Konten dari Pengguna

Benarkah Lebih Banyak Screen Time Membuat Remaja Lebih Cerdas?

Ashrifurrahman

Ashrifurrahman

Dosen Departemen Biologi, FMIPA, Universitas Andalas

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ashrifurrahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar 1. Ilustrasi kegiatan aktifitas fisik dan Screen time (Sumber: generate GPT)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar 1. Ilustrasi kegiatan aktifitas fisik dan Screen time (Sumber: generate GPT)

Penelitian terbaru dalam Pediatric Exercise Science mengungkapkan temuan menarik mengenai hubungan antara aktivitas fisik, waktu sedentari, penggunaan layar, dan kemampuan kognitif pada remaja.

Studi yang merupakan bagian dari PANIC Study (Physical Activity and Nutrition in Children) di Finlandia ini mengikuti anak-anak selama sekitar delapan tahun, sejak masa kanak-kanak hingga remaja. Para peneliti kemudian melihat apakah kebiasaan aktivitas fisik dan penggunaan layar selama periode tersebut berkaitan dengan kemampuan kognitif saat remaja.

Penelitian ini melibatkan 260 remaja dengan usia rata-rata sekitar 15,8 tahun. Aktivitas fisik dan waktu sedentari diukur menggunakan perangkat dan kuesioner, sedangkan kemampuan kognitif dinilai menggunakan tes CogState.

Hasilnya cukup mengejutkan. Screen time yang lebih tinggi sejak masa kanak-kanak hingga remaja berhubungan dengan waktu reaksi yang lebih cepat pada beberapa tugas memori kerja dan kemampuan kognisi keseluruhan yang lebih baik. Sebaliknya, aktivitas fisik tanpa pengawasan yang lebih tinggi justru berhubungan dengan akurasi yang lebih rendah pada salah satu tugas memori kerja.

Temuan ini tentu terlihat bertentangan dengan anggapan umum bahwa semakin banyak waktu di depan layar, semakin buruk kemampuan otak. Namun, peneliti menegaskan bahwa hasil tersebut hanya menunjukkan hubungan, bukan bahwa penggunaan layar menyebabkan seseorang menjadi lebih cerdas.

Salah satu kemungkinan adalah karena screen time tidak selalu berarti aktivitas yang sama. Waktu di depan layar dapat digunakan untuk belajar, membaca, bermain gim, menonton video, maupun berkomunikasi. Karena itu, jenis dan konteks aktivitas mungkin lebih penting daripada sekadar menghitung lamanya penggunaan layar.

Menariknya, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa hubungan aktivitas fisik dengan kognisi dapat berbeda berdasarkan jenis kelamin dan cara pengukuran. Aktivitas fisik ringan yang diukur berhubungan dengan memori kerja yang lebih baik pada remaja perempuan, tetapi tidak pada laki-laki.

Meski demikian, hasil penelitian ini bukan berarti anak sebaiknya menghabiskan lebih banyak waktu screentime. Kemampuan kognitif peserta hanya diukur pada masa remaja, sehingga penelitian ini belum dapat memastikan hubungan sebab-akibat. Peneliti juga menekankan perlunya penelitian lanjutan dengan pengukuran aktivitas dan kognisi yang dilakukan berulang sejak masa kanak-kanak hingga dewasa.

Kesimpulannya, penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan antara screen time, aktivitas fisik, dan kemampuan kognitif ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar mengatakan bahwa layar selalu buruk atau aktivitas fisik selalu meningkatkan kognisi. Yang perlu diperhatikan bukan hanya berapa lama anak menggunakan layar, tetapi juga apa yang dilakukan selama waktu tersebut, dan apa aktifitas yang menyelingi kegiatan tersebut.