Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
27 Ramadhan 1446 HKamis, 27 Maret 2025
Jakarta
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Konten dari Pengguna
Monopoli Obat dan Paten Penyakit Risiko Tinggi: Ancaman Keamanan Non-Tradisional
24 Maret 2025 11:39 WIB
·
waktu baca 4 menitTulisan dari Tedy Asjad Krisnamukti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Fenomena monopoli obat dan paten untuk penyakit berisiko tinggi seperti HIV, Hepatitis, TBC, kanker, dan penyakit lainnya, menimbulkan dampak besar terhadap sistem kesehatan global dan politik internasional. Dalam esai ini, akan dibahas bagaimana kontrol oleh perusahaan farmasi besar global berpotensi menambah ketidakstabilan di dunia internasional, serta meningkatkan ancaman keamanan non-tradisional.
ADVERTISEMENT
Monopoli Obat dan Paten: Isu Keamanan Internasional
Monopoli obat dan paten di industri farmasi global adalah masalah yang semakin mendesak, berpotensi memperburuk gejolak dalam politik internasional. Perusahaan farmasi besar, yang mengontrol produksi dan harga obat berisiko tinggi, memanfaatkan hak kekayaan intelektual (IPR) untuk mempertahankan dominasi pasar. Akibatnya, harga obat-obatan yang sangat dibutuhkan melonjak tajam, dan jutaan orang, terutama di negara berkembang, kesulitan mengakses pengobatan yang vital (Shadlen, 2017).
Keputusan untuk memperpanjang paten atau membatasi produksi generik oleh negara-negara besar ini berujung pada ketegangan diplomatik antara negara maju dan berkembang. Protes terhadap kebijakan paten ini, seperti yang dilakukan Brazil terkait harga obat Hepatitis C, menunjukkan bagaimana masalah kesehatan publik dapat menjadi faktor pemicu perselisihan politik internasional (Flynn, 2019).
ADVERTISEMENT
Potensi Pasar Gelap dan Kejahatan Terorganisir
Monopoli obat juga memicu maraknya pasar gelap dan peredaran obat palsu, terutama di negara-negara berkembang. Meningkatnya harga obat membuat masyarakat tidak mampu mengakses pengobatan, dan tanpa subsidi pemerintah, banyak yang terpaksa membeli obat-obatan ilegal. Keberadaan pasar gelap ini memberi peluang bagi kelompok kriminal untuk mendistribusikan obat palsu, yang dapat menyebabkan efek samping berbahaya, gagal pengobatan, dan bahkan kematian (Ziavrou, 2022).
Wilayah Afrika Barat dan Amerika Selatan menjadi target utama peredaran obat palsu, dengan laporan WHO yang menunjukkan prevalensi obat palsu yang tinggi, seperti obat untuk HIV, TBC, dan kanker (World Health Organization, 2017). Hal ini semakin memperburuk masalah kesehatan di negara-negara berkembang dan menciptakan ketidakstabilan di tingkat global.
Ketegangan Diplomatik Antara Negara Maju dan Berkembang
Pentingnya hak kekayaan intelektual dalam perdagangan global, yang dipengaruhi oleh perjanjian seperti TRIPS (Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights), menjadi titik ketegangan utama. Negara maju yang mendominasi pasar farmasi global sering kali mematenkan obat-obatan penting, meningkatkan harga yang tidak terjangkau di negara-negara berkembang. Negara-negara berkembang sering kali berada dalam dilema, antara melindungi kedaulatan mereka untuk mengakses obat yang terjangkau atau tunduk pada sistem hukum internasional yang lebih berpihak pada perusahaan besar.
ADVERTISEMENT
Salah satu contoh signifikan adalah kebijakan Brazil yang menentang paten perusahaan Gilead atas obat Hepatitis C. Upaya untuk memproduksi obat generik yang lebih terjangkau memicu perlawanan terhadap dominasi perusahaan besar dalam pasar farmasi internasional (Achcar, 2024). Hal ini menambah ketegangan antara negara-negara berkembang dan negara maju, berimplikasi pada diplomasi internasional yang semakin kompleks.
Perang Geoekonomi dan Keamanan Internasional
Selain pasar gelap dan ketegangan diplomatik, monopoli obat dan paten dapat berpotensi memicu perang geoekonomi. Perusahaan farmasi besar yang didukung oleh negara-negara maju dapat memanfaatkan kontrol mereka atas obat-obatan penting untuk memperkenalkan agenda politik. Negara-negara yang tidak memiliki kapasitas produksi atau akses terhadap obat-obatan sering kali terpaksa menerima perjanjian politik, ekonomi, atau militer yang merugikan demi mendapatkan akses ke obat-obatan yang dibutuhkan.
ADVERTISEMENT
Pandemi COVID-19 adalah contoh nyata bagaimana monopoli obat dan vaksin menciptakan ketegangan internasional. Negara-negara berpenghasilan tinggi mendominasi pasokan vaksin, sementara negara-negara berkembang terpinggirkan dalam aksesnya (Bollyky, 2020). Tindakan seperti nasionalisme vaksin yang dilakukan oleh Italia, yang membatasi ekspor vaksin, menunjukkan bagaimana ketergantungan pada pasokan obat dapat menciptakan ketidakstabilan geopolitik (Riaz, 2021).
Penutup
Monopoli obat dan paten adalah ancaman yang lebih besar dari sekadar masalah ekonomi atau kesehatan. Implikasinya terhadap pasar gelap, ketegangan diplomatik, dan potensi perang geoekonomi menjadi ancaman nyata terhadap keamanan internasional. Negara-negara berkembang, yang paling tertekan oleh situasi ini, harus mendapatkan perhatian lebih besar dari komunitas internasional untuk mengatasi dampak negatif yang ditimbulkan oleh monopoli ini.
Referensi
Achcar, H. de M. (2024). The politics and governance of drug production in public-private partnerships: Brazil’s response to hepatitis C. Global Public Health, 19(1).
ADVERTISEMENT
Bollyky, T. J. (2020). The Tragedy of Vaccine Nationalism: Only Cooperation Can End the Pandemic. Foreign Affairs.
Cavalan, Q. (2018). Prices, Patents and Access to Drugs: Views on Equity and Efficiency in the Global Pharmaceutical Industry. Revue Française Des Affaires Sociales.
Flynn, M. (2019). Criticizing and legitimizing patent monopolies: The struggle over hepatitis C medicines in Brazil’s digital universe. Critical Global Semiotics.
Ziavrou, K. S. (2022). Trends in counterfeit drugs and pharmaceuticals before and during COVID-19 pandemic. Forensic Sci Int.
World Health Organization. (2017). A study on the public health and socioeconomic impact of substandard and falsified medical products. WHO.