Konten dari Pengguna

Potret Setengah Pengangguran: Ketika Sarjana S-1 Harus Turun Kasta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari tegar anugerah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi lulusan s1 kesulitan cari kerja/Generated AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lulusan s1 kesulitan cari kerja/Generated AI

Pernahkah kalian merasa bahwa lulusan sarjana pada saat ini sangat kesulitan untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan jurusan atau bidang yang ditempuh?

Sebagai contoh, ada seorang sarjana lulusan IT. Ia telah lulus dan mendapatkan gelar, namun saat melamar pekerjaan, ternyata saingannya sangat banyak. Ia pun gagal, hingga mental dan harga dirinya terdampak. Demi menyambung kehidupan, ia rela menurunkan kasta ilmu yang telah ditempuhnya. Ia yang tadinya adalah lulusan IT beralih menjadi seorang kasir. Sungguh ironis, tetapi itulah kehidupan. Terkadang kita harus turun kasta atau menurunkan ekspektasi agar tetap bisa melanjutkan hidup. Lalu, mengapa hal ini bisa terjadi?

Apakah dari birokrasinya yang tidak jelas, atau dari mahasiswanya yang hanya mengejar nilai bagus tanpa memenuhi standar kriteria perusahaan yang sangat ketat dengan persaingan ketat, ataukah dari kampus-kampus yang menghasilkan ribuan hingga jutaan sarjana per tahun tanpa memandang ketersediaan lapangan kerja saat ini?

Mesin Pencetak Sarjana

Kita melihat kampus atau universitas sebagai pencetak sarjana dan penerus bangsa dari berbagai bidang, mulai dari pertanian, komunikasi, IT, agama, dan sebagainya. Banyak jurusan, banyak pula program studi. Namun, apakah kampus atau universitas hanya menjadi mesin pencetak sarjana tanpa memikirkan keberlangsungan atau masa depan para alumninya? Apakah hanya dengan magang dan pelatihan sudah cukup untuk membuat mahasiswa mengoptimalisasi keilmuan mereka?

Faktanya, program magang atau MSIB (Magang dan Studi Independen Bersertifikat) belum cukup memberikan pengalaman atau kualitas yang baik, serta belum mampu mengoptimalisasi keahlian dari teori menjadi pengalaman nyata. Kualitas magang yang belum merata menunjukkan banyak program mengalami ketidaksesuaian (mismatch) penempatan.

Sebagai contoh, pada jurusan ekonomi, alih-alih belajar alur bisnis strategis untuk melatih skill, banyak mahasiswa magang hanya diberikan tugas administratif yang ringan dan repetitif, seperti memfotokopi, menginput data dasar, dan sejenisnya. Tugas-tugas ini tidak meningkatkan keterampilan teknis (hard skill) mereka. Padahal, pesaing mereka di luar sana adalah para mantan pekerja senior atau profesional yang terkena PHK dan ingin kembali bekerja. Dengan pengalaman magang yang hanya sebatas tugas dasar dan repetitif tersebut, mereka tentu akan mudah ditolak karena tidak memenuhi standar perusahaan.

Selain itu, program magang ini hanya mengatasi masalah di permukaan. Magang seharusnya menjadi jembatan menuju dunia kerja langsung. Jika magangnya tidak jelas dan repetitif, terlebih lagi jika kurikulum dasar di kampus sudah usang dan tidak relevan sejak awal, magang selama enam bulan tidak akan cukup untuk mengejar ketertinggalan kompetensi di luar sana. Terlebih lagi, beberapa perusahaan memanfaatkan skema magang ini hanya sebagai kedok untuk mendapatkan tenaga kerja murah atau gratis, tanpa memberikan pelatihan terstruktur dan tanpa kepastian untuk diangkat menjadi karyawan tetap.

Pada akhirnya, mahasiswa itu sendiri yang harus belajar cara mengembangkan soft skill mereka, seperti berpikir kritis, berkomunikasi dengan baik, dan memiliki kecepatan belajar. Hal-hal inilah yang paling penting dalam dunia kerja nyata. Tanpa kemampuan dasar tersebut, tentu akan sangat sulit. Akan jauh lebih baik jika program magang diarahkan untuk meraih sertifikasi profesional yang diakui standar industri global, serta menghasilkan portofolio nyata sebagai bukti hasil kerja, bukan sekadar untuk ditulis di CV, melainkan sebagai pengalaman berharga bagi mahasiswa itu sendiri.

Standar Perusahaan yang Tidak Logis

Kita juga dihadapkan pada standar perusahaan yang tidak logis. Sebagai contoh, di jurusan ekonomi, dunia perkantoran, atau IT, ada beberapa syarat yang kurang masuk akal. Misalnya, harus good looking, memiliki tinggi badan tertentu, hingga harus memiliki pengalaman kerja sekian tahun. Padahal, untuk seorang lulusan baru (fresh graduate), pengalaman yang dimiliki umumnya paling banyak sekitar enam bulan dari masa magang.

Selain itu, kandidat dituntut menguasai berbagai macam keahlian sekaligus. Batasan umur juga menjadi masalah; ada perusahaan yang membatasi usia maksimal 25 atau 26 tahun, tetapi mewajibkan pengalaman kerja minimal dua tahun. Jika seseorang baru lulus di usia 22 atau 23 tahun, tentu syarat pengalaman dua tahun tersebut sangat tidak logis dan menyulitkan lulusan baru untuk mencari pekerjaan yang ideal.

Persyaratan yang tidak masuk akal inilah yang menyebabkan fenomena underemployment terjadi secara masif saat ini. Demi bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan perut, para sarjana ini rela mengambil pekerjaan di luar bidang keilmuan mereka, seperti menjadi kasir, pengemudi ojek daring, dan pekerjaan sejenisnya.

Secara statistik, mereka memang tidak terhitung sebagai pengangguran terbuka. Namun, mereka masuk ke dalam kategori underemployment atau pekerja di bawah kapasitasnya, baik karena jam kerja yang tidak menentu, penghasilan yang belum terjamin, maupun status kerja yang belum terdaftar sebagai karyawan resmi.

Pada akhirnya, para sarjana itu sendiri yang harus berjuang mengasah soft skill dan hard skill mereka demi bersaing di dunia kerja. Semakin banyak pesaing, tentu semakin sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Oleh karena itu, kita dituntut untuk memiliki nilai tambah (value) yang lebih tinggi dibandingkan kandidat lain agar bisa mengamankan satu posisi pekerjaan. Sungguh ironis, tetapi itulah kenyataan yang harus dihadapi.