Burung Raja Udang Langka Menetas di Kebun Binatang, Spesies Sudah Punah di Alam
·waktu baca 3 menit

Seekor anak burung raja-udang Mikronesia (Todiramphus cinnamominus) berhasil menetas di San Antonio Zoo, Amerika Serikat. Penetasan ini menjadi harapan baru bagi spesies yang telah dinyatakan punah di alam liar.
Anak burung yang masih belum diberi nama ini tampak menggemaskan dengan ekspresi jutek-nya. Namun, keberadaannya sangat berarti, mengingat spesies ini sudah tidak lagi ditemukan di habitat aslinya.
Menetaskan anak burung dari spesies ini bukan perkara sederhana. Burung raja-udang Mikronesia, yang juga bisa disebut burung raja-udang Guam, terkenal sangat selektif dalam memilih pasangan.
Beruntung, induk dari anak burung ini berhasil berjodoh pada awal tahun 2026, yang kemudian diikuti dengan kelahiran sang anak. Kelahiran ini menjadi kabar baik di tengah sejarah kelam spesies tersebut selama sekitar 80 tahun terakhir.
Burung ini dulunya hanya ditemukan di Pulau Guam, Pasifik. Namun, populasinya menurun drastis akibat invasi ular pohon cokelat yang masuk melalui kontainer pengiriman pada 1940-an.
Penurunan populasi terjadi begitu cepat hingga spesies ini resmi dinyatakan punah di alam liar pada 1988. Sebelum kepunahan itu terjadi, para konservasionis telah mengambil langkah penyelamatan. Pada 1983, mereka meluncurkan program Guam Bird Rescue Project dengan memindahkan 29 burung tersisa ke dalam perawatan manusia.
Sejak saat itu, berbagai lembaga konservasi, termasuk Kebun Binatang San Antonio, terus berupaya menjaga dan mengembangkan populasi burung langka ini. Anak burung yang baru menetas ini merupakan yang pertama dalam lima tahun terakhir di kebun binatang tersebut, sekaligus menjadi individu ke-47 sejak pasangan pertama burung ini tiba pada 1985.
Presiden sekaligus CEO San Antonio Zoo, Tim Morrow, menyebut pencapaian ini sebagai bagian dari upaya panjang pelestarian spesies.
“Kami telah menjadi bagian dari perjalanan spesies ini selama lebih dari 40 tahun. Kelahiran ini melanjutkan komitmen kami untuk memastikan burung ini tidak hanya bertahan, tetapi juga suatu hari bisa kembali berkembang di alam liar,” ujarnya.
Upaya konservasi kini juga mulai menunjukkan perkembangan positif. Pada 2024, sembilan burung raja-udang Mikronesia dilepasliarkan ke Atol Palmyra, sebuah pulau terpencil bebas predator yang juga merupakan kawasan suaka margasatwa Amerika Serikat.
Namun, meski sudah dilepasliarkan, spesies ini masih dikategorikan punah di alam liar. Hal ini karena lokasi pelepasliaran berada jauh dari habitat aslinya di Guam, sekitar 6.000 kilometer.
Selain itu, proses pemulihan populasi membutuhkan waktu. Para ilmuwan masih terus memantau perkembangan burung-burung tersebut untuk memastikan mereka dapat bertahan dan berkembang secara mandiri.
Ada secercah harapan dari upaya ini. Pada April 2025, burung yang dilepasliarkan tersebut dilaporkan berhasil bertelur, menjadi kejadian pertama di alam liar dalam hampir 40 tahun. Kelahiran anak burung di Kebun Binatang San Antonio pun menjadi simbol penting bahwa spesies ini masih memiliki peluang untuk bangkit dari ambang kepunahan.
Meski jalannya panjang, langkah kecil seperti ini menjadi bukti bahwa upaya konservasi dapat membawa perubahan nyata bagi kelangsungan hidup spesies langka di dunia.
