Konten dari Pengguna

Produk Kearifan Ramban Kulon dari Bondowoso untuk Zaman Individualis

Teddy Afriansyah
Mahasiswa S2 Kajian Sastra dan Budaya Universitas Airlangga.
15 September 2025 12:33 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Produk Kearifan Ramban Kulon dari Bondowoso untuk Zaman Individualis
Tulisan ini membahas tentang lembaga sanggar Raden Imam Asy'ari Desa Ramban Kulon, Kabupaten Bondowoso sebagai produk kearifan masyarakat Ramban Kulon dalam meningkatkan kesejahteraan desa.
Teddy Afriansyah
Tulisan dari Teddy Afriansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perspektif produk tradisi di Ramban Kulon terhadap kemajuan zaman individualis

Sumber: dokumen pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: dokumen pribadi
ADVERTISEMENT
Era digital sekarang melalui sebuah paradoks besar tengah melanda masyarakat modern. Teknologi yang seharusnya menghubungkan, justru sering kali menciptakan sekat-sekat tak kasat mata. Manusia terhubung secara virtual dalam gelembung algoritmik, namun semakin terasing dari interaksi sosial yang otentik. Individualisme menguat, sementara semangat kebersamaan perlahan terkikis. Fenomena tersebut bukan lagi sekadar wacana, melainkan kenyataan pahit di banyak pusat perkotaan. Namun, sebuah jawaban tak terduga atas krisis sosial yang terjadi sehingga datang dari tempat yang jauh dari sorotan, yaitu sebuah sanggar sederhana di Desa Ramban Kulon, Bondowoso.
Sumber: Dokumen pribadi
Melalui Sanggar Raden Imam Asy'ari, masyarakat setempat tidak hanya merawat ritual kuno, tetapi secara aktif mempraktikkan sebuah "teknologi sosial" yang ampuh bernama gotong royong. Tradisi seperti Gugur Gunung dan Ngideri Dhisah yang difasilitasi oleh sanggar tersebut bukanlah sekadar seremoni pelestarian budaya. Lebih dalam dari itu, semua kegiatan tersebut merupakan sebuah lokakarya kehidupan komunal yang menawarkan pelajaran berharga tentang cara membangun kembali ikatan sosial yang mulai rapuh di zaman sekarang. Kearifan dari pelosok Cermee yang dimiliki sejatinya merupakan sebuah kritik sekaligus solusi bagi zaman yang kian individualistis.
ADVERTISEMENT
Meruntuhkan Sekat Lewat Nampan dan Doa Bersama
Sumber: Dokumen Disparbudpora Bondowoso
Fungsi paling mendasar dari sebuah komunitas yaitu kemampuannya untuk menciptakan ruang kebersamaan yang tulus. Sanggar Raden Imam Asy'ari memahami betul filosofi yang tercipta dan menerjemahkannya melalui tradisi Gugur Gunung. Kegiatan yang mengambil bentuk selamatan akbar tersebut merupakan sebuah mekanisme ampuh untuk meruntuhkan sekat-sekat sosial. Pawai iring-iringan nampan berisi makanan dari setiap rumah yang kemudian ditukar dan disantap bersama merupakan sebuah tindakan simbolik yang sangat kuat. Aksi tersebut menghapuskan perbedaan status ekonomi dan sosial, menempatkan semua warga dalam posisi yang setara sebagai sebuah keluarga besar.
Sumber: Dokumen Disparbudpora Bondowoso
Lantunan istighosah dan doa yang dipanjatkan bersama-sama bukan hanya bertujuan memohon keselamatan, melainkan juga menyatukan frekuensi batin seluruh masyarakat. Dalam momen tersebut, ego personal melebur ke dalam sebuah kesadaran kolektif. Prosesi tersebut menjadi antitesis dari gaya hidup urban yang sering kali mendorong kompetisi alih-alih kolaborasi. Ketika masyarakat kota besar mungkin membangun pagar lebih tinggi, masyarakat Ramban Kulon justru keluar rumah membawa nampan makanan. Sanggar Raden Imam Asy'ari, sebagai inisiator, secara konsisten menyediakan panggung bagi penguatan modal sosial yang krusial.
