Konten Media Partner

Badroni Yuzirman Penggagas TDA Mengibaratkan Komunitas dan Bisnis Seperti Roda

TDAverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Badroni Yuzirman Penggagas TDA Mengibaratkan Komunitas dan Bisnis Seperti Roda
zoom-in-whitePerbesar

JAKARTA - Badroni Yuzirman sosok pengusaha Indonesia, juga pendiri Komunitas Tangan di Atas (TDA), menghimpun puluhan ribu wiraswastawan muda dan orang-orang yang mempunyai minat berwirausaha di berbagai wilayah Indonesia. Pria yang akrab disapa Roni merasa bangga menjadi pengusaha yang bisa selalu berbagi dan senang bisa menjadi bagian dari tangan di atas.

Roni mengatakan, bahwa TDA sebuah komunitas bisnis yang ingin selalu berbagi, mempunyai visi bersama menebar rahmat. Selain itu, komunitas yang mempunyai filosofi tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

Tak hanya itu, memberi gaji lebih baik daripada menerima gaji. Selain itu, istilah Tangan Di Atas (tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah) yang diperluas tafsirnya menjadi pengusaha yang gemar berbagi.

Roni menyatakan, beberapa waktu pernah mendapatkan tugas terkait dengan penyelarasan nilai-nilai TDA. Akhirnya, dia membahas secara rinci dikupas tuntas, mulai dalam hingga luar.

"Saya dapat tugas sharing materi tentang bisnis dan TDA, biar jalan beriringan dan sama-sama sukses. Saya buka jeroan TDA yang tidak lain adalah nilai TDA yang ada di web itu," ujarnya.

Menurutnya, jika nilai-nilai TDA dijalankan, bisnis dan komunitas akan sama-sama sukses. Sebab, dapat jalan secara paralel. Intinya adalah soal leadership.

"Di semua level, pribadi, bisnis dan komunitas. Cuma kali ini penyampaiannya saya modifikasi sedikit. dibuat model atau framework seperti roda di atas. Dibagi 4 dan masing-masing nilai ada warna dan makna berbeda," ungkapnya.

Model tersebut, ditemukan satu tahun lalu di sebuah buku berjudul How NASA Build Team karangan Charlie Perelin. Roni mempelajari buku tersebut lantaran banyak menemukan kecocokan dengan nilai TDA. Dia mengibaratkan sebagai roda, dengan keempat kualitas harus selaras agar bisa menggelinding.

"Jadi, rodanya jangan sampai gepeng atau penyok temuan dari nasa ini adalah bahwa leadership itu harus memperhartikan konteks sosialnya," imbuhnya.

Selain itu, dia juga memberikan makna pada setiap bundaran di antaranya biru, orange, hijau dan kuning. "Jadi, warna biru itu tentang pemikiran ide, strategi, visi, konsep. Warna oranye itu tentang eksekusi, kerja, target, omzet. Warna Kuning tentang keterlibatan orang banyak. Warna hijau tentang integritas, kepercayaan, kenyamanan, juga spiritual," katanya.

Sehingga, jika dibagi dua, hijau dan biru termasuk wilayah abstrak, wilayah langit. Warna kuning dan orange adalah wilayah bumi.

"Yang ide biru tanpa eksekusi orange tidak akan jadi apa-apa. Demikian juga sebaliknya. Orange tanpa hijau juga akan bermasalah. Tim disuruh kerja, kerja, kerja tanpa digaji cukup, apresiasi, nyaman, percaya, mereka akan menyumpah di belakang. Ide keren biru tanpa melibatkan orang lain kuning juga gak akan jalan," tandasnya.