Terowongan Mrawan dalam Dilema Produk Pelestarian Cagar Budaya

Penulis dan pengamat fenomena sosial-budaya. Aktif memotret dinamika pendidikan dan keseharian masyarakat.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Teddy Afriansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Permasalahan produk Terowongan Mrawan yang berpotensi menjadi cagar budaya di Banyuwangi

Sebuah terowongan kereta api tua yang menembus jantung Gunung Gumitir berdiri kokoh, menjadi saksi bisu lebih dari satu abad pergerakan zaman. Terowongan Mrawan, demikian nama struktur tersebut bukan sekadar lubang masif di perbatasan Jember dan Banyuwangi. Bangunan peninggalan era kolonial tersebut merupakan sebuah monumen hidup, sebuah artefak teknik yang ironisnya, menolak pensiun. Setiap hari, lokomotif modern melintasinya, mengangkut penumpang dan logistik, menjadikan terowongan itu sebagai urat nadi vital di jalur selatan Jawa.
Namun, dibalik fungsionalitas hariannya yang krusial, terowongan peninggalan perusahaan kereta api Staatssporwegen (SS) menyimpan sebuah paradoks fundamental. Statusnya sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB), atau bahkan Cagar Budaya, menghadapkannya pada sebuah persimpangan dilematis. Struktur tersebut merupakan aset infrastruktur kritis yang menuntut keandalan modern. Namun, pada saat yang sama, bangunan tersebut merupakan warisan sejarah yang menuntut pelestarian otentik. Terowongan Mrawan kini terjebak dalam dualisme peran, yaitu sebagai produk industri yang harus berfungsi sempurna dan sebagai produk sejarah yang harus dijaga keasliannya.
Arteri Ekonomi yang Menolak Menua
Pembangunan jalur kereta api di kawasan Gumitir pada periode 1901 hingga 1910 merupakan sebuah pencapaian teknik yang ambisius pada masanya. Tujuannya jelas yaitu percepatan pengangkutan komoditas ekspor berharga seperti kopi, gula, dan hasil bumi dari pedalaman timur Jawa menuju pelabuhan. Terowongan Mrawan merupakan suatu instrumen vital yang berfungsi untuk menaklukkan medan geografis yang sulit. Tanpa terowongan itu, konektivitas di kawasan Tapal Kuda akan terhambat secara signifikan.
Lebih dari seratus tahun kemudian, fungsi strategis tersebut tidak memudar. Justru, perannya dalam rantai pasok modern semakin menguat. Kereta api penumpang kelas eksekutif hingga ekonomi, bersama rangkaian kereta barang, menjadikan terowongan tunggal tersebut sebagai satu-satunya jembatan rel pemersatu dua kabupaten. Ketergantungan pada struktur berusia lanjut tersebut sangat tinggi. Sedikit saja gangguan di mulut terowongan, entah akibat faktor alam seperti longsor atau kendala teknis dapat melumpuhkan sebagian konektivitas ekonomi Jawa Timur.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Terowongan Mrawan bukanlah museum statis. Bangunan tersebut merupakan komponen aktif dalam sebuah sistem transportasi yang dinamis. Tuntutan terhadapnya sangat modern, mencakup soal ketepatan waktu, keselamatan perjalanan, dan kapasitas angkut. Operator perkeretaapian wajib memastikan bahwa setiap jengkal rel di dalamnya aman dilewati, dinding terowongan stabil, dan sistem drainasenya berfungsi optimal. Dalam konteks operasional, Mrawan menjadi sebuah "produk" yang harus memenuhi standar performa industri abad ke-21.
Benturan Prinsip Konservasi dan Kebutuhan Modernisasi
Masalah muncul ketika status "produk" tersebut bertemu dengan status "warisan". Sebagai bangunan yang didirikan sebelum 1950-an dan memiliki nilai sejarah arsitektural, Terowongan Mrawan memenuhi kriteria sebagai cagar budaya. Prinsip utama pelestarian cagar budaya yaitu menjaga otentisitas, meminimalkan intervensi, dan memastikan setiap perbaikan dilakukan dengan material dan teknik yang sesuai dengan aslinya, atau setidaknya reversibel.