ADVERTISEMENT
Sanggar Sebagai Laboratorium Karakter Kolektif
Sumber: Dokumen pribadi
Didirikan pada tahun 2016, Sanggar Raden Imam Asy'ari mengambil peran lebih dari sekadar penjaga artefak budaya. Tempat tersebut sudah menjelma menjadi sebuah laboratorium karakter, khususnya bagi generasi muda. Dengan melibatkan pemuda dalam setiap prosesi adat, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan, sanggar secara tidak langsung menanamkan nilai-nilai tanggung jawab, kerja sama, dan rasa memiliki terhadap komunitas. Keterlibatan yang terjadi mampu menjadi benteng pertahanan dari dampak negatif budaya instan yang sering kali memuja pencapaian individu dan melupakan pentingnya kontribusi kolektif.
Prosesi sakral Ngideri Dhisah yang menuntut seluruh desa untuk sejenak menghentikan aktivitas sebagai bentuk penghormatan merupakan bentuk pelajaran langsung tentang disiplin dan penghormatan terhadap nilai bersama. Pengalaman yang sudah dilalui mampu membentuk sebuah memori kolektif dan etos kerja yang tidak akan didapatkan dari layar gawai. Sanggar Raden Imam Asy'ari secara efektif mengubah warisan leluhur dari sebuah cerita usang menjadi pengalaman hidup yang membentuk kepribadian. Keberadaannya membuktikan bahwa pendidikan karakter terbaik sering kali tidak terjadi di ruang kelas formal, tetapi dalam partisipasi aktif di tengah denyut nadi kehidupan masyarakatnya.
ADVERTISEMENT
Relevansi Gotong Royong sebagai Vaksin Sosial
Sumber: Dokumen Ramban Kulon, Bondowoso
Lantas, apa relevansi sebuah tradisi dari Bondowoso bagi masyarakat Indonesia secara luas? Jawabannya terletak pada esensi Gugur Gunung itu sendiri, yaitu semangat gotong royong. Semangat yang dimiliki merupakan bentuk "vaksin sosial" yang sangat dibutuhkan di tengah meningkatnya polarisasi, ujaran kebencian, dan krisis kepercayaan di ranah publik. Tradisi yang dirawat oleh Sanggar Raden Imam Asy'ari mengingatkan kembali bahwa perbedaan dapat dijembatani melalui kerja bersama demi tujuan yang lebih besar. Aksi saling bertukar makanan merupakan bentuk metafora sederhana dari dialog dan kemauan berbagi.
Dukungan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI pada tahun 2023 menunjukkan bahwa inisiatif lokal yang tercipta memiliki nilai universal yang diakui. Apa yang dilakukan oleh Sanggar Raden Imam Asy'ari bukanlah sekadar upaya nostalgia. Upaya tersebut menjadi sebuah proyeksi masa depan, sebuah model pembangunan masyarakat yang berakar pada kekuatan komunal. Pelajaran dari Ramban Kulon sangat jelas, yaitu sebuah bangsa yang kuat tidak dibangun oleh individu-individu hebat yang terisolasi, tetapi oleh komunitas-komunitas solid yang warganya saling peduli dan menopang.
ADVERTISEMENT
Pada akhirnya, Sanggar Raden Imam Asy'ari mengajarkan bahwa menjaga "jiwa desa" bukanlah tentang menolak modernitas. Justru sebaliknya, hal tersebut merupakan suatu solusi dalam mengambil kearifan terbaik dari masa lalu untuk menjawab tantangan paling fundamental di masa kini. Semangat kebersamaan yang terus dipompakan dari sanggar tersebut merupakan harta karun yang relevansinya akan terus bergema, jauh melampaui batas-batas desa di Bondowoso.