Bahaya Doom Scrolling: Saat Berita Negatif Merusak Kesehatan Mental dan Tidur

Pelajar di Sekolah Ciputra Kasih Surabaya
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ossa Gabriel tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada era digital ini banyak sekali orang yang memiliki kebiasaan menikmati berita berita negatif dari media sosial atau yang dikenal sebagai doom scrolling. Tanpa sadar perilaku ini telah menyebar ke semua orang mulai dari anak kecil hingga orang dewasa, jika dibiarkan terus berlanjut doom scrolling dapat membawa dampak buruk yang luas bagi kehidupan seorang individu, baik dari segi mental, fisik, maupun hubungan sosial. Oleh karena itu bahayanya doom scrolling harus diwaspadai sebelum semakin parah.
Pertama, doom scrolling merusak kesehatan mental karena memicu hormon stres yang berlebihan dan berujung pada depresi. Terkena informasi negatif secara terus menerus akan memaksa otak bekerja lebih keras dalam merespons potensi ancaman. Menurut Anand Dalkan (2024), kebiasaan doom scrolling terbukti secara signifikan memicu existential anxiety atau rasa panik berlebih akan masa depan serta penurunan tingkat kesehatan mental. Akibatnya remaja atau orang dewasa menjadi lebih mudah merasa kesusahan untuk fokus, cemas, dan kehilangan ketenangan dalam saat sedang melakukan aktivitas harian.
Selanjutnya, kebiasaan buruk ini mengganggu kesehatan fisik terutama kualitas tidur. Paparan sinar biru layar ponsel yang dipadukan dengan pemikiran saat membaca berita negatif di malam hari dapat menghambat produksi hormon melatonin. Penelitian dari American Academy of Sleep Medicine (2024) menunjukkan bahwa sebanyak 38% orang dewasa dan 46% remaja mengalami gangguan tidur mendalam akibat kebiasaan mengonsumsi berita sebelum tidur. Dampaknya, tubuh mengalami kelelahan parah terutama pada siang hari yang berisiko menurunkan daya tahan tubuh.
Selain dampak internal, doom scrolling juga merusak kualitas hubungan sosial dan interaksi tatap muka di dunia nyata. Waktu dan energi emosional seseorang akan habis untuk menanggapi informasi negatif di media sosial, sehingga mereka kehilangan kehadiran emosional saat berinteraksi dengan orang sekitar. Berdasarkan survei dari Morning Consult (2024), sebanyak 51% Gen Z dan 46% Milenial tercatat aktif terjebak dalam kebiasaan ini. Persentase yang tinggi pada usia produktif tersebut memperlihatkan bagaimana doom scrolling perlahan mengurung seseorang dari lingkungan sosialnya.
Secara keseluruhan, doom scrolling pasti membawa dampak negatif bagi kesehatan mental, kondisi fisik, hingga kualitas interaksi sosial masyarakat. Perilaku ini bukan lagi sekadar kebiasaan buruk, tapi juga ancaman yang dapat menurunkan kualitas hidup seseorang secara bertahap. Oleh karena itu, screen time sangat penting untuk dilakukan demi menghindari kecanduan doom scrolling.
