Konten dari Pengguna

Bisakah Abu Batubara Berubah Menjadi Pupuk? Refleksi Studi Konversi Coal Ash

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azkia Nayla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Abu hasil pembakaran batubara biasanya terdengar seperti akhir dari sebuah proses.

Batubara dibakar untuk menghasilkan listrik. Energinya digunakan, sementara sisanya menjadi fly ash dan bottom ash atau FABA.

Tetapi bagaimana jika “sisa” tersebut sebenarnya belum benar-benar selesai?

Di PLTU Paiton, Jawa Timur, persoalannya bukan dalam skala kecil. Sistem pembangkit tersebut diperkirakan menghasilkan sekitar 700 ton FABA setiap hari, dengan timbunan lama yang telah mencapai sekitar 1 juta ton. Pada saat yang sama, material ini sebenarnya masih mengandung mineral seperti silika, alumina, dan kalsium yang memiliki nilai untuk penggunaan lain.

Gambar 1 Issue Tree Framework of FABA Underutilization at PT PLN NP UP Paiton

Karena itu, FABA mulai menarik untuk dilihat bukan hanya sebagai limbah, tetapi sebagai bahan baku sekunder.

Salah satu jalur yang dikaji adalah mengubah fly ash menjadi material pupuk kaya silikon, kalsium, dan kalium melalui proses hidrotermal.

Produk yang menjadi perhatian adalah F90, material kaya tobermorit yang berasal dari pengolahan fly ash. Xing dkk. (2025) melaporkan bahwa material tersebut dapat mengandung sekitar 16,19 persen silikon efektif, 20,45 persen kalsium efektif, dan 5,31 persen K₂O efektif.

Gambar 2 Flowsheet of Proposed FABA Valorization Pathway

Mengapa Unsur-Unsur Ini Menarik?

Kalsium dapat membantu memperbaiki tanah asam, sementara kalium merupakan salah satu unsur penting bagi tanaman. Silikon juga dapat memberikan manfaat bagi sejumlah tanaman tertentu.

Pada percobaan pot yang dirujuk dalam kajian tersebut, penambahan 1 persen F90 meningkatkan pH tanah dari 5,58 menjadi 6,90. Kapasitas tukar kation tanah juga meningkat, yang berarti tanah mempunyai kemampuan lebih baik dalam mempertahankan unsur hara (Xing dkk., 2025).

Respons tanaman juga menarik

Gambar 3 Differences in soil health, pakchoi stem length, and leaf frequency in pot experiment (Xing et al., 2025)

Setelah 50 hari, pakcoy yang tumbuh pada tanah dengan tambahan F90 menunjukkan peningkatan panjang batang dan akar, sementara biomassanya meningkat sekitar 41 persen dibandingkan kontrol dalam percobaan yang dirujuk (Xing dkk., 2025).

Namun, bukan berarti abu batubara dapat begitu saja ditebar ke sawah. Di sinilah perbedaannya penting.

Konsep ini tidak berbicara tentang mengambil FABA dari tempat penimbunan lalu menjadikannya pupuk secara langsung. Material harus melalui pengolahan, karakterisasi, dan pengujian agar unsur yang berguna dapat dimanfaatkan dengan risiko lingkungan yang tetap dikendalikan.

Bahkan dalam rancangan ini, bottom ash tidak diposisikan sebagai pupuk bebas pakai.

Studi Agustini dkk. (2017) menunjukkan bahwa kombinasi bottom ash dan kotoran sapi dapat meningkatkan pH tanah serta beberapa unsur hara pada tanah asam. Namun, aplikasi bottom ash juga dapat meningkatkan konsentrasi beberapa logam berat di tanah. Karena itu, pemanfaatannya harus disertai kontrol dosis, pengujian logam berat, dan pengawasan aplikasi.

Gambar 4 The combination effect of the coal bottom ash age, coal bottom ash dose, and cattlemanure dose on the amount of exchangeable K-Ca in soil (Agustini et al, 2017)

Pendekatan yang menarik justru muncul ketika satu aliran limbah dipecah menjadi beberapa produk.

Dalam rancangan ini, fly ash tidak hanya diarahkan menuju pupuk F90. Aluminium yang dipisahkan selama proses juga dapat dikembangkan menjadi gamma-alumina, material bernilai lebih tinggi yang dapat digunakan sebagai penyangga katalis pada industri.

Sementara itu, panas yang dibutuhkan dalam proses diusulkan berasal dari limbah pertanian seperti tongkol jagung dan sekam padi. Campuran biomassa tersebut ditujukan untuk menekan jejak karbon proses sekaligus membangun hubungan sirkular antara sektor energi dan pertanian.

Dengan demikian, sebuah material yang sebelumnya berhenti di tempat penimbunan dapat mempunyai beberapa kehidupan baru: sebagai pembenah tanah, bahan pupuk, dan sumber material industri.

Tentu perjalanan menuju aplikasi skala besar masih panjang.

Karakter FABA dapat berbeda antarpembangkit. Keamanan lingkungan harus diuji secara ketat. Kandungan logam berat tidak boleh diabaikan. Proses hidrotermal juga membutuhkan energi dan fasilitas pengolahan khusus.

Namun, gagasan dasarnya penting untuk ekonomi sirkular.

Selama ini, diskusi mengenai batubara sering berhenti pada dua hal: listrik yang dihasilkan dan emisi yang dilepaskan. Padahal, ada jutaan ton material padat yang tersisa setelah pembakaran dan tetap harus dikelola.

Jika sebagian material tersebut dapat diolah menjadi produk bernilai, maka pendekatannya berubah dari sekadar membuang limbah menjadi mengelola sumber daya.

FABA tidak otomatis menjadi pupuk, tetapi dengan pengolahan yang tepat, satu pertanyaan mulai layak diajukan: Apakah abu yang selama ini kita anggap sebagai akhir dari batubara justru bisa menjadi awal bagi sesuatu yang baru?