Lutfiel Hakim, Canangkan Program Berkelanjutan untuk TDA 7.0

TANGERANG - Lutfiel Hakim merupakan pengusaha produk makanan bayi, Nayz Mpasi, di bawah naungan PT Hassana Boga Sejahtera, sejak 2009 silam. Bergabung dengan komunitas Tangan Di Atas (TDA) tahun 2008.
Menurutnya, TDA adalah salah satu komunitas terbaik. Sebab komunitasnya diisi para pembelajar. Tak hanya itu, hal unik yang tidak ditemukan di tempat lainya, yaitu sinergitas antara anggota berlomba memberikan yang terbaik untuk komunitas bukan sebaliknya.
"TDA itu, auranya positif, saling membangun dan menyemangati dalam kebaikan," terangnya.
Lutfiel menyebutkan bahwa TDA saat ini tengah dalam track yang tepat untuk mencapai visi misinya. Hal ini sangat terlihat dari semangat kewirausahaannya tetap bergairah meskipun dalam kondisi pandemi. Terlebih, TDA 6.0 telah melakukan kolaborasi dengan media yang berdampak sangat bagus.
" Tema kolaboraksi TDA 6.0 ini mempunyai impact yang sangat positif. Secara internal, sesama member jadi lebih berani bekerja sama. Karena memang eranya adalah era kolaborasi. Selain itu, dilihat dari sisi eksternal program TDA yang harus media-able cukup efektif untuk mengenalkan komunitas ini perkembangan baik harus dijaga dan diteruskan," ucapnya.
Dia berharap kedepan TDA harus memiliki program jangka panjang yang bisa menjadi estafet setiap kepengurusan.
"Jadi, misalnya dicanangkan program 10 tahun, maka 5 presiden atau 5 periode kepemimpinan bisa estafet menyelesaikan program kerja ini. Hal ini penting agar program antar pengurus selalu berkesinambungan dan tidak terputus sehingga tercapai visi misi bersama," ujarnya.
Sementara itu Lutfiel menyebutkan, program TDA 6.0 yang sudah sangat bagus harus dikembangkan lagi. Misalnya external awareness media harus menjadi alat yang nyata untuk kepentingan anggota. Tidak hanya sebatas masyarakat, tetapi stakeholders wirausaha lain seperti pemerintah.
"Member TDA harus memiliki hubungan yang baik dengan pemerintah untuk menjaga hubungan baik dan pertumbuhan bisnisnya. Sementara secara internal, peningkatan kapasitas dan mindset yang tepat dalam berbisnis bisa menjadi agenda utama. Secara bisnis, member harus didorong memiliki laporan keuangan dan izin - izin yang lengkap," tandasnya.
Hal tersebut guna mendapatkan akses pasar dan pertumbuhan bisnis yang terukur. Sebab dua hal itu seringkali menjadi kendala utama. Dengan menjalin hubungan baik dengan regulator (pemerintah) akan membantu mengakselerasi program ini.
"Di TDA, kami dijaga oleh nilai - nilai yang sering kita singkat dengan INBOKs. Nilai ini secara umum mengatur hubungan dalam berkomunitas. Kami beruntung budaya di TDA adalah egaliter. Sehingga sangat memudahkan interaksi antar anggota. Bahkan dengan pengurus dan founder. Dengan memperkuat sistem internal, yaitu utility paspor TDA dengan segala manfaatnya, fondasi TDA akan menjadi lebih kuat," pungkasnya.
Selama bergabung menjadi anggota TDA, Lutfiel pernah menjabat sebagai Ketua TDA Tangerang 1.0 tahun 2010, Ketua Pesta Wirausaha 1 tahun 2013 dan saat ini tengah menjabat sebagai Direktur Pengawasan dan Kepatuhan TDA Pusat 6.0.
