Tradisi Mamaca Sebagai Potensi Melestarikan Bahasa Daerah di Jenjang Sekolah

Penulis dan pengamat fenomena sosial-budaya. Aktif memotret dinamika pendidikan dan keseharian masyarakat.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Teddy Afriansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Rencana Besar Mamaca Madura dalam potensi pembelajaran muatan lokal di jenjang sekolah
Kekayaan Sastra Lisan di Situbondo yang Meredup

Kekayaan budaya Nusantara terbentang luas dalam beragam bentuk, salah satunya melalui tradisi sastra lisan. Masyarakat Madura memiliki sebuah warisan intelektual bernilai tinggi bernama Mamaca, sebuah seni bertutur yang memadukan kemampuan membaca, melagukan, dan menafsirkan teks-teks kuno. Istilah Mamaca sendiri berasal dari bahasa Madura yang bermakna "membaca". Tradisi tersebut memiliki kedekatan konsep dengan tradisi Macapat di Jawa. Aktivitas kebudayaan tersebut merupakan kegiatan pembacaan naskah berisi syair atau cerita yang ditembangkan, kemudian maknanya diulas secara mendalam menggunakan bahasa Madura sehari-hari. Naskah yang digunakan umumnya ditulis dalam aksara Arab Pegon dengan bahasa Jawa Kromo, menuntut keahlian khusus dari para pelakunya.
Sayangnya, denyut kehidupan tradisi Mamaca kian melemah seiring perubahan zaman. Gempuran media hiburan modern dan pergeseran minat generasi muda membuat seni pertunjukan vokal tersebut kehilangan panggung. Regenerasi pelaku nyaris terhenti, menyisakan para maestro sepuh yang menyimpan pengetahuan tanpa pewaris. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan, sebab kepunahan Mamaca bukan hanya berarti hilangnya sebuah kesenian, melainkan juga terancamnya sebagian khazanah bahasa dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Fenomena tersebut memunculkan sebuah gagasan mendesak tentang perlunya upaya revitalisasi yang sistematis. Salah satu medium paling strategis dalam melakukan penyelamatan tersebut adalah melalui institusi pendidikan formal, khususnya dengan mengintegrasikan tradisi Mamaca sebagai bagian dari pembelajaran di sekolah. Melalui pendekatan akademis, Mamaca berpotensi besar menjadi wahana efektif guna melestarikan bahasa daerah Madura.
Kekayaan Linguistik dan Budaya dalam Mamaca
Daya tarik utama Mamaca terletak pada kompleksitas artistik dan kekayaan intelektualnya. Dalam setiap pertunjukan, terdapat dua peran sentral yang saling melengkapi, yaitu tokang maca (pembaca tembang) dan tokang tegghes (juru ulas atau penafsir). Tokang maca bertugas melantunkan bait-bait naskah dengan teknik vokal tembang yang khas, seperti Kasmaran, Senom, atau Pangkor. Kemampuan vokal berkarakter teatrikal menjadi kekuatan utama seorang tokang maca dalam menghidupkan narasi cerita. Setelah satu atau beberapa bait dilantunkan, peran selanjutnya diambil alih oleh tokang tegghes.
Peran tokang tegghes inilah yang menjadi jantung pelestarian bahasa Madura. Seorang juru ulas memiliki tugas menerjemahkan dan menginterpretasikan makna dari baris-baris berbahasa Jawa Kromo ke dalam bahasa Madura yang lugas, komunikatif, dan mudah dipahami oleh audiens. Proses penafsiran tersebut bukan sekadar alih bahasa secara harfiah. Seorang tokang tegghes harus memiliki daya nalar tinggi, penguasaan kosakata yang luas, serta pemahaman mendalam terhadap konteks cerita, filosofi, dan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya. Melalui penjelasan sang juru ulas, petuah-petuah dari naskah seperti Nor Bhuwwat (kisah Nabi Muhammad), Pandhaba (kisah Pandawa Lima dengan napas Islam), dan Juwar Manik dapat tersampaikan secara utuh. Aktivitas penafsiran tersebut menjadi sebuah praktik linguistik yang hidup, tempat kosakata arkais, peribahasa, dan gaya bahasa khas Madura digunakan secara aktif, menjadikannya medium pembelajaran bahasa yang otentik dan kontekstual. Dengan demikian, setiap pertunjukan Mamaca menjadi sebuah etalase hidup dari kekayaan bahasa dan budaya Madura.
Menjawab Tantangan Zaman Melalui Pendidikan Formal
Eksistensi Mamaca zaman sekarang sedang menghadapi berbagai tantangan berat. Bentuk pertunjukannya yang sederhana dan berdurasi panjang dinilai kurang menarik dibandingkan tontonan digital yang serba cepat. Selain itu, tingkat kesulitan yang tinggi dalam mempelajari Mamaca menjadi penghalang utama bagi generasi muda. Membaca aksara Arab Pegon, memahami bahasa Jawa Kromo, menguasai teknik tembang, dan mampu menafsirkannya ke dalam bahasa Madura adalah serangkaian keterampilan kompleks yang membutuhkan dedikasi dan waktu panjang. Proses pewarisan secara informal dari generasi ke generasi pun tidak lagi berjalan efektif.
