Kumparan Logo
pengenalan Sekolah Garuda di SMA Negeri Unggulan MH Thamrin
Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar di SMAN MH Thamrin, Bambu Apus, Jakarta Timur, Rabu (7/10/2025).

Berjuang Menembus Kampus Dunia dari Bangku SMA

kumparanPLUSverified-green

·waktu baca 12 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Yumna Afifah saat field trip kampusnya ke Lyme Regis Geological Site di Dorset, barat daya Inggris. Foto: Dok. Yumna Afifah
zoom-in-whitePerbesar
Yumna Afifah saat field trip kampusnya ke Lyme Regis Geological Site di Dorset, barat daya Inggris. Foto: Dok. Yumna Afifah

Bagi banyak siswa SMA, mimpi kuliah di luar negeri sering kali terasa seperti angan-angan. Begitu pula yang ada di benak Yumna Afifah saat pertama kali menginjakkan kaki di SMA Pradita Dirgantara, Boyolali, Jawa Tengah, empat tahun lalu.

Berasal dari keluarga dengan latar belakang Pegawai Negeri Sipil, Yumna sempat berpikir mimpinya mungkin hanya akan mentok di kampus domestik alias Perguruan Tinggi Negeri, atau paling jauh ke Singapura. Yumna menulis mimpi sederhana itu di atas kertas berjudul vision board yang dibagikan pihak sekolah ke murid-murid baru.

“Dulu dari SMP aku bayanginnya [kuliah] di PTN, karena waktu SMP di sekolah kurikulum nasional. Setinggi-tingginya aku mimpi, paling ke NTU (Nanyang Technological University) atau NUS (National University of Singapore), karena yang dekat sama Indonesia kan Singapura,” cerita Yumna kepada kumparan, Jumat (24/4).

Seiring waktu, lingkungan sekolah perlahan-lahan mengubah paradigmanya. Sejak awal masuk, para siswa yang mengikuti Student Induction Program (semacam program pengenalan siswa baru) selama empat bulan sudah dikenalkan dengan kurikulum International Baccalaureate (IB) yang menjadi standar internasional. Dari situ, pandangan Yumna mengenai kesempatan berkuliah di luar negeri mulai terbuka.

Daftar isi

National University of Singapore. Foto: Facebook National University of Singapore

Motivasi Yumna semakin berlipat ganda ketika melihat kakak kelas angkatan ketiga dan keempat di sekolahnya mulai mendapat Letter of Acceptance (LoA) alias lolos seleksi di kampus-kampus ternama dunia, baik di Australia, Amerika Serikat, atau Kanada. Tren itu pun berlanjut di angkatannya.

“Di angkatan aku, studying abroad sudah jadi tren yang besar banget. Bahkan anak-anak yang [latar belakang orang tuanya] militer akhirnya coba apply buat study abroad,” kata Yumna.

Jelang akhir kelas 10, Yumna mengerucutkan pilihannya pada jurusan geologi di Inggris. Ketertarikannya pada geologi bukan kebetulan. Ayahnya merupakan lulusan Geologi UGM yang sempat menempuh studi S-2 di Italia. Sejak awal, sang ayah mendukung penuh Yumna. Apalagi ia juga aktif ikut Olimpiade Sains Nasional (OSN) Kebumian.

Pilihan memasang target studi ke Inggris pun berdasarkan analisis soal karakter belajar Yumna. Ia merasa Inggris menawarkan intensitas akademik yang sesuai dengan kepribadiannya.

“UK itu sangat academic intense dan saya sendiri lebih ke academic intense instead of like trying new things or exploring like extracurriculars... Aku lebih pengen fokus ke satu jalur,” ujarnya.

Yumna Afifah, alumni SMA Pradita Dirgantara 2025 yang kuliah S-1 Geologi di Imperial College London. Foto: Dok. Yumna Afifah

Perjalanan Yumna menuju kampus internasional semakin mulus saat ia mendapat Beasiswa Indonesia Maju (BIM) Program Persiapan S1 Luar Negeri. Di sini, ia bertemu teman-teman satu angkatan lain yang memiliki ambisi serupa. Melalui BIM Persiapan, ia juga tak perlu lagi mengikuti bimbingan belajar berbayar, sebab BIM persiapan telah memfasilitasi les SAT (Scholastic Assessment Test), IELTS, hingga webinar dengan berbagai agen pendidikan.

