Konten dari Pengguna

Bukan Lagi Zaman Pemimpin Otoriter: Alasan Kami Merancang LDKO XVII

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Teguh Prayuga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai ketua pelaksana, saya melihat kepemimpinan otoriter tak lagi relevan. LDKO XVII HMM-UNPAM melatih 64 mahasiswa menjadi pemimpin yang inklusif, beretika, dan adaptif.

Oleh: Muhamad Teguh Prayuga, Ketua Pelaksana LDKO XVII HMM-UNPAM

Tangerang Selatan – Villa Sambora menjadi saksi bisu lahirnya generasi baru pemimpin Program Studi Manajemen Universitas Pamulang. Selama tiga hari, mulai dari 17 hingga 19 April 2026, Himpunan Mahasiswa Manajemen (HMM-UNPAM) sukses menyelenggarakan Latihan Dasar Kepemimpinan Organisasi (LDKO) ke-XVII dengan penuh semangat dan dedikasi.

Bukan Sekadar Pelatihan Biasa

Ada masa ketika pemimpin dianggap hebat jika suaranya paling keras dan perintahnya tak boleh dibantah. Di banyak organisasi, termasuk organisasi mahasiswa, pola itu masih bertahan: senior bicara, junior mengangguk. Pertanyaan itulah yang mendasari cara kami menyusun Latihan Dasar Kepemimpinan Organisasi (LDKO) ke-XVII Himpunan Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang (HMM-UNPAM).

Kegiatan yang berlangsung di Villa Sambora, Tangerang Selatan, pada 17-19 April 2026 ini diikuti 64 mahasiswa semester 1 hingga 4. Tema yang kami usung adalah “Membentuk Nilai Kepemimpinan Inklusif, Beretika, dan Adaptif dalam Membangun Generasi Pemimpin yang Visioner.”

Dokumentasi ketika sesi materi pelatihan LDKO

Mengapa Otoriter Tidak Lagi Cukup

Kepemimpinan otoriter memang cepat mengambil keputusan, tetapi harganya mahal. Anggota berhenti berpendapat, kreativitas padam, dan organisasi bergantung pada satu orang. Begitu pemimpinnya pergi, arah organisasi ikut goyah.

Mahasiswa hari ini juga terbiasa berdiskusi terbuka dan mempertanyakan alasan di balik sebuah keputusan. Pemimpin yang hanya mengandalkan jabatan akan sulit mendapat kepercayaan. Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang mampu menjelaskan, mendengar, lalu menggerakkan.

Tiga Nilai yang Kami Pegang

Inklusif. Organisasi kuat bukan karena semua orang seragam, tetapi karena semua merasa dilibatkan.

Beretika. Kewenangan tanpa etika mudah berubah menjadi penyalahgunaan kekuasaan. Latihannya dimulai dari hal kecil: transparan dalam keputusan, adil membagi tugas, dan berani mengakui kesalahan.

Adaptif. Tantangan berubah cepat. Pemimpin yang adaptif mau belajar dan menyesuaikan strategi tanpa kehilangan nilai dasarnya.

Dokumentasi kegiatan praktik lapangan dalam Latihan Dasar Kepemimpinan Organisasi (LDKO) mahasiswa. (Dok. Pribadi)

Penutup

Organisasi kemahasiswaan adalah laboratorium paling aman untuk belajar memimpin, karena kesalahan di sini masih bisa menjadi pelajaran. Bagi 64 kader muda HMM-UNPAM, LDKO XVII baru permulaan. Ujian sesungguhnya ada di ruang rapat, di program kerja, dan di cara mereka memperlakukan sesama anggota. Jika nilai inklusif, beretika, dan adaptif benar-benar dipraktikkan, zaman pemimpin otoriter memang sudah selayaknya ditinggalkan.

Penulis: Muhamad Teguh Prayuga