Menghadapi persoalan pelik tersebut, jalur pendidikan formal menawarkan solusi yang terstruktur dan berkelanjutan. Sekolah dapat menjadi ruang inkubasi yang ideal guna memperkenalkan dan mengajarkan Mamaca kepada generasi baru. Anggapan bahwa tradisi tersebut ketinggalan zaman dapat dipatahkan dengan membingkainya sebagai sebuah kekayaan intelektual yang unik dan berharga. Dalam lingkungan sekolah, proses pembelajaran Mamaca dapat dipecah menjadi tahapan-tahapan yang lebih sederhana dan mudah dicerna. Alih-alih langsung menuntut penguasaan penuh, pengenalan dapat dimulai dari elemen-elemen dasarnya. Kehadiran Mamaca di sekolah tidak hanya berfungsi sebagai upaya pelestarian, tetapi juga sebagai metode guna menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya lokal di kalangan pelajar. Lingkungan akademis memberikan legitimasi bahwa Mamaca bukanlah sekadar hiburan kuno, melainkan sebuah disiplin ilmu dan seni yang layak dipelajari secara serius.
Implementasi Mamaca dalam Kurikulum Sekolah
Dalam upaya mengintegrasikan Mamaca ke dalam sistem pendidikan tidak harus dengan menciptakan mata pelajaran baru yang membebani siswa. Sebaliknya, tradisi tersebut dapat disisipkan secara relevan ke dalam beberapa mata pelajaran yang sudah ada. Fleksibilitas tersebut memungkinkan Mamaca menjadi suplemen pengayaan yang memperkuat pemahaman siswa terhadap materi inti sekaligus melestarikan budaya.
Pada mata pelajaran bahasa daerah (bahasa madura), Mamaca dapat dijadikan materi praktik utama. Pelajar dapat dilatih menjadi seorang tokang tegghes. Guru bisa menyediakan teks sederhana yang sudah dialihaksarakan, kemudian siswa secara berkelompok berlatih menafsirkannya di depan kelas. Kegiatan tersebut secara langsung dapat memperkaya perbendaharaan kata, melatih kemampuan berbicara di depan umum dengan bahasa Madura yang baik, serta mengasah daya nalar dalam menginterpretasi makna.
Selanjutnya, dalam mata pelajaran seni budaya, fokus pembelajaran dapat diarahkan pada aspek pertunjukannya. Pelajar dapat diperkenalkan dengan berbagai jenis tembang yang digunakan dalam Mamaca. Sesi praktik melagukan tembang-tembang tersebut dapat menjadi pengalaman artistik yang menarik. Pengenalan instrumen pengiring sederhana seperti suling bambu juga dapat ditambahkan sebagai materi pengayaan.
Bahkan, mata pelajaran sejarah juga dapat memanfaatkannya. Naskah-naskah Mamaca, seperti Pandhaba, merupakan bukti sejarah akulturasi budaya Jawa, Arab, dan Madura, serta media syiar Islam yang digunakan oleh Wali Sanga. Menganalisis isi naskah tersebut dapat memberikan perspektif baru bagi pelajar tentang sejarah penyebaran agama dan pembentukan budaya lokal secara damai dan negosiatif. Implementasi bertahap dan relevan yang diciptakan mampu membuat Mamaca terasa lebih hidup dan fungsional bagi pelajar.
Revitalisasi Bahasa Ibu Melalui Pintu Sekolah
Tradisi Mamaca merupakan sebuah artefak budaya hidup yang menyimpan kekayaan linguistik dan filosofis masyarakat Madura. Kondisinya yang berada di ambang kepunahan memerlukan sebuah langkah penyelamatan yang konkret dan strategis. Memasukkan Mamaca ke dalam kurikulum pendidikan jenjang sekolah merupakan sebuah jalan keluar yang paling menjanjikan. Melalui pendekatan tersebut, Mamaca tidak lagi dipandang sebagai warisan usang, tetapi sebagai sumber pengetahuan yang dinamis. Sekolah menjadi arena tempat regenerasi pelaku Mamaca dapat dibina secara sistematis, sekaligus menjadi benteng pertahanan terakhir bagi kelestarian bahasa Madura. Upaya tersebut bukan hanya tentang menjaga sebuah kesenian dari kelupaan. Jauh lebih penting, hal tersebut adalah sebuah investasi jangka panjang dalam pembentukan karakter generasi muda yang mencintai bahasa ibunya, menghargai sejarah para leluhur, dan memiliki akar budaya yang kuat guna menghadapi tantangan global. Pintu sekolah dapat menjadi gerbang utama menuju kebangkitan kembali gema Mamaca di tanah Madura.