Di sinilah letak dilema terbesarnya. Kebutuhan modernisasi infrastruktur kereta api seringkali berlawanan arah dengan kaidah konservasi. Misalnya, tuntutan efisiensi diharuskan memerlukan jalur ganda (double track). Sebuah studi kelayakan yang berfungsi untuk membangun jalur ganda di area tersebut pasti akan mempertimbangkan opsi pelebaran terowongan yang ada, atau membangun terowongan baru di sebelahnya. Opsi pertama jelas akan merusak bentuk asli dan nilai sejarah Mrawan secara ireversibel. Opsi kedua, meski lebih ramah warisan, memakan biaya luar biasa besar.
Bahkan dalam skala perawatan rutin, benturan dapat terjadi. Peristiwa gempa dan longsor yang pernah menerjang terowongan tersebut pada masa lalu seperti dicatat dalam arsip sejarah tahun 1909, menjadi pengingat permanen akan kerentanannya. Perkuatan struktur modern dapat menyarankan penggunaan beton semprot (shotcrete) atau pemasangan baut angkur (rock bolting) secara masif. Tindakan-tindakan tersebut, walau efektif secara teknis, berpotensi menutupi atau merusak tatanan batu bata asli yang menjadi ciri khas arsitektur kolonialnya. Operator dipaksa memilih antara keaslian estetika sejarah atau jaminan kekuatan struktur secara pragmatis.
Mencari Titik Temu Revitalisasi Warisan Industri
Tantangan pengelolaan Terowongan Mrawan mencerminkan persoalan lebih besar dalam manajemen warisan industri (industrial heritage) di Indonesia. Banyak aset infrastruktur kolonial seperti jembatan, stasiun, dan bendungan yang masih aktif digunakan. Aset-aset tersebut menua, rapuh, namun tetap vital. Revitalisasi menjadi kata kunci, tetapi revitalisasi yang seperti apa?
Sebuah revitalisasi yang hanya mengejar fungsi akan mengorbankan jiwa sejarah dari bangunan tersebut. Sebaliknya, proses konservasi yang terlalu kaku dan puritan dapat mengubah infrastruktur vital menjadi artefak mati yang menghambat kemajuan. Perlu ada sebuah jalan tengah, sebuah pendekatan "konservasi adaptif" yang cerdas. Perbaikan harus dilakukan, tetapi dengan sensitivitas tinggi.
Hal tersebut memerlukan kolaborasi erat antara insinyur sipil, arsitek, dan arkeolog atau ahli konservasi. Pemilihan material baru harus mempertimbangkan keselarasan visual dengan material lama. Teknik perkuatan struktur harus dirancang dengan maksimal dan tersembunyi, tanpa mengubah karakter fasad atau portal terowongan yang ikonik. Proses perawatan semacam itu jelas jauh lebih rumit, lebih lambat, dan lebih mahal daripada perbaikan infrastruktur standar. Namun, biaya tersebut menjadi harga yang harus dibayar demi merawat memori kolektif sekaligus menjaga denyut nadi ekonomi.
Terowongan Mrawan pada akhirnya merupakan sebuah cermin. Bangunan tersebut merefleksikan bagaimana sebuah bangsa memperlakukan masa lalunya yang masih produktif. Mengabaikan nilai sejarahnya atas nama modernisasi merupakan sebuah amnesia kultural. Namun, membiarkannya rapuh atas nama pelestarian murni menjadi sebuah kelalaian fungsional. Mengelola dilema Mrawan berarti mengelola keseimbangan yang sangat rumit antara menghormati sejarah dan melayani masa kini. Keberhasilan menjaga Mrawan tetap kokoh dan otentik akan menjadi warisan terbaik yang bisa diberikan pada generasi mendatang.