Yumna akhirnya memilih Imperial College London sebagai kampus tujuannya, walau sebenarnya hati kecilnya menginginkan Oxford. Yumna bercerita, seminggu sebelum ia mengirimkan aplikasi pendaftaran ke Imperial, secara mengejutkan nilai-nilainya ternyata mencukupi untuk mencoba keberuntungan di Universitas Oxford.

After much contemplation, terus nanya-nanya counselor juga, terus kata mereka why not? Jadi first choice aku itu Oxford, tapi karena di-reject, enggak dapat, jadinya ke Imperial,” kata Yumna.

Imperial College London tak kalah bergengsi dibanding Oxford. Imperial menempati posisi kedua di dunia menurut QS World University Rankings dan peringkat 21 dunia untuk subjek Geologi. Kini Yumna tengah menjalani kuliahnya di Imperial College London dengan beasiswa BIM. Seluruh biaya kuliah (tuition) dan biaya hidup (allowance) ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah Indonesia.

Di luar Imperial dan Oxford, Yumna juga mendaftar ke 10 kampus luar negeri lainnya, dan bahkan sempat mendapatkan LoA dari Wageningen University & Research (Belanda), University of New South Wales (Australia), University of Sussex (Inggris), hingga University of Hong Kong. Ia menaruh Wageningen dan kampus di Australia sebagai jaring pengaman karena tingkat penerimaannya lebih tinggi.

Siswa SMAN 8 Jakarta, Muhammad Rihad, diterima di Colorado School of Mines, AS. Foto: kumparan video

Berjuang dari Jalur Kurikulum Nasional

Perjuangan serupa ditapaki Muhammad Rihad Jilwah Susetyo, siswa kelas 12 SMAN 8 Jakarta. Jika Yumna menempuh jalur kurikulum IB, Rihad berjuang melalui jalur kurikulum nasional (Kurikulum Merdeka) di sekolah yang dikenal sebagai salah satu yang terbaik di Jakarta itu. Rihad berhasil mendapatkan lima LoA dari kampus-kampus top di Amerika Serikat, Kanada, dan Australia.

Pilihan utama Rihad pun jatuh ke Colorado School of Mines di Amerika Serikat, kampus bergengsi di bidang pertambangan.

“Kebetulan minat aku di bidang energi. Kalau nggak perminyakan, ya pertambangan,” ujar Rihad penuh semangat.

Bagi Rihad, dorongan untuk kuliah di luar negeri berasal dari orang tuanya yang sangat memprioritaskan pendidikan. Sejak SMP, ia sudah tertarik pada bidang pertambangan, namun tekad untuk ke luar negeri baru benar-benar bulat saat ia duduk di kelas 11 semester satu. Rihad sadar persiapan untuk kuliah di luar negeri harus dimulai jauh lebih awal dibandingkan teman-temannya yang mengincar PTN.

“Teman-teman saya mayoritas yang daftar PTN itu startnya bisa di kelas 12 awal, sementara saya harus start dari kelas 11 awal karena mayoritas kampus [luar negeri] sudah buka pendaftaran waktu kelas 11 akhir,” jelas Rihad.

Ilustrasi rapor. Foto: Shutterstock

Untuk mendukung mimpinya, atas arahan guru BK, Rihad mengambil jurusan IPA murni di kelas 11 agar nilai-nilainya aman saat mendaftar ke kampus luar negeri. Rapornya pun harus dikurasi oleh World Education Services (WES) untuk menyetarakan nilainya dengan sistem GPA di Amerika Serikat.

“Jadi semisal nilai 90 di SMA 8, bukan berarti 90 di luar negeri. Jadi dimasukin ke scale-nya Amerika,” kata Rihad.

Belum lagi kesibukan Rihad sebagai pengurus OSIS SMAN 8 Jakarta yang menuntutnya harus memiliki manajemen waktu yang sangat baik. Ia kerap baru bisa tidur di atas jam 11 malam setelah menyelesaikan urusan organisasi dan akademik.

“Kalau ada agenda organisasi, sekolah sampai jam 3 sore, ada persiapan PTLN (Perguruan Tinggi Luar Negeri), ada pula kadang-kadang ulangan, saya lebih lembur lagi. Tapi saya enjoy buat jalanin itu semua,” ujar Rihad.

Usaha Rihad berjuang menembus Colorado School of Mines menjadi kebanggaan luar biasa bagi ayahnya yang dulu anggota Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) ITB. Sang ayah selalu bermimpi bisa menempuh S-2 di Colorado School of Mines, dan kini sang anak justru berhasil menembusnya sejak jenjang S-1.

