Pasar Bagus, Modal Cukup, tapi Bisnis Tetap Gagal. Kenapa?

Mahasiswa Sarjana di Universitas Pamulang, dengan Jurusan Prodi Manajemen yang ingin berbagi ilmu pengetahuan atau berita yang ingin saya publikasikan di media ini.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhamad Teguh Prayuga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Struktur organisasi dan manajemen SDM sering jadi penentu bisnis tetap gagal atau bertahan

Cerita seperti ini sebenarnya cukup umum. Dan menurut saya, penyebabnya ada pada cara kita menyusun studi kelayakan bisnis.
Pernah punya teman yang buka usaha dengan pasar bagus, modal cukup, dan hitungan untung yang tampak sempurna? Tapi beberapa bulan kemudian bisnis tetap gagal. Bukan karena sepi pembeli atau uang habis, melainkan karena urusan yang sering luput: siapa mengerjakan apa, dan siapa yang bertanggung jawab atas apa.Yang paling sering jadi penentu: struktur organisasi
Dari beberapa studi yang saya baca, satu indikator muncul paling konsisten, yaitu struktur organisasi yang jelas dan proporsional. Kedengarannya teknis, tapi bayangkan saja akibatnya kalau tidak ada. Tugas tumpang tindih, wewenang tidak jelas, dan alur koordinasi kusut. Ujungnya, kerja jadi lambat dan saling lempar tanggung jawab, padahal bisnisnya sendiri sebenarnya layak.
Sebuah studi pada CV Cahaya Berkat Bersama, misalnya, menilai usaha tersebut layak dari sisi manajemen karena tersedia struktur organisasi yang menunjang kegiatan usaha, plus tenaga kerja yang sesuai kebutuhan. Sebaliknya, studi kelayakan pada UMKM makanan menemukan bahwa struktur manajemen yang belum teratur menjadi tantangan utama yang meningkatkan risiko gagal.
Rekrutmen bukan sekadar mengisi kursi kosong
Hal kedua adalah soal orang. Penelitian pada UMKM Dewi-Dewi Handycraft menunjukkan bahwa kelayakan tidak hanya dilihat dari ada atau tidaknya tenaga kerja, tapi juga dari kemampuan merekrut orang yang sesuai dengan deskripsi dan spesifikasi pekerjaan. Jadi merekrut itu bukan cuma soal “yang penting ada yang kerja”, melainkan memastikan kompetensi orangnya cocok dengan kebutuhan usaha.
Masalahnya beda-beda tergantung skala usaha
Yang menarik, tantangannya ternyata tidak sama di setiap skala. Di UMKM, persoalan paling mendasar adalah belum adanya sistem manajemen dasar yang rapi. Sementara di industri yang lebih besar, seperti perbankan syariah, tenaga kerja umumnya cukup tersedia, tetapi pengelolaannya jadi rumit di wilayah yang permintaannya lebih tinggi. Artinya, semakin besar usaha, semakin kompleks pula urusan SDM-nya: bukan hanya soal cukup atau tidaknya orang, tetapi juga soal pemerataan dan efisiensinya di banyak cabang.
Dari situ saya berpendapat bahwa menilai aspek manajemen dan SDM tidak bisa dengan satu patokan untuk semua. Penilaiannya perlu menyesuaikan skala dan tahap perkembangan usaha, bukan sekadar mencentang daftar syarat administratif.
Lalu apa yang bisa dilakukan?
Untuk pelaku UMKM, susunlah struktur organisasi dan pembagian tugas sejak awal, meskipun usahanya masih kecil dan karyawannya baru dua atau tiga orang. Kejelasan sejak dini jauh lebih murah dibanding membereskan kekacauan belakangan.
Untuk perusahaan yang lebih besar, perkuat sistem pengelolaan SDM agar kebutuhan tenaga kerja terpenuhi merata di semua unit dan wilayah.
Dan bagi siapa pun yang menyusun studi kelayakan bisnis, jangan lagi menganggap aspek ini pelengkap. Kedudukannya setara dengan aspek pasar dan keuangan dalam menentukan keputusan investasi.
Kesimpulan
Hitungan pasar dan keuangan yang bagus memang penting. Tapi bisnis dijalankan oleh manusia, dan manusia butuh struktur yang jelas dan sistem yang mendukung. Tanpa itu, rencana yang tampak menjanjikan pun berisiko berhenti di tengah jalan.
