Konten dari Pengguna

Tradisi Masa Lalu Gugur Gunung Akan Hadir Kembali: Siapkah untuk Berpartisipasi?

Teddy Afriansyah

Teddy Afriansyah

Penulis dan pengamat fenomena sosial-budaya. Aktif memotret dinamika pendidikan dan keseharian masyarakat.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Teddy Afriansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pesta tradisi bernama Gugur Gunung akan diselengggarakan sebagai adat istiadat masyarakat Cermee, Bondowoso

Sumber: https://pexels.com/id-id/33278752/
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://pexels.com/id-id/33278752/

Kabar baik berembus di tengah masyarakat Kecamatan Cermee. Setelah beberapa waktu, tradisi luhur Selametan Gugur Gunung dijadwalkan akan kembali digelar pada bulan November 2025. Agenda budaya yang sarat akan makna filosofis tersebut bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan sebuah panggilan jiwa bagi seluruh lapisan masyarakat untuk kembali merajut kebersamaan. Kembalinya perhelatan akbar tersebut memunculkan satu pertanyaan mendasar bagi seluruh warga, yaitu sudah siapkah setiap individu untuk mengambil bagian dan menyukseskan warisan leluhur yang tidak ternilai harganya? Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menjadi cerminan masa depan dari tradisi itu sendiri. Kehadirannya merupakan momentum berharga untuk merefleksikan kembali nilai-nilai gotong royong yang mulai terkikis oleh zaman. Dengan demikian, partisipasi aktif dari semua elemen menjadi kunci utama agar Gugur Gunung tidak hanya hadir, tetapi juga hidup dan bergelora di sanubari setiap warga Cermee.

Memaknai Kembali Esensi Gugur Gunung

Sebelum melangkah lebih jauh menuju persiapan perayaan, ada baiknya seluruh kalangan kembali menyelami makna hakiki dari Gugur Gunung. Istilah tersebut berasal dari bahasa Jawa yang secara harfiah dapat diartikan sebagai kerja bersama untuk menuntaskan sebuah pekerjaan besar demi kepentingan umum. Konsep dasarnya adalah gotong royong, sebuah pilar sosial yang sudah lama menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat di Nusantara. Gugur Gunung adalah manifestasi dari semangat kebersamaan tanpa pamrih. Dalam pelaksanaannya tidak ada upah materi yang dinantikan, tidak ada pula hitung-hitungan untung rugi. Kepuasan batin dan eratnya tali persaudaraan menjadi imbalan tertinggi.

Filosofi di baliknya sangatlah dalam. Setiap tetes keringat yang jatuh dalam prosesi Gugur Gunung adalah simbol dari kerelaan dan keikhlasan untuk berkontribusi bagi kebaikan bersama. Pekerjaan seberat apa pun akan terasa ringan apabila dipikul bersama-sama. Semangat inilah yang mampu menciptakan harmoni sosial, mempererat hubungan antar tetangga, dan membangun rasa kepemilikan kolektif terhadap lingkungan sekitar. Dalam konteks Selametan Desa Cermee, Gugur Gunung menjadi wujud nyata dari rasa syukur kepada Sang Pencipta atas segala nikmat yang sudah dilimpahkan selama setahun, sekaligus menjadi permohonan agar dijauhkan dari segala bentuk musibah. Pemaknaan ulang terhadap esensi tersebut sangat penting, terutama bagi generasi muda, agar dapat memahami bahwa keterlibatan dalam tradisi tersebut adalah sebuah kehormatan dan tanggung jawab sosial.

Selametan Desa Cermee: Lebih dari Sekadar Ritual Tahunan

Sumber: https://pexels.com/id-id/33316345/

Selametan Gugur Gunung yang diselenggarakan di Cermee secara historis menyatukan beberapa desa seperti Plalangan, Ramban Kulon, dan Ramban Wetan, memiliki keunikan tersendiri. Prosesi tersebut bukan hanya tentang doa bersama, tetapi sebuah rangkaian kegiatan sosial dan budaya yang kaya warna. Warga dari berbagai penjuru akan berbondong-bondong datang membawa aneka hidangan dari rumah masing-masing. Makanan yang terkumpul kemudian didoakan oleh para tokoh adat dan pemuka agama, lalu dinikmati bersama dalam suasana penuh keakraban. Momen makan bersama tersebut merupakan simbol kuat bahwa semua warga, tanpa memandang status sosial, adalah satu keluarga besar yang berbagi rezeki dan kebahagiaan.

