Pulau Biak: Peluang Indonesia Jadi Tuan Rumah Penerbangan Antariksa Masa Depan

Pemerhati penerbangan dan pengembangan antariksa
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Teguh Setiadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada 12 Mei 2026, SpaceX menyatakan niatnya untuk meluncurkan Starship dalam jumlah besar, dengan target ribuan penerbangan setiap tahun. Untuk mencapai cadence setinggi itu, perusahaan tersebut membutuhkan banyak lokasi peluncuran yang tersebar, baik di dalam negeri maupun di luar Amerika Serikat. Pernyataan ini membuka diskusi baru tentang peran yang bisa dimainkan Indonesia, khususnya melalui rencana pembangunan pelabuhan antariksa di Biak, Papua.
Starship bukan sekadar roket biasa. Ia dirancang sebagai kendaraan yang dapat digunakan kembali secara berulang, mampu membawa muatan jauh lebih besar dibanding roket yang ada saat ini, sekaligus menjadi tulang punggung rencana ambisius SpaceX untuk misi ke Bulan dan Mars. Jika target peluncuran yang sangat tinggi itu ingin dicapai, maka lokasi peluncuran tidak bisa hanya mengandalkan satu atau dua tempat saja. Di sinilah letak peluang Biak.
Keunggulan Lokasi yang Sulit Ditandingi
Salah satu keunggulan utama Biak terletak pada posisinya yang sangat dekat dengan garis khatulistiwa, sekitar satu derajat lintang selatan. Semakin dekat sebuah lokasi peluncuran ke khatulistiwa, semakin besar “dorongan gratis” yang diperoleh roket dari rotasi Bumi. Efek ini memungkinkan roket membawa muatan lebih berat ke orbit tanpa harus mengorbankan bahan bakar tambahan. Ditambah lagi, Biak menghadap langsung ke hamparan Samudra Pasifik yang luas di sebelah timurnya. Kombinasi antara letak khatulistiwa dan ruang aman yang sangat besar ini relatif jarang dimiliki lokasi lain di kawasan Pasifik.
Rencana yang Sudah Berjalan dan Keterbatasannya
Indonesia sebenarnya sudah memiliki landasan hukum yang kuat. Undang-Undang Antariksa 2013 mewajibkan pembangunan pelabuhan antariksa nasional, dan BRIN telah menetapkan Biak sebagai lokasinya. Pembebasan lahan direncanakan dimulai tahun ini, dengan target operasional sekitar tahun 2040. BRIN juga telah menyatakan bahwa fasilitas tersebut akan dioperasikan secara komersial dan terbuka bagi berbagai pengguna, baik domestik maupun internasional.
Namun, kemitraan yang saat ini paling menonjol adalah kerja sama dengan Rusia melalui Roscosmos dan Glavkosmos. Perjanjian ini membawa dukungan teknis dan pengalaman dalam pembangunan infrastruktur. Di sisi lain, kemitraan semacam ini juga menyimpan risiko. Sanksi internasional yang membatasi akses Roscosmos, kemungkinan transfer teknologi yang terbatas, serta beban pendanaan yang sebagian besar ditanggung Indonesia, membuat posisi Biak ke depan tidak sepenuhnya fleksibel. Lebih dari itu, jika Biak terlalu erat dikaitkan dengan satu jalur teknologi saja, maka daya tariknya bagi pemain-pemain generasi berikutnya yang mengandalkan sistem yang dapat digunakan kembali bisa berkurang.
Peluang yang Muncul dari Starship
Pengumuman SpaceX pada pertengahan Mei ini mengubah cara pandang terhadap timeline Biak. Alih-alih hanya melihat 2040 sebagai tenggat yang jauh, kita bisa memandangnya sebagai ruang persiapan yang cukup untuk menyesuaikan infrastruktur dengan kebutuhan kendaraan generasi baru. Starship membutuhkan lokasi yang mampu mendukung operasi berfrekuensi tinggi, dengan infrastruktur peluncuran yang lebih besar serta fasilitas produksi bahan bakar yang memadai. Biak, dengan posisi geografisnya, memiliki kesesuaian alami yang kuat untuk kebutuhan tersebut.
Jika Biak berhasil menjadi bagian dari jaringan peluncuran Starship, manfaat yang bisa diperoleh Indonesia tidak kecil. Pertama, akan tercipta lapangan kerja dan aktivitas ekonomi baru di Papua, mulai dari konstruksi, operasional, hingga layanan pendukung. Kedua, keterlibatan langsung dengan teknologi mutakhir akan memberikan pengalaman berharga bagi insinyur dan industri dalam negeri. Ketiga, Indonesia berkesempatan ikut serta dalam misi-misi besar yang sedang dirancang, bukan hanya sebagai penonton. Keempat, pendekatan yang terbuka terhadap berbagai mitra internasional justru sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang selama ini dipegang Indonesia.
Langkah yang Perlu Diambil Sekarang
Indonesia tidak perlu membatalkan kerja sama yang sudah ada. Yang dibutuhkan adalah memperluas cakupan. Beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan antara lain:
• Mulai menjajaki komunikasi dengan SpaceX untuk memperkenalkan Biak sebagai salah satu opsi lokasi internasional, dengan menonjolkan keunggulan letak dan model multi-pengguna yang sudah direncanakan.
• Mengkaji penyesuaian infrastruktur yang diperlukan agar Biak mampu mendukung operasional kendaraan berukuran besar dan dapat digunakan kembali.
• Mempertimbangkan untuk bergabung dengan Artemis Accords. Banyak negara tetangga di ASEAN sudah melakukannya, dan langkah ini relatif ringan secara diplomatik namun memberikan Indonesia suara dalam pembentukan norma-norma eksplorasi antariksa ke depan.
• Terus mempertahankan narasi bahwa Biak adalah pelabuhan antariksa komersial yang terbuka bagi berbagai mitra. Pendekatan ini justru membuat lokasi tersebut lebih menarik di mata banyak pihak.
Waktu menjadi faktor penting. SpaceX sedang aktif mencari dan mempertimbangkan lokasi-lokasi baru. Jendela untuk masuk ke dalam rencana mereka tidak akan terbuka selamanya.
Menjadikan Biak Lebih dari Sekadar Pemenuhan Mandat
Pada akhirnya, Biak bisa melakukan dua hal sekaligus: memenuhi amanat Undang-Undang Antariksa 2013 dan menjadi bagian dari babak baru penerbangan antariksa global. Lokasinya sudah mendukung, arah kebijakan komersialnya sudah tepat, dan waktu yang tersisa hingga 2040 masih cukup untuk melakukan penyesuaian. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian untuk melihat peluang yang lebih besar dan mulai mengambil langkah nyata ke arah sana.
Indonesia memiliki kesempatan untuk tidak hanya memiliki pelabuhan antariksa sendiri, tetapi juga menjadi salah satu pemain yang diperhitungkan dalam ekosistem antariksa yang sedang berkembang pesat. Pertanyaannya adalah apakah kita akan memanfaatkan momentum ini atau membiarkannya berlalu.