“Bapak saya tentu bangga anaknya bisa keterima S-1 di Colorado School of Mines, dan kakak saya di Curtin University (Australia) jurusan pertambangan juga,” kata Rihad yang akan mulai berkuliah Agustus nanti.

Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar di SMAN MH Thamrin, Jakarta Timur, Rabu (7/10/2025). Foto: Darryl Ramadhan/kumparan

Terinspirasi dari Kisah Alumni

Inspirasi untuk berkuliah ke luar negeri juga didapat lima siswa kelas 11 SMAN Unggulan MH Thamrin (SMANU MHT) Jakarta. Di sekolah ini, terdapat Hall of Fame yang memajang prestasi para alumni yang berhasil menembus universitas dunia seperti Oxford dan Stanford. Tempat inilah yang membakar semangat Dasha Oriana, Athalia Arghiyanti, Keisha Valiqa Pasha, Joshua Arya Pandhita Sitorus, dan Teuku Zharif Naraja Jacoeb.

“Mereka semua jadi inspirasi buat aku. Karena aku di sekolah yang sama dengan orang-orang itu. Mereka alumni aku. Kalau mereka bisa, aku juga bisa,” ujar Joshua yang mengincar Delft University di Belanda untuk jurusan Computer Science.

Keisha pun merasakan hal yang sama. Baginya, melihat nama alumni di Hall of Fame adalah bukti bahwa mimpi tersebut nyata dan bisa dicapai. Ia menargetkan University of Toronto di Kanada karena reputasi jurusan Computer Engineering-nya sangat baik.

Namun, jalan menuju kampus top dunia tidaklah mudah. Mereka harus berjibaku dengan kurikulum Cambridge A Level yang sangat menantang.

(Kiri ke kanan) Joshua Arya, Keisha Valiqa, Athalia Arghiyanti, Dasha Oriana, dan Teuku Zharif Naraja. Mereka murid SMAN Unggulan MHT. Foto: kumparan video

“Cambridge A Level menurut aku yang paling susah. Soalnya itu beda kurikulum sama Indonesia. Jadi harus belajar yang baru, yang banyak, dan exam-nya lumayan susah,” tutur Zharif yang berambisi masuk NTU Singapura.

Athalia yang ingin mengambil jurusan Biomedical Engineering di NUS Singapura bahkan harus mempersiapkan ujian tambahan seperti UCAT (University Clinical Aptitude Test) untuk program medis. Ia meluangkan waktu belajar mandiri hingga lima jam sehari di luar jam sekolah.

“Selain A Level yang susah… juga ada research publications yang persyaratannya ribet banget,” ucap Athalia.

Sementara Dasha yang tertarik masuk University of Edinburgh di Skotlandia mulai mempersiapkan portofolio ekstrakurikuler dan riset sejak dini. Ia menyadari universitas tujuannya sangat menghargai pengalaman riset.

Kegiatan belajar mengajar di SMAN MH Thamrin. Foto: Darryl Ramadhan/kumparan

Bersekolah di SMANU MHT yang menerapkan kehidupan asrama, secara tak langsung melatih kemandirian mereka. Meski ada ketakutan akan rasisme di luar negeri, atau khawatir didera rasa rindu rumah (homesick), atau waswas dengan perbedaan lingkungan sosial di negara tujuan studi mereka, para siswa tersebut tetap optimistis.

“Satu hal yang aku takutin adalah homesick. Tapi back again, kita sekarang ada teknologi. We can do video calls, we can do Zoom meetings, and else,” ujar Athalia.

Setiap hari, mereka menjalani rutinitas yang padat. Di luar jam kegiatan belajar mengajar (KBM), mereka punya sesi Tutor Malam (Tumal) pada Selasa dan Kamis dari pukul 19.45 hingga 21.15. Selanjutnya, mereka masih melanjutkan sesi belajar mandiri demi mimpi kuliah di luar negeri.

“Mungkin sekitar 3–4 jam sehari belajar di luar jam KBM,” kata Joshua.

Perjuangan ketujuh siswa ini—Yumna, Rihad, Dasha, Athalia, Keisha, Joshua, dan Zharif—menunjukkan bahwa faktor-faktor yang bisa mewujudkan keinginan kuliah di luar negeri adalah kombinasi antara cita-cita, keberanian, tekad, riset mendalam soal studi yang diinginkan, dan kerja keras.