Keistimewaan acara tidak berhenti di situ. Selametan Gugur Gunung di Cermee secara tradisi juga dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan seni dan atraksi budaya lokal. Atraksi seperti Ojung yang menguji ketangkasan, gerak dinamis tari Singo Ulung, hingga arak-arakan Kuda Kencak menjadi daya tarik yang selalu dinantikan. Kehadiran ragam kesenian tersebut berfungsi sebagai panggung ekspresi budaya sekaligus media untuk melestarikan identitas lokal. Hal tersebut menunjukkan bahwa Gugur Gunung merupakan sebuah perayaan kehidupan yang utuh, mencakup aspek spiritual, sosial, dan kultural. Perhelatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk bersyukur, bersilaturahmi, sekaligus bergembira merayakan kekayaan budaya yang dimiliki. Dengan demikian, memandangnya hanya sebagai ritual tahunan akan mengurangi nilai dan makna besarnya.

Tantangan Pelestarian di Era Modern

Menggelar kembali tradisi sebesar Gugur Gunung di era modern tentu bukan tanpa tantangan. Arus globalisasi dan perkembangan teknologi membawa perubahan signifikan dalam pola pikir dan gaya hidup masyarakat. Semangat individualisme yang kian menguat berpotensi menggerus nilai-nilai kebersamaan yang menjadi inti dari Gugur Gunung. Generasi muda yang lahir dan besar di tengah kemudahan teknologi digital merasa asing dengan konsep kerja bakti tanpa imbalan materi. Kesibukan dalam pekerjaan dan urusan pribadi juga seringkali menjadi alasan bagi banyak orang untuk tidak terlibat dalam kegiatan komunal.

Tantangan lainnya adalah memastikan transfer pengetahuan dan nilai-nilai luhur dari generasi tua kepada generasi muda berjalan dengan baik. Tanpa pemahaman yang mendalam mengenai makna dan tujuan setiap prosesi, partisipasi yang ada hanya sebatas formalitas, tanpa disertai penghayatan. Regenerasi pelaku adat dan seniman lokal juga menjadi isu krusial. Jika tidak ada anak-anak muda yang tertarik untuk melanjutkan peran para sesepuh, maka keberlanjutan tradisi tersebut di masa depan patut dipertanyakan. Tantangan-tantangan tersebut bukanlah untuk ditakuti, melainkan untuk dicari solusinya bersama. Diperlukan dialog terbuka antar generasi dan inovasi dalam penyajian acara agar tetap relevan dan menarik bagi semua kalangan, tanpa harus meninggalkan esensi utamanya.

Partisipasi sebagai Kunci Keberlanjutan Tradisi

Menjawab berbagai tantangan yang ada, partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat menjadi satu-satunya jawaban. Keberhasilan Selametan Gugur Gunung 2025 tidak bisa hanya dibebankan pada panitia atau tokoh adat semata. Setiap warga memiliki peran dan kapasitasnya masing-masing untuk berkontribusi. Para sesepuh dapat mengambil peran sebagai penjaga api semangat, dengan tidak lelah berbagi cerita, sejarah, dan makna filosofis di balik setiap ritual kepada yang lebih muda. Pengetahuan dan kearifan yang dimiliki merupakan fondasi yang akan membuat tradisi tersebut tetap kokoh.

Kalangan usia produktif dapat menyumbangkan tenaga, pikiran, dan bahkan sumber daya untuk kelancaran teknis acara. Sementara itu, generasi muda memegang peran yang tidak kalah strategis. Dengan kreativitas dan penguasaan teknologi, kaum muda dapat membantu mempromosikan acara melalui media sosial, membuat dokumentasi visual yang menarik, atau bahkan menginisiasi kegiatan pra-acara yang sesuai dengan minat sebaya. Keterlibatan dalam kepanitiaan, keikutsertaan dalam pertunjukan seni, atau sekadar hadir dan membaur dalam keramaian adalah bentuk-bentuk partisipasi yang sangat berarti. Partisipasi bukan tentang besar atau kecilnya kontribusi, melainkan tentang kesadaran untuk menjadi bagian dari sebuah gerakan kolektif. Ketika setiap individu merasa memiliki dan bertanggung jawab atas tradisi tersebut, maka keberlanjutannya hingga puluhan tahun mendatang bukan lagi sebuah angan-angan. Panggilan untuk berpartisipasi kini sudah bergema, dan bola ada di tangan seluruh warga Cermee.