan Sekadar Aktif di Media Sosial

Menariknya, social presence bukan hanya soal seberapa sering seseorang mengunggah konten.

Ada akun yang sangat aktif setiap hari, tetapi terasa jauh dari pengikutnya. Sebaliknya, ada pula akun yang tidak terlalu sering muncul, tetapi setiap kali berinteraksi justru terasa dekat.

Saya pernah melihat bagaimana seorang kreator dapat membangun kedekatan hanya melalui hal sederhana. Misalnya, membalas komentar pengikut, menyapa orang-orang yang hadir dalam siaran langsung, atau menjawab pertanyaan dengan bahasa yang tidak terasa seperti jawaban otomatis.

Pengikut akhirnya tidak hanya merasa sedang melihat konten.

Mereka merasa sedang diajak berbicara.

Perbedaannya memang terlihat kecil, tetapi pengalaman yang dihasilkan bisa sangat berbeda.

Ketika komunikasi terasa dua arah, kita tidak lagi sekadar menjadi penonton. Ada perasaan bahwa kita ikut terlibat dalam percakapan tersebut.

Mungkin itu juga alasan mengapa kita bisa merasa akrab dengan kreator yang sebenarnya tidak pernah kita temui.

Ketika Sebuah Merek Terasa Seperti Manusia

Hal serupa ternyata tidak hanya terjadi antara kreator dan pengikut. Merek juga bisa membangun social presence melalui cara mereka berkomunikasi dengan konsumen.

Bayangkan kita sedang bertanya mengenai suatu produk.

Akun pertama menjawab:

“Silakan cek informasi pada katalog.”

Sementara akun kedua menjawab dengan lebih ramah dan membantu:

“Hai, untuk produk yang kamu cari masih tersedia. Kalau mau, kami bisa bantu cek ukuran yang tersedia, ya.”

Keduanya memberikan informasi.

Namun, cara menyampaikannya membuat pengalaman komunikasi terasa berbeda.

Jawaban pertama memang singkat dan jelas. Akan tetapi, jawaban kedua memberikan kesan bahwa ada seseorang yang benar-benar sedang membantu kita.

Menurut saya, hal seperti inilah yang membuat komunikasi digital terasa lebih manusiawi.

Tidak mengherankan jika sekarang banyak merek tidak hanya menggunakan media sosial untuk menawarkan produk. Mereka juga berusaha membangun percakapan dengan audiens melalui kolom komentar, pesan langsung, siaran langsung, dan konten interaktif.

Karena pada akhirnya, konsumen tidak selalu ingin merasa seperti sedang berbicara dengan sebuah logo.

Mereka ingin dilayani oleh manusia.

Media Sosial dan Perasaan “Tidak Sendirian”

Ada satu hal lain yang menurut saya menarik dari social presence.

Media sosial terkadang membuat kita merasa tidak sendirian.

Pernahkah kamu sedang mengalami sesuatu, kemudian melihat unggahan seseorang yang ternyata menceritakan hal yang hampir sama?

Rasanya mungkin sederhana.

“Oh, ternyata bukan cuma aku.”

Kita bahkan mungkin tidak mengenal orang tersebut. Tidak pernah berbicara secara langsung. Namun, cerita yang ia bagikan membuat kita merasa ada orang lain yang memahami apa yang sedang kita rasakan.

Di titik itu, media sosial bukan lagi sekadar tempat berbagi foto, video, atau informasi.

Ada hubungan sosial yang terbentuk, meskipun berlangsung secara digital.

Tentu saja, kedekatan seperti ini tidak selalu berarti hubungan yang benar-benar personal. Kita tetap perlu memahami batas antara merasa dekat dengan seseorang dan benar-benar mengenalnya dalam kehidupan nyata.

Namun, perasaan dekat tersebut tetap nyata sebagai sebuah pengalaman komunikasi.

Hadir Tidak Berarti Harus Membuka Segalanya

Menurut saya, ada satu hal yang juga penting.

Membangun social presence bukan berarti kita harus membagikan seluruh kehidupan pribadi kepada orang lain.

Tidak harus mengunggah setiap kegiatan.

Tidak harus menceritakan semua masalah.

Tidak harus selalu menunjukkan apa yang sedang kita lakukan.

Kehadiran sosial dapat muncul dari hal-hal yang jauh lebih sederhana.

Membalas komentar dengan baik. Menjawab pertanyaan dengan sungguh-sungguh. Menggunakan bahasa yang sesuai dengan audiens. Menunjukkan empati. Atau sekadar mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang sudah meluangkan waktu untuk berinteraksi.

Sederhana, tetapi berarti.

Sebab, menurut saya, dalam komunikasi, orang tidak selalu membutuhkan jawaban yang sempurna.

Kadang-kadang, mereka hanya ingin merasa didengar.

Layar Bukan Penghalang untuk Merasa Dekat

Teknologi memang mengubah cara kita berkomunikasi.

Kita bisa berbicara dengan seseorang yang berada di kota lain tanpa harus pergi ke sana. Kita bisa mengikuti cerita seseorang yang belum pernah kita temui. Kita bahkan bisa membangun komunitas bersama orang-orang yang awalnya sama sekali tidak kita kenal.

Namun, semakin mudah komunikasi dilakukan, semakin mudah pula komunikasi terasa impersonal.

Pesan hanya menjadi tulisan. Komentar hanya menjadi deretan kata. Percakapan bisa berhenti pada satu balasan singkat.

Karena itu, social presence menjadi penting.

Konsep ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap akun, komentar, pesan, dan layar tetap ada manusia.

Ada seseorang yang membaca.

Ada seseorang yang menunggu respons.

Ada seseorang yang mungkin sedang berusaha menyampaikan sesuatu melalui kata-kata yang sederhana.

Jadi, mungkin menjadi “hadir” di era digital bukan tentang seberapa sering kita terlihat daring.

Bukan pula tentang seberapa banyak konten yang kita unggah.

Bagi saya, hadir adalah ketika komunikasi yang kita lakukan mampu membuat orang lain merasa bahwa mereka tidak sedang berbicara dengan sebuah layar, melainkan dengan seseorang yang benar-benar mau mendengar dan merespons.

Pada akhirnya, kita memang tidak selalu harus bertemu untuk merasa dekat.

Kadang, cukup dengan sebuah respons yang tulus, percakapan yang hangat, atau sedikit perhatian, seseorang sudah bisa merasa bahwa dirinya tidak sendirian.

Sebab, di balik layar yang dingin, selalu ada manusia yang membuat komunikasi terasa hidup.

Gambar ini dihasilkan menggunakan DALL-E, alat generasi gambar berbasis Al.