Opini & Cerita
·
27 Agustus 2020 4:15

Pindah Ibu Kota? Mari Kita Tilik Pengalaman Kazakhstan

Konten ini diproduksi oleh Teguh Adhi
Meskipun saat ini Jakarta tidak berada di dalam peringkat 10 besar kota terpadat di dunia namun dengan laju pertumbuhan Ibukota Indonesia tersebut pada saat ini, diperkirakan pada tahun 2030 Jakarta akan menjadi kota terpadat di dunia dengan populasi 35,6 juta penduduk. Kepadatan penduduk tentunya berbanding lurus dengan permasalahan-permasalahan urban seperti tingkat kejahatan dan pengangguran yang tinggi serta penurunan kualitas hidup dan lingkungan.
ADVERTISEMENT
Rencana Pemerintah Indonesia untuk memindahkan Ibu kota ke Kalimantan sebagai solusi bagi permasalahan-permasalahan Jakarta pun tak ayal mengundang pro dan kontra. Selain permasalahan urban Jakarta, faktor geopolitik juga menjadi salah satu pertimbangan. Pemindahan Ibu kota, terdengar sederhana namun kompleks dan tidak murah. Kita mungkin sejenak dapat memalingkan pandangan kepada Kazakhstan yang telah lebih dulu melalui segala kerepotan terkait urusan pindah ibu kota.
23 tahun yang lalu, sebuah kota kecil bernama Akmola yang pernah dijadikan penjara bagi tahanan pemerintah Soviet disulap oleh Pemerintah Kazakhstan menjadi sebuah ibu kota dengan penataan yang sangat terencana. Ibu kota tersebut dinamai Astana (sekarang Nursultan). Ibu kota lamanya, Almaty, terletak jauh di ujung tenggara Kazakhstan.
ADVERTISEMENT
Letak ibu kota lamanya yang berada di ujung dan terlalu dekat dengan Tiongkok menjadi alasan kenapa Kazakhstan mengalihkan ibu kotanya. Sementara itu lokasi baru yang menjadi incaran, selain secara geopolitik dinilai lebih aman, juga merupakan lokasi yang subur dan kaya akan sumber daya alam. Sebagai negara terluas ke-9 di dunia dan jumlah populasi yang hanya menempati urutan ke-64, Almaty hanya dihuni oleh 1,1 juta penduduk. Kepadatan manusia bukanlah pemicu utama kepindahan ibu kota.
Pindah Ibu Kota? Mari Kita Tilik Pengalaman Kazakhstan (226119)
Almaty, ibu kota lama Kazakhstan. Foto: unsplash.com
Astana dibangun dengan campur tangan 40 arsitek yang berasal dari Jepang, Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, dan Jerman. Untuk menyulap sebuah kota provinsi yang kecil di dataran luas menjadi sebuah ibu kota yang seperti sekarang diperkirakan memakan biaya 30 miliar dolar AS. Bukan uang yang sedikit ya. Fakta ini tentu menjadi santapan bagi para kritikus di Kazakhstan yang menganggap pemindahan ibu kota sebagai sebuah pemborosan.
ADVERTISEMENT
Kritik juga timbul karena citra megah yang dibangun oleh ibu kota baru tersebut bertolak belakang dengan kondisi kota-kota lain di sekitarnya. Kemegahan bangunan berskala luas dan gedung pencakar langit dengan arsitektur yang unik sempat pula mengganjar ibu kota baru tersebut dengan gelar ibu kota teraneh di dunia oleh media-media barat.
Pindah Ibu Kota? Mari Kita Tilik Pengalaman Kazakhstan (226120)
Baiterek, landmark ibu kota baru Kazakhstan. Foto: unsplash.com
Sekarang Nursultan menjadi tujuan utama bagi mereka yang ingin membangun karier. Populasi ibu kota baru yang pada mulanya hanya sekitar 280 ribu penduduk telah meroket menjadi sekitar 1,1 juta. Nursultan juga banyak dihuni oleh ekspatriat baik para tenaga kerja asing, pebisnis hingga kalangan korps diplomatik. Meskipun demikian, kota berukuran 720 km persegi di tengah dataran luas tersebut masih memberikan kesan lengang dan sepi dengan keberadaan gedung-gedung berskala besar dan jalan-jalan serta trotoar yang lebar.
ADVERTISEMENT
Jadi, para warga Jakarta, apakah anda juga sudah mendambakan untuk tinggal di ibu kota baru yang sepi dan melompong?