“Tips yang pertama: jangan takut bermimpi… Nobody is going to judge you kalau kamu mimpi setinggi mungkin,” tegas Yumna.

“Enggak ada yang mustahil,” kata Joshua yang berprinsip studi ke luar negeri harus diperjuangkan, bukan sekadar dibayangkan.

Mahasiswa berpose saat wisuda ke-374 Universitas Harvard di Massachusetts, AS, Rabu (28/5/2025). Foto: Brian Snyder/Reuters

Persiapan Sejak Dini

Kuliah di luar negeri memang bukan sekadar impian bagi anak-anak dari keluarga yang memiliki kemampuan finansial lebih. Melalui beasiswa Garuda, pintu menuju universitas-universitas terbaik dunia pun terbuka bagi siapa pun yang berprestasi, terlepas dari latar belakang ekonomi keluarganya.

Namun, perlu diingat bahwa menembus ketatnya persaingan universitas top dunia membutuhkan strategi yang matang, persiapan sedini mungkin, dan ketahanan mental yang luar biasa.

Study Abroad Counsellor dari Kobi Education, Wildan A Syukur, menjelaskan ada lima faktor utama yang menjadi dasar penilaian universitas di luar negeri. Kelima faktor ini harus dipersiapkan secara seimbang agar profil siswa terlihat menonjol dibanding kandidat lain.

“Yang pertama tentu akademik. Itu dilihat dari nilai rapor, juga performa akademik di sekolah. Yang kedua, faktor non-akademik. Itu dilihat dari prestasi pendukung, misalkan pernah/sering ikut lomba atau kegiatan lain,” ujar Wildan.

Tiga faktor berikutnya adalah standardized test seperti skor IELTS dan SAT; motivasi studi yang dituangkan dalam esai atau personal statement; serta surat rekomendasi.

Siswa belajar sebelum mengikuti ujian Tes Kemampuan Akademik (TKA) di SMP Negeri 61 Jakarta, Selasa (7/6/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA

Wildan menekankan, pembiasaan akademik dan non-akademik sebaiknya dimulai sejak SMP. Meski penilaian resmi dimulai dari kelas 10 SMA, rekam jejak sejak kelas 9 SMP sering kali diminta oleh beberapa universitas di Jepang, Hong Kong, Singapura, hingga Kanada karena masa pendaftaran dibuka sebelum nilai kelas 12 keluar.

Wildan memberikan gambaran mengenai mata pelajaran yang paling diperhatikan oleh universitas. Ia menegaskan, “Yang menjadi nilai utama itu biasanya matematika, bahasa Inggris, dan peminatan IPA atau IPS.”

Nilai-nilai tersebut harus dijaga konsistensinya sejak kelas 10 hingga kelas 12. Widowaty Hanumtyas, Branch Coordinator SUN Education Cabang Pondok Indah, menambahkan bahwa persiapan akademik harus dibarengi penentuan target negara dan universitas yang jelas sejak awal. Pelajar disarankan tidak hanya terpaku pada satu pilihan.

“Mau ke sekolah mana, negara mana, itu juga sudah harus di-setup dari awal. Kita harus punya Plan A, Plan B, Plan C,” ujar Widowaty.

Rangkaian strategi ini penting karena setiap negara dan universitas memiliki persyaratan yang berbeda.

Ilustrasi pelajar SMA. Foto: Shutterstock

Menurut Widowaty, biasanya salah satu kekhawatiran terbesar pelajar Indonesia adalah soal kurikulum. Banyak yang menganggap kurikulum nasional akan menyulitkan mereka masuk ke universitas top. Namun Widowaty menepis anggapan tersebut. Menurutnya, kurikulum nasional tetap bisa digunakan, asalkan pelajar tahu cara menyiasatinya.

Widowaty melanjutkan, para calon siswa juga harus mempersiapkan kemampuan Bahasa Inggris sebagai syarat mutlak. Namun, kemampuan bahasa bukan sekadar skor IELTS atau TOEFL, melainkan kemampuan berkomunikasi secara efektif dan kemampuan menulis akademik. Widowaty menyarankan agar persiapan bahasa dimulai sejak dini, misalnya dari kelas 9 atau 10.

“Jangan lupa untuk selalu belajar menulis, belajar research, karena hal itu sangat penting untuk sekolah di luar negeri,” kata Widowaty. Bahkan untuk negara seperti Amerika Serikat dan Inggris, kemampuan menulis esai berisi cerita mengenai jati diri siswa sangat menentukan.

Wildan dari Kobi Education memberikan patokan skor bahasa yang aman. Mayoritas universitas meminta skor IELTS minimal 6,5 untuk jenjang S-1. Namun pada universitas tertentu, syaratnya minimal 7.

Siswa mengerjakan soal ujian TKA di SMP Negeri 61 Jakarta. Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA

Jaga Nilai Rata-Rata Rapor

Menurut Wildan, skor IELTS bisa dikejar dengan bimbingan khusus. Yang terpenting, siswa memiliki nilai rapor rata-rata yang apik dari kelas 10 sampai 12. Standar nilai rapor di tiap negara berbeda-beda. Bagi universitas peringkat tinggi, rata-rata nilai minimal rapor adalah 90. Namun, ada juga peluang bagi mereka yang memiliki nilai rapor di angka 80-an.

“Angka 85–87 minimal banget. Kalau mau menargetkan kampus yang peringkatnya lebih tinggi, tentu 90. Kalau misal asal ke luar negeri, kuliah dengan beasiswa random apa pun, atau misalkan beasiswa dari kampus parsial, ya 82–83 sudah aman,” papar Wildan.

Ada pula negara yang sangat fleksibel seperti Hungaria yang tidak mensyaratkan murid untuk mencantumkan nilai minimum rapor secara gamblang. Di sisi lain, negara-negara di Timur Tengah seperti Qatar dan Arab Saudi memiliki standar yang sangat tinggi, dengan rata-rata nilai rapor minimal 98.

Di luar kemampuan akademik, ketangguhan mental atau resilience sangat dibutuhkan bila ingin berjuang lolos S-1 di luar negeri. Wildan menekankan, proses persiapan studi makan waktu panjang dan melelahkan. Pelajar harus mampu menyeimbangkan beban sekolah dengan persiapan tes internasional. Selain itu, leadership potential atau potensi kepemimpinan menjadi nilai tambah yang sangat dihargai universitas luar negeri.

“Banyak sebenarnya kegiatan yang bisa menunjukkan leadership tersebut. Di luar sekolah juga kegiatan volunteering, community service, bahkan kalau di daerah sekitar rumah [tempat tinggal] itu ada Karang Taruna,” kata Wildan.

Wakepsek SMAN MHT Arif Nur Ridwan. Foto: kumparan

Perlu Dukungan Sekolah

Di luar itu semua, sekolah punya peran besar dalam mendukung ambisi siswa. Ubaidillah, Kepala SMAN 8 Jakarta, mengatakan sekolahnya aktif memfasilitasi siswa yang ingin ke luar negeri melalui kegiatan Edufair tiap akhir tahun.

Senada, SMANU MHT juga memberikan informasi mengenai kampus-kampus luar negeri ke murid-muridnya sejak mereka kelas 10. Arif Nur Ridwan, Wakil Kepala SMANU MHT, menjelaskan bahwa guru bimbingan konseling berperan dalam memetakan siswa yang ingin ke luar negeri.

Arif menekankan, pilihan kuliah ke luar negeri harus berasal dari keinginan anak, bukan orang tua.

“Nanti anaknya berat apabila dia [merasa] tidak cocok di PTLN, tapi dipaksakan ke PTLN,” kata Arif.

Peluang bagi siswa SMA yang ingin kuliah di luar negeri kini lebih terbuka, bukan hanya untuk murid sekolah unggulan. Beasiswa Garuda dan Beasiswa Talenta Indonesia misalnya dikhususkan bagi siswa-siswi pemenang Olimpiade Sains Nasional (OSN).

“Artinya peluang beasiswa itu lebih besar, dan kami yakin sekolah atau siswa lain juga bisa asal mereka sudah persiapan dari awal,” tegasnya.

Program beasiswa IISMA memungkinkan mahasiswa kuliah gratis satu semester di luar negeri. Foto: Dok Kemendikbudristek

Widowaty dari SUN Education menambahkan, biaya bukan lagi halangan mutlak karena adanya berbagai jalur beasiswa atau skema pengurangan biaya. Ada universitas luar negeri yang membuka cabang di Indonesia; ada pula program di mana tahun pertama kuliah dijalani di Indonesia untuk mengurangi biaya hidup.

“Pastikan bahwa PTLN yang kamu tuju adalah PTLN yang kamu inginkan. Jangan mengejar gengsi—memilih PTLN tinggi tapi yang [jurusannya] tidak diinginkan ataupun tidak sesuai dengan kemampuan,” tutup Arif.